Terbutakan Suasana



Malam penuh kelam kala tahun baru menyerang bumi tempatku dilahirkan, menempatkanku pada pojok hitam di ruangan bersudut empat banyaknya sendiri, tanpa satupun bayang menghampiri. 

Entah cahaya ataupun senyuman tawa di luar ruang itu hendak menerobos masuk, selalu saja ia dengan tegasnya menghadang. Saat kucoba untuk menertawakan diri sendiri dalam usaha mencapai tawa, tak satupun berhasil ada karena wajahnya yang tak kan pernah kau bayangkan itu muncul tanpa aba-aba.

Semakin biasa, kurasa memang hal ini adalah baik-baik saja, toh, nyatanya tak ada yang mencari dimana hembusan nafasku berada. Pun, kalau kupikir sendiri, keadaan ini hampir tiap hari dan sepertinya salah egoku saja yang menyalahkan tahun baru itu. 

Entah apa yang nantinya dapat kulihat dan rasakan dalam kehitaman, kuharap bukanlah sesuatu seperti 'nya'. Ya, wajah itu, wajah yang tak pernah kau bayangkan, karena aku sendiri pun tak pernah punya kesempatan untuk melihat matanya, hanya saja aku tahu suasana itu, ketika ia muncul.

Seperti pecahan angin, kerusakan tak kasat mata yang tak pernah dapat kuperbaiki semakin lama semakin bertumbuh. Rasa sesak yang dihasilkannya selalu membuatku berpikir apakah hari ini adalah hari yang terakhir. Mungkin hanya perasaanku saja, tetapi apa itu perasaan? Bukankah aku telah kehilangan rupanya sejak lama? Ya .. namun aku juga tak tahu apa yang pasti untuk saat ini. 

hhhhhhh...

Apakah semua hal ini? Bukankah aku ini seseorang yang ada? Namun, mengapa aku sendiri tak dapat mengekspresikan keberadaanku, bahkan dalam hal kecil sekalipun? Ya .. lagi-lagi mungkin bukannya aku yang tak merasa ada, tetapi merekalah yang tak pernah ada. Namun, jikalau aku dapat bertanya dalam kehitaman ini,

Adakah mereka? Seseorang dengan harapan di luar sana? 

0 comments