Aku pernah menyatakan pendapat, bahwasanya suatu masa atau period of time tidak akan semudah itu mengubah orang yang udah hidup selama masanya. Katakan 3 bulan seseorang tidak akan semudah itu mengubah dirinya yang sudah hidup selama 20 tahun dengan state dan virtue yang dia yakini. Iya, virtu, hal yang aku pelajari di mata kuliah Keamanan Personil. Sudah kuduga, kalau dengan kelekatan kata personil di dalam mata kuliah ini, pembahasan perihal manusia sebagai rantai terlemah dalam sistem keamanan pasti ada. Hal yang menurutku lucu adalah ketika dosenku membahas soal integritas di dalam virtu ini.
Virtu seseorang menunjukkan integritasnya. Sebagai contoh, seseorang yang virtunya adalah orang yang social butterfly, 24/7 selalu tersenyum no matter what, make the room brighter, haruslah memang selalu begitu, sama dengan seorang koruptor. Hah, koruptor? Iya. Koruptor yang memiliki virtu dan integritas adalah koruptor yang senantiasa korupsi, atau dalam lain konsisten, konsisten dengan apa yang dilakukan. AHAHAHA, menurutku lucu sih karena somehow, virtu akan menjadi virtu ketika dia konsisten, entah konsisten di sisi yang tidak sesuai atau sesuai.
Dari sinilah, walau waktu perkuliahan tersisa -10 menit, iya udah overtime, dan seharusnya kami melanjutkan kegiatan lain, otakku justru baru bekerja. Biasanya aku selalu memilih diam untuk kebanyakan mata kuliah, karena ya selain kadang aku merasa ngantuk, aku memilih untuk memfokuskan tenagaku untuk menyerap materi dibanding mengkritisi ilmu yang kudapat dan membandingkannya dengan prinsip-prinsip yang selama ini kupercaya. Mahasiswa ga kritis ya, gais. Maklum, 11 semester kuliah ini membuatku cukup jenuh dengan yang namanya 'kuliah'. Oke balik, dosenku menambahkan hal yang cukup kontras dengan virtu tadi. Bahwa, ketika berkoneksi dengan orang lain, orang yang udah mencapai puncak atau peak dari manusia sosial adalah mereka yang bisa ngobrol dengan siapapun.
Emang di mana letak kontrasnya? Ketika beliau berkata bahwa hal yang aku sebutin tadi bisa diraih ketika kita bisa fleksibel sebagai orang yang menyetujui dulu apa pun perkataan lawan bicara dan itu berlaku ke semua orang, jadi jangan kaku, ketika sama A, ya kamu A, sama B ya B. Langsung lah aku, entah kenapa juga ya aku merasa tersindir karena seringkali aku juga melakukan hal itu, 'Bukannya itu bearti mencerminkan orang itu plin plan, tidak ada virtu di dalam dirinya dan hanya ingin memperbanyak relasi untuk memuaskan ego sosialnya?' Yap, itu pertanyaanku, pertanyaan tentang aku.
Cukup terkejutnya beliau yang awalnya sudah prepare keluar kelas di dekat pintu, kembali masuk lagi ke tengah kelas kami. Beliau tertawa. 'Justru itulah manfaat virtu, kalau virtu kita jelas dan tembus pandang, di mana pun kita, apa pun itu, orang akan menghargai kita.' Aku masih tidak paham dan memasang muka tidak setuju. Beliau pun menambahkan, 'Dengan virtu, seperti cerita saya, saya bisa bergaul dengan orang peminum pemabuk dan tetap dihargai. Apakah ketika saya mengobrol dengan mereka, berdiskusi dan nyambung dengan mereka, menjadikan saya seorang peminum juga?'
Mungkin jawabanku tidak terlalu sesuai dengan pertanyaan beliau, 'Berarti di tahap apa kita tahu kita tetap bisa menyesuaikan kepribadian kita untuk membangun koneksi? Apakah tidak apa-apa?' Iya, pertanyaan kubalas dengan pertanyaan, beliau pun bertanya lagi, 'Orang berkoneksi, di tempatkan dalam keadaan yang sama, karna ada suatu tujuan, kalau dalam keadaan menuju tujuan itu dirasa sudah tidak sesuai, kan kita punya kontrol terhadap diri kita, iya bukan? Bisa distop atau dilanjut dengan risiko tertentu yang pastinya kita sudah memilih untuk menerimanya, setuju?' 'Kita bahas besok lagi ya, bisa 3 hari ini kalau lempar-lemparan, ahahaha,' tambahnya.
Aku pun jadi teringat pendapat yang kusebutkan di awal tadi. Bahwa aku sepertinya harus merevisi kalimatku. Durasi bukan hal utama dalam suatu perubahan manusia. People change over time, sering kan kita dengar frasa ini. Untukku, seorang INTJ yang selama tes kepribadian di platform mana pun hasilnya tetap INTJ, aku merasa sangat INTJ bahwa aku memang tidak berubah-ubah sepertinya. Adapun kalau DISC, aku seorang D yang kuat dan aku setuju karena apa pun masalahnya, otakku pasti akan selalu speak out about the problems, bahkan saat aku udah membuatnya complicated. Iya, cukup berbeda dengan orang-orang I yang menangani konflik dengan express their feelings.
Balik lagi, dua kali balik. Kalau bukan waktu lalu, apa? Menurutku, waktu masih penting walau bukan utama, karena ada apa di 'waktu' itulah yang paling utama. Diperlukan peristiwa atau variabel yang cukup besar, bukan sebesar Manhattan Project juga sih, untuk bisa memengaruhi perubahan seseorang. Mungkin kalau kalian membaca ini, kalian akan bertanya,
'Lalu, apabila seorang manusia tidak menemui peristiwa atau hal tersebut, apakah bearti dia tidak akan berubah?'
Balik lagi, tiga kali, ke bagaimana kita memaknai perubahan, apa definisi perubahan menurut kita, karena balik lagi, empat kali, manusia itu unik dengan segala hal yang ada di kepala dan hatinya, dengan apa yang dia pikirkan dan rasakan. Pada dasarnya, dengan apa yang kupercayai, manusia itu tidak pernah berhenti berkembang. Setiap momen yang dilewati sapiens-sapiens ini pastilah melewati suatu titik di dalam dirinya, melewati 'waktunya'. Jadi ya, manusia 'bisa' berkembang di setiap waktunya. Entah dari peristiwa yang dialami di kesehariannya, pengalaman yang bisa dirasakan untuk dijadikan suatu pembelajaran, hal-hal ini bisa jadi pemantik untuk berkembang sesuai dengan apa yang didapatkan. Ingat, setiap manusia itu unik, jadi input yang sama, peristiwa yang sama, belum tentu berpengaruh sama ke orang yang berbeda, walaupun misal mereka berada di satu tempat, satu waktu, dan satu peristiwa yang plek ketiplek sama. Iya, dengan kata lain, aku berkata bahwa untuk mengubah suatu kumpulan manusia, itu benar-benar effort yang besar.
Hal yang lebih effort lagi adalah untuk menghargai manusia. Mengerti manusia itu dengan menghargainya dengan lebih baik. Menghargai seorang manusia tanpa melihat dirinya yang sekarang tanpa membebaninya dengan versi lamanya. Bagaimana manusia bisa terlihat berubah, berkembang dari sikap dan perilaku di kesehariannya, kalau kita melihatnya saja tidak netral? Kalau melihatnya saja, kita masih dengan pelabelan masa lalunya? Kalau kita saja memberikan ketakutan tak kasat mata itu?
Ya, memang kembali lagi, perubahan manusia bisa ke arah baik maupun buruk, tapi, siapalah kita, menentukan baik buruknya seseorang, seorang manusia yang belum sepenuhnya kita mengerti, bahkan diri sendiri pun masih selalu kita coba untuk pahami.
*Mungkin kita bisa mempelajari Theory of Basic Human Values dari Shalom Schwartz tentang bagaimana dalam setiap keputusannya, manusia berupaya untuk menyeimbangkan ketegangan antara keinginan menjaga stabilitas diri dan kebutuhan untuk tumbuh serta berkontribusi bagi dunia luarnya
.png)





