Untukku sendiri, melihat apa yang menjadi tulisan ini, udah cukup membuat geram. Ya, secara jujur aku kurang suka dengan judulku sendiri. Kilas balik ke masa aku sempat tinggal di Korea Selatan, semua hal soal transportasi umumnya tidak pernah ada hentinya membuatku takjub dan berkata 'when yh'. Entah dari sekecil skuter listriknya yang bisa kita temui di mana pun, dengan harganya yang masih oke, dan cocok banget kalau lagi buru-buru, sampai perkereta-annya yang dibuat untuk tidak ada level crossing. Urban planning mereka menurutku memang sangat amat matang. Untukku yang suka menjelajah sendiri ini, walaupun kemampuan bahasa Koreaku masih diragukan, aplikasi seperti Naver ini sangat membantu dan dengan kemampuan bisa membaca dan listening ke Korean, ya.. bekal kecil yang membuat tidak (selalu) tersesat, walau kadang masih suka kelewatan ahahaha. Pun, fasilitas umum terutama taman, tempat olahraga, tempat pejalan kaki, sangat ada banyak dan serata itu, di daerah yang sepadat Seoul, ke kota kecil dekat Korea Utara, Chuncheon, sampai tempat industri seperti Maseok, semua tempat ini sangat ramah pejalan kaki dan ramah perempuan.
Gimana ga, dari semua cari angin malamku (hehe), entah pukul 11 malam, 12, atau bahkan hampir jam 1 dini hari pun, ga ada satu pun hari aku kena kejahatan. Ril kah? Ril. Kalau di Seoul, yaaa, apalagi Hongdae, ya, maaf, mereka ga kenal malam sepertinya ya. Namun, untuk kotaku, Chuncheon, cukup udah sepi sih pukul 10 malam ke atas, kalau kita ke daerah pestanya memang ramai, tapi kalau menepi ke daerah taman dekat sungai (tempat favoritku) ini, yaaa .. ada satu dua orang yang kadang aku temui. Lagi, ga ada satu pun ketakutanku, sebagai perempuan, saat aku bersepeda jam 12 malam di pinggir sungai ini, apalagi hantu ya...
Apalagi soal kereta, herannya aku di situasi seramai apapun, yang namanya kursi prioritas pasti dipakai orang-orang prioritas, sungkannya itu bukan main kalau kita orang biasa duduk di situ. Bahkan karena saking penuhnya kereta, walau kursi prioritas itu kosong, Mas-mas dan Mba-mba yang kutemuin ini juga ikut berdiri. Hmmm, bukan mas mba juga sih ya. Ya dari situlah aku skillku hidup untuk berdiri 2 jam dan tidur sambil berdiri tanpa jatuh-jatuh kalau di kereta.
Terus, dari banyak chip chop ini, kenapa judulnya ga pengalaman transum di Korea aja? Nah justru itu. Kalau kita balik ke tragedi kereta di Bekasi kemarin, orang-orang di internet ini emang suka banget dialihkan dari permasalahan utama ke permasalahan-permasalahan yang 'trending'. Emangnya kenapa sih ada gerbong khusus perempuan? Satu hal yang paling aneh yang kudengar adalah ada yang berargumen kalau perempuan diratukan, makanya dibuat gerbong khusus di ujung-ujung kereta. Dengan statement, peletakan di ujung ini niru cara China, biar mudah mobilitasnya. Like hell? Do you open the internet properly? Ya, pelecehan yang sering terjadi pada perempuan lah, hal yang bikin harus ada gerbong khusus perempuan sejak tahun 2010 ini. Di logika aja, kalau aman, tentram, ramah perempuan, kenapa juga harus diciptain gerbong khusus, ya jadi satu kaya biasanya aja.
Tragedi mengenaskan sampai semua beralih ke pertengkaran gender ini juga membuat geram. Memang ya, sebaiknya menulis itu sesuai dengan timeline karena, dengan ditahan untuk tidak dipublikasikan, emosi suatu tulisan juga akan terasa janggal. Ada salah satu orang di Twitter yang berkata kalau ini semua juga salah dari laki-laki yang tidak ada kapasitas dalam memprovide wanita sehingga mereka harus bekerja keras sampai akhirnya ya, kecelakaan di Transum.
Patriarki itu nyata. Semua hal yang akhirnya sampai ke perdebatan gender ini justru membuat kita semakin rancu dalam berpikir. Setelah semua itu, orang ramai bertanya, jadi, siapa yang paling tertindas, laki-laki atau perempuan. Untuk kalian yang membaca, aku tanya, menurut kalian siapa yang dirugikan oleh sistem patriarki? Atau apa sih patriarki itu menurut kalian?
Patriarki itu mengurung kedua belah pihak, laki-laki dan perempuan, bukan mengucilkan penderitaan salah satunya. Iya, ketidaksetaraan gender itu sangat nyata. Dengan statement sebelumnya, of course, di situ laki-laki dirugikan karena dunia ini seolah mendesain laki-laki untuk memiliki kapasitas provide anything, kuat, ga nangis, bisa segalanya, ya, intinya bisa diandalkan lah. Yang tentunya, dengan bisa diandalkan ini, membuat fakta lapangan yang selama ini kita tahu juga bahwa pekerjaan itu mayoritas laki-laki yang punya. Pekerjaan dengan angka kematian terbanyak juga didominasi oleh laki-laki. Satu, memang karena perempuan susah untuk mendapatkan ranah itu atau ranah demikian. Dua, label bahwa perempuan tidak sekuat dan setangguh laki-laki juga ada. Perempuan harus dua kali lipat berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang setara dengan laki-laki, ini fakta yang gabisa dipungkiri. Tapi ada fakta lain bahwa angka kematian karena bunuh diri itu lebih tinggi pada laki-laki. Pun, kalau ada yang pernah ikut kabar Gita Savitri yang membahas kalau punya anak itu mempercepat penuaan perempuan, itu juga benar. Kenapa? Ya, karena sistemnya, beban pengasuhan anak, manusia yang lahir dari sperma dan ovarium yang bersatu ini, lebih berat pada perempuan.
Jadi siapa? Siapa yang lebih tertindas di dunia ini? Ya, inilah yang harus kita ubah. Otak kita, pemikiran kita, pemahaman kita. Kita harusnya bertanya, sistem ekspektasi mana yang harus kita ubah? Fakta bahwa patriarki merugikan kedua belah pihak, lagi-lagi kusebutkan, itu nyata, bukan sepihak saja. Jujur, dengan ditulisnya blog ini, aku pun belum tahu mau kubawa ke mana kesimpulannya. Ruang diskusi sangat terbuka untuk kita, sebagai manusia, saling belajar, belajar memahami satu sama lain, belajar untuk tidak menjadikan diri kita sebagai pusat dunia yang harus selalu dimengerti, dan belajar bahwa kebaikan adalah sesuatu yang dimulai dari diri kita sendiri. Semoga diriku dan siapapun kalian bisa melewati semua tantangan kehidupan dengan hati yang lapang.
.png)









.png)


