Stood and Stand

by Citra Maharani

Stood and Stand
  • Home
  • Author
  • Portofolio

Thoughts

Movie

Landing

 


There's a time when we feel so drained by something we don't even realize. We feel like everything is so heavy until there is no more space for us to vent. Everything just happens. Everything is just... emotionless. We have our glory, our victory, right in our own hands. We have everything, we do know everything, don't we? It's that crystal clear, until everything becomes nothing more than a passing blur. We can choose to be a victim in our own unwanted situation, our breaking moments, yet we dance. We use our chaos as a stage for our grave.

The music plays so well, not because it's our taste, but because it's life playing it to us. Whether it's a song about an honest mistake, something broken, or the bitterness of life, we just don't have control over our life's song. Yet, we can still dance, choosing our movements. So throw whatever it is, I'll dance. Even if it's not, I'll dance anyway. I'll always be the one who celebrates it with the rhythm of my own body. Even if the song that's playing is my surrender moment, I'll dance anyway.

Going to see what the rain looks like, what kind of storm is hitting today, even though I already know what it looks like, even if everything is ruined, or the weather today is a total mess, or the lamb I've been waiting for ends up leaving, right in the middle of that road, I'll just take shelter and watch everything happen as it is, I'll dance anyway.

We keep filling and filling, we know the size, exactly how big the whiplash is. It's our mechanism to keep living, by switching the autopilot to 'on' to block out every short-circuiting moment in our brain. Our filling area is our own object, our own asset. We don't even think about the problem of it being too full, we're just confused about why it feels so empty. Yet we keep filling it up, and it's not about the hole. There is no hole.  Not a single one exist. We do know. We did. The absurdism and inconsistency just force our eyes to see something different, the color, the same tone, the field of white flowers. What is it? We'll just dance on fate.

We were fated to capture the 'victories' that others spend lifetimes praying for, yet we remain an unreadable script, complicating the simplest paths because we don't even know the author in the mirror. We have conquered it yet lost our own definition, a hollow king, so carve my existence from your own silence, what name do I write on the void, what color do I paint on your empty sky?

Used 'we' throughout this piece just so it wouldn't feel so entirely alone, to keep it from feeling too real, that these lines are actually just... me, at the end. 


Banyak film horor yang openingnya dibuka dengan petak umpet. Aku sangat setuju, karena memang petak umpet itu horor. Ditinggal sembunyi itu menakutkan. Apalagi menyembunyikan maksud diri. Menyembunyikan maksud yang ingin kita ungkapkan, keinginan yang ingin kita sampaikan, atau bahkan menyembunyikan rasa bersalah dan kalah. 

Ada satu faktor yang sering dijadikan kambing hitam. Waktu. Padahal, waktu tidak akan pernah menjadi masalah ketika sesuatu atau seseorang benar-benar diinginkan. Karena kenyataannya, manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh prioritas, bukan kalender. Yap, manusia akan berfungsi pada manusia yang tepat, atau yang menurutnya begitu. 

Membaca kembali apa yang telah kutulis, membuatku berpikir bahwa diriku adalah manusia yang sedang berjudi. Perjudian emosional. Dengan rangkaian panjang kejadian kebetulan atas hidup, peran menjadi pihak kalah malah kupilih.  Tergoda atas sebuah potensi yang menutupi realitas nyata bahwa kalah bisa dalam bentuk apa pun. 

Apapun bentuk kalahnya, harusnya secara sadar, tidak perlu dibungkus oleh teori rumit yang berusaha menyelamatkan harga diri. Cukup, ya, terima saja. Apakah evaluasi diri diperlukan? Mungkin. Tapi, akan lebih baik, untuk sekedar dan sesingkat, menerima.  

Sisaan atas kesia-siaan yang melintas dalam benak pikir bukan suatu hal yang harus diromantisasi dan direnungkan. Bentuk kalah yang terlihat kasat dalam wujud persembunyian, biarlah cukup diterima. Terima bahwa potensi perbaikan bukanlah opsi yang dimiliki kini. Terima bahwa perbandingan suatu atau beberapa bagian tidak perlu dipertanyakan. Terima bahwa keburaman akan selalu melekat dalam setiap lini waktu pertemuan. Terima bahwa warna kuning bukanlah warna kebahagiaan, melainkan bentuk perpisahan. Terima bahwa, kursi kosong itu, bukan tempat yang harus diisi. 


Ada hari di dalam kalender ketika manusia memiliki radar emosional yang tumpul. Alih-alih jujur menerima kekurangan dan memperbaiki diri untuk tidak merugikan orang lain, manusia justru memposisikan dirinya sebagai jiwa yang tersesat, sosok yang rumit, dan korban dari keadaan semesta. Manusia membungkus ketidaksiapan, ego, dan ketidakmampuannya dalam mengambil keputusan seolah itu perjalanan emosionalnya yang tragis.

You are what you believe you are

Rasa peduli yang dimiliki eksistensinya yang lebih buram daripada rasa ingin tahu. Mungkin ada momen ketika antarmanusia mengajari bagaimana caranya peduli terhadap satu sama lain. Namun, kenyataan pahitnya adalah tidak semua orang dibekali kecerdasan dan kepekaan emosional yang tinggi. Beberapa orang justru secara natural tidak bisa membaca perubahan mikro yang membuatnya melihat semuanya baik-baik saja sampai ada kata secara verbal yang menyatakan sebaliknya; bahkan ada penolakan terhadap hal ini juga, dungu.

Dalam rangkaian tali kehidupan, akan ada jebakan ekspektasi manusia, yang sayangnya realitas tidak selalu seindah apa yang kita ekspektasikan secara baik. Tentu, karena kapasitas empati dan cara memproses isyarat sosial tiap manusia berbeda-beda. Bahkan, ada beberapa manusia yang juga memilih kontradiktif sebagai kacamata kehidupannya. Manusia menjadi sangat kaku dalam memisahkan ranah kehidupannya. Dengan ketumpulan emosi yang dimiliki, manusia benar-benar tidak tahu untuk apa harus merespons apa dan kapan. Daripada mencoba, manusia memilih mekanisme pertahanan andalannya, menghindar. 

People need a reason for everything they do. If they don't have one, they invent it

Bineritas juga menjadi sosok penuh bayang dalam hal ini. Emosi dan interaksi sosial diproses secara sangat biner yang menganggap perasaan adalah spektrum yang sangat sempit. Ranah abu-abu  yang hadir dengan wujud nuansa tidak nyaman, canggung, merasa tidak dihargai, atau sekedar merasa kesal, dilempar dengan pertanyaan yang menjadi parameter antara apakah sisi lain ini harus berhenti atau meminta maaf. Yap, pemindahan beban emosional, yang seharusnya mengevaluasi diri sendiri, justru evaluasi diserahkan kepada manusia lain karena merasa tidak ada yang perlu diperbaiki dari dirinya. 

Minta maaf memang bukan kalimat yang mudah diucapkan, tapi minta maaf juga satu-satunya cara instan keluar dari masalah, tiket keluar dari rasa bersalah, karena otak manusia akan menerima perilaku kecil tanpa arti dengan memaafkannya dan mengembalikan situasi aman dan melupakan hal-hal besar yang sebenernya masih menjadi masalah utama; walau tidak semua manusia akan menerima maaf ini. 

Kalau belajar dari main tenis meja, memang ketika momen seperti ini menghantam keadaan dalam kehidupan manusia, akan lebih baik membiarkan adanya jarak dan ruang kosong. Daripada breadcrumbs membuat semuanya menjadi penawar instan yang menghapuskan dan meluluhkan, lebih baik menganggapnya tidak ada kan?

Blank spaces are places of transitions, not of stagnation. You must learn to inhabit the blank space with dignity

Lagipun, manusia yang terbiasa secara tidak sadar, ya karena orang dungu biasanya ga sadar, meromantisasi kebingungan, akan sering cuci tangan. Menyiapkan segala argumen, segala alasan untuk bisa melakukan dan mengatakan apa saja tanpa merasa bersalah karena toh pada akhirnya manusia lain yang bisa dijadikan rumput injakan dia. Termasuk ketika manusia meromantisasi ketidakmampuannya dalam berkomitmen. Manusia seperti ini pasti akan berbicara dengan analogi melankolis yang meromantisasi kebingungan mereka sendiri. Ide bahwa ikatan emosional adalah hal dramatis yang pasti akan meninggalkan bekas, arah yang dibuat kabur yang menahan pihak lain dengan potensi bukan dengan kenyataan, adalah semua yang akan menunjukkan kecerdasannya dalam menyusun narasi puitis yang kontras dengan memori kepercayaan terhadap tumpulnya radar emosi dia. 

Ya, sebenarnya kebingungan adalah fase yang sangat manusiawi sih saat manusia dihadapkan pada persimpangan hidup. Namun, sebagai orang yang berusaha mencerdaskan kebodohan yang dimiliki, akan lebih manusiawi lagi apabila kebingungan direspon dengan mencari jawaban, mengambil sikap, dan membuat pilihan. Bukan menjadikan zona abu-abu sebagai zona nyaman permanen, bahwa memilih untuk tetap bingung adalah sebuah pilihan itu sendiri.

There are those who feel that life is a tragedy, and those who feel it's a comedy. But the worst are those who merely look on

Kedok kosong untuk membebaskan diri dari tanggung jawab, membuatnya menciptakan tameng yang kebal terhadap tuntutan. Karena ketika menuntut kejelasan dari orang yang sedari tadi kita bicarakan ini, ujungnya hanya akan membuat kita terlihat jahat karena menekan orang yang sedang berjuang mencari jati diri, menekan orang yang tersakiti; atau membuat dirinya terlihat demikian. Percuma istilah manusia adalah makhluk sosial hadir kalau dalam suatu bentuk sosial tidak ada tantangan untuk saling berkembang yang diterima bayarannya atau takut akan kehancuran kenyamanan padahal itulah bagian dari kehidupan dan keadaan manusia ketika hidup bersama orang lain, belajar saling menghargai. 

Memang, seperti naik gunung, di manapun titiknya, pandangan pasti akan berbeda, seperti manusia, dengan titik mulai dan titik bertahan yang berbeda, pandangannya terhadap kehidupan dan caranya memroses hidup sebagai hal yang baru pertama kali dijalani juga akan berbeda, ya lagi pula siapa manusia yang udah pernah hidup sebelumnya? Reinkarnasi kali. 

When someone shows you who they are, believe them the first time. People know themselves much better than you do. That's why it's important to stop expecting them to be something other than who they are. Because when someone looks at things through rose-colored glasses, all the red flags just look like flags.


nb. mungkin semua ini adalah dirimu

nb. nb. siapa juga manusia yang tidak mau belajar memahami kekurangannya, kecuali dirinya manusia yang sepenuhnya mati rasa

nb. nb. nb. tapi pada akhirnya, keadaan dan kemauan kita sendiri lah yang mengubah diri kita

 


Aktivitas apa yang kalian suka lakuin? Berkebun? Membaca? Berolahraga? Kalau kita berolahraga nih, misal mau ikut half maraton deh, mungkin ga kita berani daftar kalau pas lari 5 kilometer aja kita engap-engapan rasanya kaya mau meninggal di tempat? Tapi kalau kita punya rencana buat ikut kegiatan itu, atau bahkan kita udah nentuin tanggalnya kapan, mungkin ga kalau kita memang ada bekal ke sana? Iya, kalau udah nentuin 'tanggal' atau tujuannya, kita jadi lebih bisa tahu apa yang kita akan bekali. 

Apa yang perlu kita bekali? Di mana yang harus diperbaiki, gimana cara kita belajar, dari mana kita bisa mencari ilmu, di area apa yang aku belum siap. Ya, pertanyaan-pertanyaan ini juga sebenarnya adalah bekal awal kita. Kalau ditanya, kapan kita siap, kapan sebenarnya seorang manusia bisa melabeli dirinya sebagai individu yang siap, jawabannya cuma satu. Gaakan ada manusia yang benar-benar siap 100% untuk apa pun itu. Dari hal seperti bangun pagi hingga hal besar seperti kematian. 

Apalagi ya, kalau soal relasi, koneksi, atau hubungan dengan manusia lain. Mungkin di umur 20 an, mulai banyak pertanyaan yang timbul, salah satunya, kapan ya bisa ketemu orang tepat, atau akankah aku ada kesempatan buat bertemu dia yang demikian? Banyak orang bilang, jadilah orang yang tepat, bukan mencari mereka yang tepat. Tentu, semua manusia bernyawa ataupun kucing penjaga perpustakaan akan setuju dengan hal ini, termasuk diriku. 

Tapi bagaimana kita bisa melabeli diri kita menjadi orang yang tepat itu? Bisa kah kita mengetahui diri kita hanya dengan bersama dengan kita tanpa adanya bantuan orang lain? Atau kalau dalam bahasanya, kan ga mungkin kita test suatu algoritma hanya dari known dataset yang sebelumnya dipakai untuk training, pasti hasilnya bias, dan kita butuh dataset di luar percobaan lainnya. Namun, indikator, parameter, matriks penilaian, bisa kita definisikan, sejauh apa algoritma ini dikatakan siap pakai. Atau kalau masalahnya manusia, di titik apa kita bisa merasa cukup tepat.

Di saat ilmu kita cukup, believe kita bagus, mindset kita benar, value kita punya. Saat semua ini hadir dan ada di dalam diri kita, dengan siapapun Tuhan mempertemukan kita, membuat koneksi kita dalam suatu titik bersama manusia lain, kita pasti bisa menyelaraskannya.

Mungkin kalau pembahasannya ke pernikahan, kadang orang bilang mereka siap nikah ketika apa, ketika ada uang, atau financialnya cukup. Ya, kalau menurutku, financial itu memang bare minimum sih ya, hidup di belahan bumi mana coba yang ga butuh uang. Inilah poinnya, ketika kita mulai mempertanyakan soal eksistensi kita, makna hidup kita, tujuan kita, siapa kita, apa yang kita punya, kita akan menjadi lebih tahu diri, di mana posisi kita dan bagaimana kapasitas kita. 

Apalagi soal masa depan, hal yang membuat semua manusia takut bahkan di saat dia tahu dia ga tahu sampai di periode apa dia menjumpai waktu, menjumpai hal yang dilabeli masa depan oleh dirinya yang sekarang. Bahkan kita ga tahu apakah besok adalah salah hal yang akan kita temui kan. Di sinilah, letak tahu diri kita. 

Membuat relasi baru dengan orang lain buatku sama besarnya dengan bermimpi. Dalam bermimpi kita harus berani membayar harga untuk mimpi itu. Itulah kenapa menurutku, untuk bermimpi aja banyak manusia yang ga berani, karena merasa kalau dirinya tidak akan sanggup dengan bayaran itu. Sama dengan membuat relasi baru, se naifnya kita terhadap label transaksional dalam sebuah hubungan antara dua atau banyak manusia, berelasi ada harganya. Harga ketika kita membuka kehadiran orang tersebut di dalam salah satu atau banyak hari di kehidupan kita. Harga ketika bayangan tentang orang itu perlahan sirna, hingga harga ketika relasi kita dengannya hanyalah sebuah bekas yang ditinggalkan. 

Benar kata drakor yang bahas papago, bahwa di dunia ini ada bahasa sebanyak manusianya. Kita harus menyamakan frekuensi, menyamakan bahasa, menyamakan level, Kita harus tau konsep dia tentang sesuatu itu bagaimana. Bahkan terkadang suatu perkataan saja bisa membuat kita berasumsi, makanya ga semua kata atau kalimat bisa kita maknai secara sama dan lebih baik kita tanyakan seribu pertanyaan itu daripada berasumsi, ketika kita berani  untuk berelasi dengan manusia lain, atau dalam konteks ekstrem, berani berjalan lebih jauh dengan manusia itu. 

Saat aku berelasi dengan dia, peranku untuk dia itu apa?

Pertanyaan dengan konsep tahu diri dan memantaskan diri inilah yang penting. Tidak semua relasi memang dimulai dari 0. Ada relasi yang secara terpaksa terbentuk dari sebuah komunitas atau lingkungan. Tapi di sinilah intinya: apa peran sebenarnya dari kehadirannya di kehidupan kita dan sebaliknya? 

Salah satu parameter kebahagiaanku adalah ketika aku bisa melihat kemampuan seseorang untuk bertumbuh. Ketika berelasi, ada beberapa yang akan melabeli dirinya dengan 'beginilah aku, take it or leave it' bahasa mudahnya. Kaya kucing, ada kucing yang, ya, gini deh aku, kalau ga suka ga usah pegang-pegang, tapi ada juga kucing yang kadang peduli dengan melihat kita. Kucing yang kalau ketemu, pasti ngasih gap 5 detik untuk kita dan dia tatap-tatapan tanpa ada sepatah kata yang keluar juga, karna kalau keluar pun juga gaakan paham sih ya.. malah kabur bisa bisa. 

Kadang aku membenci orang yang bilang terima aku apa adanya atau menerima orang apa adanya. Menerima apa adanya bearti ia enggan untuk bertumbuh menjadi baik. Padahal, we have so much in our hands. Ya, balik lagi kalau kaitannya soal relasinya pasangan. Kalau ada orang yang membuat kita bingung, tanyakan, jangan terima apa adanya. Terlebih kalau pasangan, kita harus bisa melihat kemampuan calon kita untuk bertumbuh. Tanyakan. Kalau dia tidak berani memberi jawaban karna tidak siap, tanyakan, tanyakan parameter siapnya seperti apa. 

Knows everything but values nothing. 

Bahkan untuk tau aja kita ga mau, gimana cara kita bisa memberi nilai untuk sesuatu yang kita ga tau. Kita harus tau se berharga apa kita memberi nilai suatu relasi, koneksi, hubungan, dan mempertanyakan siap kah kita untuk membayar dengan harga itu. Kita harus belajar memberikan nilainya sendiri.

Ya, sekali lagi, untuk dunia dan apapun yang berjalan di dalamnya, kita gaakan pernah siap untuk hal itu. Ketakutan terhadap masa depan pun, siapa sih yang merasa siap dengan masa depan? Lagi pula, hidup apa yang ada tanpa adanya badai? Suatu petualangan tidak akan pernah menghasilkan pembelajar tanpa hadirnya tantangan yang berhasil dilalui dan diselesaikan.


nb. segala bentuk tantangan di dunia, semoga kita mampu melaluinya dengan hati yang lapang


Untukku sendiri, melihat apa yang menjadi tulisan ini, udah cukup membuat geram. Ya, secara jujur aku kurang suka dengan judulku sendiri. Kilas balik ke masa aku sempat tinggal di Korea Selatan, semua hal soal transportasi umumnya tidak pernah ada hentinya membuatku takjub dan berkata 'when yh'. Entah dari sekecil skuter listriknya yang bisa kita temui di mana pun, dengan harganya yang masih oke, dan cocok banget kalau lagi buru-buru, sampai perkereta-annya yang dibuat untuk tidak ada level crossing. Urban planning mereka menurutku memang sangat amat matang. Untukku yang suka menjelajah sendiri ini, walaupun kemampuan bahasa Koreaku masih diragukan, aplikasi seperti Naver ini sangat membantu dan dengan kemampuan bisa membaca dan listening ke Korean, ya.. bekal kecil yang membuat tidak (selalu) tersesat, walau kadang masih suka kelewatan ahahaha. Pun, fasilitas umum terutama taman, tempat olahraga, tempat pejalan kaki, sangat ada banyak dan serata itu, di daerah yang sepadat Seoul, ke kota kecil dekat Korea Utara, Chuncheon, sampai tempat industri seperti Maseok, semua tempat ini sangat ramah pejalan kaki dan ramah perempuan.

Gimana ga, dari semua cari angin malamku (hehe), entah pukul 11 malam, 12, atau bahkan hampir jam 1 dini hari pun, ga ada satu pun hari aku kena kejahatan. Ril kah? Ril. Kalau di Seoul, yaaa, apalagi Hongdae, ya, maaf, mereka ga kenal malam sepertinya ya. Namun, untuk kotaku, Chuncheon, cukup udah sepi sih pukul 10 malam ke atas, kalau kita ke daerah pestanya memang ramai, tapi kalau menepi ke daerah taman dekat sungai (tempat favoritku) ini, yaaa .. ada satu dua orang yang kadang aku temui. Lagi, ga ada satu pun ketakutanku, sebagai perempuan, saat aku bersepeda jam 12 malam di pinggir sungai ini, apalagi hantu ya...

Apalagi soal kereta, herannya aku di situasi seramai apapun, yang namanya kursi prioritas pasti dipakai orang-orang prioritas, sungkannya itu bukan main kalau kita orang biasa duduk di situ. Bahkan karena saking penuhnya kereta, walau kursi prioritas itu kosong, Mas-mas dan Mba-mba yang kutemuin ini juga ikut berdiri. Hmmm, bukan mas mba juga sih ya. Ya dari situlah aku skillku hidup untuk berdiri 2 jam dan tidur sambil berdiri tanpa jatuh-jatuh kalau di kereta. 

Terus, dari banyak chip chop ini, kenapa judulnya ga pengalaman transum di Korea aja? Nah justru itu. Kalau kita balik ke tragedi kereta di Bekasi kemarin, orang-orang di internet ini emang suka banget dialihkan dari permasalahan utama ke permasalahan-permasalahan yang 'trending'. Emangnya kenapa sih ada gerbong khusus perempuan? Satu hal yang paling aneh yang kudengar adalah ada yang berargumen kalau perempuan diratukan, makanya dibuat gerbong khusus di ujung-ujung kereta. Dengan statement, peletakan di ujung ini niru cara China, biar mudah mobilitasnya. Like hell? Do you open the internet properly? Ya, pelecehan yang sering terjadi pada perempuan lah, hal yang bikin harus ada gerbong khusus perempuan sejak tahun 2010 ini.  Di logika aja, kalau aman, tentram, ramah perempuan, kenapa juga harus diciptain gerbong khusus, ya jadi satu kaya biasanya aja. 

Tragedi mengenaskan sampai semua beralih ke pertengkaran gender ini juga membuat geram. Memang ya, sebaiknya menulis itu sesuai dengan timeline karena, dengan ditahan untuk tidak dipublikasikan, emosi suatu tulisan juga akan terasa janggal. Ada salah satu orang di Twitter yang berkata kalau ini semua juga salah dari laki-laki yang tidak ada kapasitas dalam memprovide wanita sehingga mereka harus bekerja keras sampai akhirnya ya, kecelakaan di Transum. 

Patriarki itu nyata. Semua hal yang akhirnya sampai ke perdebatan gender ini justru membuat kita semakin rancu dalam berpikir. Setelah semua itu, orang ramai bertanya, jadi, siapa yang paling tertindas, laki-laki atau perempuan. Untuk kalian yang membaca, aku tanya, menurut kalian siapa yang dirugikan oleh sistem patriarki? Atau apa sih patriarki itu menurut kalian?

Patriarki itu mengurung kedua belah pihak, laki-laki dan perempuan, bukan mengucilkan penderitaan salah satunya. Iya, ketidaksetaraan gender itu sangat nyata. Dengan statement sebelumnya, of course, di situ laki-laki dirugikan karena dunia ini seolah mendesain laki-laki untuk memiliki kapasitas provide anything, kuat, ga nangis, bisa segalanya, ya, intinya bisa diandalkan lah. Yang tentunya, dengan bisa diandalkan ini, membuat fakta lapangan yang selama ini kita tahu juga bahwa pekerjaan itu mayoritas laki-laki yang punya. Pekerjaan dengan angka kematian terbanyak juga didominasi oleh laki-laki. Satu, memang karena perempuan susah untuk mendapatkan ranah itu atau ranah demikian. Dua, label bahwa perempuan tidak sekuat dan setangguh laki-laki juga ada. Perempuan harus dua kali lipat berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang setara dengan laki-laki, ini fakta yang gabisa dipungkiri. Tapi ada fakta lain bahwa angka kematian karena bunuh diri itu lebih tinggi pada laki-laki. Pun, kalau ada yang pernah ikut kabar Gita Savitri yang membahas kalau punya anak itu mempercepat penuaan perempuan, itu juga benar. Kenapa? Ya, karena sistemnya, beban pengasuhan anak, manusia yang lahir dari sperma dan ovarium yang bersatu ini, lebih berat pada perempuan. 

Jadi siapa? Siapa yang lebih tertindas di dunia ini? Ya, inilah yang harus kita ubah. Otak kita, pemikiran kita, pemahaman kita. Kita harusnya bertanya, sistem ekspektasi mana yang harus kita ubah? Fakta bahwa patriarki merugikan kedua belah pihak, lagi-lagi kusebutkan, itu nyata, bukan sepihak saja. Jujur, dengan ditulisnya blog ini, aku pun belum tahu mau kubawa ke mana kesimpulannya. Ruang diskusi sangat terbuka untuk kita, sebagai manusia, saling belajar, belajar memahami satu sama lain, belajar untuk tidak menjadikan diri kita sebagai pusat dunia yang harus selalu dimengerti, dan belajar bahwa kebaikan adalah sesuatu yang dimulai dari diri kita sendiri. 


 "Everything should be made as simple as possible, but not simpler" - Albert Einstein


Judul kali ini menggambarkan sekali apa yang akan kubahas. Ya... mungkin biasanya agak berbeda ya. Sebagai seorang mahasiswa kedinasan yang sudah cukup lama menjalani peran ini, walau belum lulus, bismillah lulus, ada banyak hal yang belum kudapat. Maksudnya?? Iya, banyak hal yang kurasa masih janggal dalam perjalanan prosesnya. Entah ini penyesuaian atau memang ketidaksesuaian. Dulu, selama aku SMA, dengan kemalasanku untuk memberi label pada satu kolom 'cita-cita', aku jarang sekali mengisinya. Bahkan, seringnya aku tanya ke mama, 'Ma, isi apa ya, males mikir', dan mamaku yang memang tahu anaknya begini menjawab, 'ASN aja'. Udah males mikir, masih banyak tanya, 'Emang kenapa?' Mamaku menjawab, 'ASN kan Aparatur Sipil Negara, banyak pekerjaannya, banyak jenisnya, entah nanti mau jadi apa juga.' Hahahaha, percakapan ini selalu kuingat sampai kapanpun karena jawaban Mama sangat bisa kuterima. Ya... mungkin ini juga doa tersirat yang jadi kenyataan sampai aku jadi mahasiswa kedinasan kali ya.

Berada di lingkungan kedinasan, kalau bisa aku ambil data secara serius, hampir semua yang kutanya terkait cita-cita, pasti jawabannya ASN. Aku cukup terhibur dengan hal kecil ini, karena diriku seperti menemukan diri lama, di mana yaudah aja, cita-cita apa? Jawab aja, ASN. Walau kadang ada jawaban-jawaban asbun yang lebih menghibur lagi. Memang sih, secara formal dan legalnya, mahasiswa kedinasan dari instansi apa pun ada untuk memenuhi kebutuhan birokrasi negara. Teori Public Service Motivation atau PSM dari James Perry dan Wise menyatakan bahwa seseorang yang sudah nyemplung ke dunia kedinasan ini pasti punya keinginan atau rasa tanggung jawab terhadap kewajiban 'mengabdi' pada negaranya. Dengan bahan bakar 'pengabdian'. Pun, adanya statement yang sering kali menyatakan bahwa anggaran besar digunakan untuk membangun komponen human capital atau mudahnya membiayai mahasiswa-mahasiswa kedinasan ini, pastilah terpicu dalam diri bahwa secara etisnya, memang harusnya, ada kewajiban timbal balik yang membuat kita 'kembali' atau mengembalikan ke negara. 

Memang sih, cita-cita menjadi ASN ini sangat aman dan simple, karena secara tidak langsung kita bilang kalau kita ingin mendapat NIP dan aman sampai pensiun (gajinya aman, duitnya lancar, hidupnya terjamin). Ya... kalau membahas soal nilai dan dampak nyata yang diberikan kepada negara, buatku ini kurang sesuai untuk menjadi suatu inovasi dari suatu substansi asli keinginannya itu sendiri. 

Emangnya, apa sih itu cita-cita?

Apa ya sebenarnya cita-cita itu? Buatku, pertanyaan cita-cita ini sungguh merupakan motivasi yang besar untuk kita lebih bersemangat dalam mencapai kedewasaan. Orang yang dengan pedenya bisa menjawab cita-cita mereka, buatku dulu, adalah orang yang keren karena tahu mau apa. Maklum, diriku yang dulu adalah seorang planner. Tetapi, semakin ke sini, semakin bertambah umur (read: tua), pertanyaan cita-cita itu mengesalkan. Membuatku mempertanyakan diri. Membuatku merasa kehilangan jati diri. Membuatku merasa aku berada di lingkungan atau sistem yang menyempitkan arti hidup manusia. Utamanya di peranku yang sekarang, yang terkadang secara kuat mendorongku berpikir untuk menjadi fungsi produksi negara. Apa ya bahasanya, dicekok? Mungkin terlalu kasar ya, tapi mudahnya begitu. 

Kalau pernah membaca ikigai, tentu, cita-cita itu bukanlah tentang 'pekerjaan apa yang ingin dimiliki' seperti yang biasanya dibilang kepada kita, dari kecil, hingga mungkin sampai sekarang. Di Ikigai, cita-cita itu titik temu empat elemen: apa yang dicintai, apa yang dikuasai, apa yang dibutuhkan dunia, dan dari mana kita bisa hidup. Profesinya bisa apa aja, tapi value-nya sama. Of course, dari mana kita bisa hidup adalah dari per-ASN-an ini, apa yang dibutuhkan dunia, juga apa yang instansi kita lakukan, apa yang dikuasai adalah apa yang kita pelajari selama anggaran ini mengalir terus di dalam darah kita lewat ilmu dan makanan, tapi, kalau tentang apa yang dicintai, mungkin ini yang beragam.

Ya.. di dahi kita gaada tulisan stempel 'ASN'nya sih ya. Lagi-lagi, kita sebagai manusia kan lahir dulu, baru bebas menentukan makna hidup kita. Manusia itu adalah proses, bukan produk jadi. Cita-cita adalah komitmen dinamis untuk kita mengasah diri, bukan merasa sempit akan jati diri. Berarti, manusia harus berguna dong? Ya... kalau diseriusin sih, manusia emang selalu butuh otonomi atau kendali atas hidupnya sendiri, utamanya soal mastery atau keinginan untuk menjadi ahli dalam sesuatu. Menurut Deci dan Ryan sih begitu ya. Entah perempuan atau laki-laki, pasti ingin ada sesuatu yang membuatnya merasa hidup dan berguna, bukan cuma lelaki.

Hmm.. balik lagi. Sistem kedinasan ini memberikanku 'peran', indeed. Tetapi dalam karakter apa aku ingin memainkan peran itu, itu masih aku yang menentukan. Ya.. aku akan kembali ke ikigai lama yang kulabelkan ke dalam bio di blog ini ya, lifelong learner, ahahha. Daripada aku ingin menjadi apa, mending menjadi siapa, kan? Bahwa aku melihat diriku sebagai 'sistem' yang selalu bisa di-upgrade dengan menjadikan belajar sebagai cita-cita yang membuatku ga 'kadaluwarsa', agar otak ini ga tumpul-tumpul amat walau udah mau mendekati ajal nantinya. Semoga di mana pun kita, penyesuaian itu pasti selalu ada, mungkin di dunia yang kompleks, mungkin di dunia dengan lingkungan birokrasi yang terkesan rutin dan kaku, ketakutan tersirat untuk menjadi seorang pembelajar tidak mati. Next lesson untukku, belajar ngembangin T-shaped skills kali, ahahaha. 

See yaa, hope you enjoy (and feel alive) as you read this one!


Do you like it to be here?
I do.
Do, anything, ever too much to ask from me?
They're just the right amount.
It's not ever too much or too little for you?
I said what i said.
Once you tell me, that you're all ears, but
somehow my brain lead me to not trust you.
You have your own option,
and choice.
And i chose to follow the rythm.
...
It is hard, you know,
I don't even know where am i now,
I don't know where this going to be,
it's swallowing me everytime,
I'm wonderiing if i could just quiet,
and do nothing,
will i ever be,
me?
...

Looking at tress, here, they change every season,
they do change,
they do grow,
they,
they exist.
...
I want to be a bee, instead of butterflies,
but bee dies once they sting,
and i,
I cant even regulate my anger.
...
I,
I,
...
Let's go, for a walk, up up.


...
...
Last spring, with the sunset,
there is lake,
comfy place.


...
I both confused and,
empty,
i always be happy,
i do my assignment well,
i do eat well,
i do sleep well,
i do socialize damn too well,
but why ya, i keep struggling in,
being me?
...
Why you always looking at me like that?
You love to talk, to me.

Am i dissapointing you?
that i, not like my looks,
is that why you always looking at me,
when i talk?
...
I know, im breaking your expectation,
everytime, 
i open my mouth,
i know ive been draining you,
with facing my problems,
i know. 
...
Outside, maybe there is someone that not fake as me,
vulnerable as me,
selfish as me,
individualist as me,
someone who truly fine,
and,
truly kind.
...
and i genuinely hope you to find that,
wherever you need
to find it.
Look, same street, different emotion.


...
...
I hate it when you be like this.
Don't you remember?
...
...
I was,
putting my hope,
yes, here,
last year,
how could you..?
...


I said, don't look me like that.
...
...
every emotion, everything in this world,
could always dissapear
at any single times,
we're human,
we make mistakes,
we can dissapoint too,
that's my simplest reason to be grateful
for being known by you.
...

Iya, everyone is having their own battle,
even cats.


...
someone like you, 
and me,
and that 'outside someone' you mentioned.
...
Human dont 'need' it,
I don't need it,
I don't need 'that' things,
In every option that im enable of choosing,
In universe that i can live without your talk,
In condition that i can handle without depending on you,
I, always, ever, chose to be here.
...
You don't even know, 
where you are,
yet, you still,
asking me,
whether i like to be here or not.


...
Every life of human,
is unique,
and here,
i want to find out why,
everytime, always,
why, my favorite human life is,
you.
But forever was never ours to begin with.
of course, that's why,
goodbye is unevitable,
...
Like, what are you so afraid of,
when nothing in this world,
belongs to you?
we must learn to proceed,
without certainty,
dont we?
yes, like,
if when we were 30 failures away
from our goal,
how fast would you
want to fail?
hmm, but life doesnt wait for us to be okay.
we'll find a way
to be okay?
silly.
Older Posts Home

Categories

  • Health 1
  • HoW? 3
  • Landing 6
  • Lintas 13
  • Movie 7
  • Storiette 6
  • Thoughts 16
  • Women 4

Popular Posts

  • Kita Tak Pernah Siap
  • Romantisasi Manusia
  • Sisaan Kesia-siaan

Archive

  • ►  2021 (18)
    • May 2021 (3)
    • Jun 2021 (2)
    • Jul 2021 (3)
    • Aug 2021 (2)
    • Sep 2021 (2)
    • Oct 2021 (2)
    • Nov 2021 (3)
    • Dec 2021 (1)
  • ►  2022 (15)
    • Jan 2022 (5)
    • Feb 2022 (5)
    • Mar 2022 (2)
    • May 2022 (1)
    • Jul 2022 (1)
    • Dec 2022 (1)
  • ►  2024 (1)
    • Nov 2024 (1)
  • ►  2025 (1)
    • Jun 2025 (1)
  • ▼  2026 (10)
    • May 2026 (7)
    • Jun 2026 (3)
Powered by Blogger

Copyright © Stood and Stand. Designed by OddThemes