Stood and Stand

by Citra Maharani

Stood and Stand
  • Home
  • Author
  • Portofolio

Thoughts

Movie

Landing


Ada suatu hal yang sering mengganjal hatiku. Pembahasan soal ikan. Bukan hanya karena setelah semua ikan di langit, ikan ini menjadi ikut melayang-layang di pikiranku, selain ada di sekeliling Beliau, tapi ikan juga jadi representasi manusia.

Aku lupa mengutipnya dari mana, tapi bayangin kita ada di ruangan 1x1, kita letakin seonggok kursi ke dalamnya, pasti langsung kerasa penuh mampus. Tapi kalau kursi yang sama, kita letakinnya di lapangan bidar alam, ya jelas ga bakal mempengaruhi apapun, cuma mungkin aneh aja tiba-tiba ada kursi di lapangan (oke not funny at all). Kemungkinan lainnya kalau ruangan ini suatu daerah tanpa sekat, like the region that we own is only that 1x1, pasti kita akan merasa, aduh ini mah bisa nih geseran dikit, but still the outside of that 1x1 is not ours. 

Ikan yang berada di kolam besar akan memiliki lebih banyak ruang untuk berenang-renang, atau mungkin untuk terbang, ya tapi oke oke kita tidak akan membahas ikannya Beliau. Ikan normal saja. Kalau aku jadi ikan, danau toba mungkin jadi pilihanku, kalau laut rasanya aku kurang suka air asin, tapi boleh juga. Kalaupun di akuarium, ya, sempitnya akan sangat terasa sih, sama sempitnya di kolam yang ukurannya juga 3x3 misal, kenalan ikannya pasti ikan tuan aja. 

Dalam hal mencari sosok berpotensi juga kurang lebih sama seperti perkolaman dan perikanan ini. Ketika kita dipertemukan dalam suatu kolam yang sama dengan banyak ikan lainnya, apa yang membentuk pandangan dan kriteria kita besar adanya berasal dari faktor ukuran dan variabel di dalam kolam ini. Kriteria tentang ikan favorit atau ikan paling menarik, ya ada di dalam kolam ini karena di kolam ini lah kita hidup dan lebih besarnya di dalam kolam ini lah kita menempatkan pikiran sadar kita. 

Tentu, tentu, sebagai ikan yang bijaksana, kita bisa melihat lebih banyak ikan di laut ataupun kolam lain, ikan-ikan lainnya yang akan lebih bervariasi. Hanya, penempatan pikiran kita lah yang terkadang membungkam kita dengan fakta dasar bahwa kolam tempat kita berada sekarang hanyalah kondisi situasional yang akan dan sangat mungkin akan berubah ke depannya, di bentangan dunia yang lebih luas lagi. 

Namun, ada juga jenis ikan yang memilih jatuh suka dengan potensi. Potensi di dalam kolam yang saat ini ia tinggali. Potensi yang ia harapkan, yang ia bayangkan akan menjadi ada di dalam perjalanan waktu nantinya. Meski potensi yang diharapkan ikan ini sebenarnya sudah diperlihatkan ketidakmungkinannya di depan dirinya secara langsung, tapi yang namanya jatuh, ada di luar kuasa. Lagipun ikan, kok jatuh. 

Potensi dengan keberadaan mimpi, harapan, keinginan, tidak ada yang salah juga sih. Dengan sudut pandang bahwa kolam kecil kolam besar atau bahkan laut ini ada, mungkin sebagai ikan, ikan akan lebih tenang bahwa kehidupan perkolaman dan perikanannya masih amat sangat jauh, panjang, dan masih banyak kemungkinan kehidupan yang belum ditemuinya. Mungkin di dalam kemungkinan itu ada kemungkinan terbang, walau dirinya ikan. 

Ikan yang sudah terlanjur jatuh juga mau bagaimana lagi? Di luar kuasa. Apakah bagi seekor ikan, jatuh itu menyakitkan? Kurang lebih, iya, kan dasarnya, jatuh. Ya, itupun kalau ikan bisa jatuh, kan ikan tidak berkaki, tapi apakah syarat jatuh itu berkaki? Tidak juga, hujan kan tidak berkaki, tapi jatuh juga, dari langit. Kolam dan ikan mengajarkan banyak hal tanpa perlu mengucap sepatah kata, kecuali mungkin sapaan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, mungkin juga selamat malam jika bertemu malam-malam. 

Pun, untuk apa kolam mempedulikan seekor ikan yang sudah terlanjur jatuh, toh tanpa kaki pun ikan bisa terpelanting tenggelam ke langit-langit air, membiarkan sisa rasanya mengapung pasrah, seolah-olah jatuh tak selalu butuh tanah untuk mendarat, selain sekedar ruang untuk tiba-tiba lupa caranya berenang dan justru memilih hal asing, terbang.


Membahas soal yang manis-manis, buatku yang terpikir di otak itu gula. Gula pasir putih yang dipake buat bikin teh. Padahal, dua barang itu adalah dua hal yang kurang masuk di ranah konsumsiku karena sejarang itu mencampurkan gula dan teh. Lambat laun, coklat menjadi pengganti bayangan kata manis. Misal ada temen yang mau minta 'ada yang manis-manis ga?' aku seringnya bilang gaada walaupun di mejaku ada roti atau biskuit yang .. manis. Pasti nantinya aku billang 'oh kukira coklat' dan dijawab dengan siapa juga yang nanya coklat. Ya... Memang agak agak juga otak ini kadang dalam memproses komunikasi.

Selain gula dan teh, coklat juga menjadi barang yang kuhindari. Aku kurang suka dengan coklat dan kemanisannya, merek apapun. Jadi kalau ada tiba-tiba coklat dateng, seringnya aku kasih ke orang lagi. 

Cuma ya, manusia emang paling dinamis, akhir-akhir ini aku selalu merasa coklat adalah satu-satunya booster paling instan buat menangani kemalasan. Lemas, letih, lesuh, lapar, lunglai, dan semua L lainnya, teratasi gitu aja dengan sebuah coklat???

Sebagai perempuan, aku merasa ada momen yang kadang, oh ini aku lemes banget, tiba-tiba sedih gajelas, keknya hormon deh, yang untukku itu sering banget dateng, ya bulanan sih datengnya. Tapi menganggu banget kadang harus berdamai dengan itu tiap bulan, like shsssss, but okay, ill go through this one, once again (gini aja terus yah).

Ya begitulah dan yang membuatku back on my track again, turns out adalah coklat. Yap, makan coklat walau cuma sebutir coklat kurma atau sepatahan coklat batang, bener-bener balikin mood. Buatku kalau ngerasa capek banget, sedih banget, kan biasanya bikin ngantuk ya, karena otak kita udah drain so much dan badan kita udah kehabisan energinya juga. Di sinilah, ya tetep si bakal ketiduran atau memutuskan untuk tiduran ahahah, tapi dengan konsumsi coklat, semua tugas tetep kelar aja at the end. 

Tulisan ini diabadikan kepada coklat, si manis yang dulu kuhindari, kusingkirkan, tapi kini jadi support system andalan ahaha. Tapi sungkan untukku menamai judulnya sebagai coklat, jadi mari kita sebut dia, yang manis-manis, untuk hari-hari yang diharap jadi manis juga. 


Earlier, the toilet on my floor at campus was being repaired, which meant we had to go all the way down to the first floor. Like, it takes 5 minutes to get there just to use the toilet for one minute. At first, I was feeling way too lazy, like, hell nah, why do I have to cross the whole building just to use a toilet??? But yeah... since I really, really had to go, I just did it.

When I took that first step downstairs, I tried to just turn off my feelings. Like, just go with the flow and let my feet walk on their own. And then, yeah, I arrived on the first floor?? Then I used it?? And then I went back to my floor, and it was all done?? Like, it’s so easy when you just go numb.

That got me thinking, like if this numbness makes my current struggle sooooo easy, why don't I apply it to everything? Like, God, okay, let's just do this and that, without any feeling. Like when I have a problem, or anything that WILL ruin my bright-to-be or at least what-I-hope-to-be-bright day, I could just face it with zero feeling and trust that it will pass and the burden will be gone. Right? Hmmm.

Yeah, that’s just what I thought because of this whole toilet repair situation, like, why does it have to be nowww? Okay, okay, let’s just never mind that, ahahaha. But in reality, I'm sure this mindset only applies to certain circumstances. Because if I do everything with no feeling and just embrace the numbness, there will be consequences... perhaps. Perhaps.

Because imagine if we actually used this "toilet-walking numbness" as a daily survival kit. You’re sitting in life, and then a sky drop you a problem that you have to perform something in front of many people, but you can't even do a thing, so suddenly, and instead of panicking, you just sit there like a blank wall. "Yes, okay. Yes, go on. I will do this until the time is up."

At some point, if you are too numb, you wouldn't even notice when someone cuts in front of your line. You'd just be like, "Ah, a human is now standing in front of me. That is fine." You'd basically turn into a zen master, but the kind that gets stepped on by everyone. Or worse, people would think you're slightly a sociopath.... because you just stare blankly when everything goes wrong.

So yeah, activating that numbness mode is a 10/10 elite strategy for climbing campus stairs or doing chores, but maybe a 2/10 for actually surviving social life without looking like a robot whose battery is at 1%.


Entropi, kata yang muncul kalau membahas keacakan. Pertanyaan apakah manusia itu terlahir sama atau apakah manusia itu setara mungkin pernah kita pertanyakan. Apakah hidup manusia seacak itu? Keacakan hidup manusia seringnya dilihat dari nasib yang dimiliki, entah apakah manusia itu tergolong sebagai manusia yang beruntung atau manusia yang sial. Terlebih ketika kita berfokus pada kata beruntung. Seperti yang kita tahu bahwa ada hal yang benar-benar di luar kendali kita, ada keberuntungan yang murni acak dan secara statistik memang ada. Bahwa tidak semua hal atau hasil yang didapat manusia adalah konsekuensi langsung dari usahanya, bisa jadi memang dia lahir di keluarga tertentu, bertemu dengan seseorang secara kebetulan, atau bahkan berada di tempat yang tepat di waktu yang tepat. 

Kalau secara teori yang sering diungkap beberapa buku yang membahas soal kesuksesan, ada keberuntungan yang dibangun. Dalam matematika kita menyebutnya peluang. Secara matematis jika peluang berhasil adalah 1% maka mencoba sekali artinya peluang 1% sedangkan mencoba 100 kali bearti ada sekitar 63% keberuntungan (jika percobaannya independen). Inilah keberuntungan yang dibangun dengan konsisten. Pun, ada survivorship bias yang membuat keberuntungan cenderung dijadikan tokoh utama padahal kenyataannya ada banyak kasus lain di luar sana yang memiliki ending berbeda. 

Sebanding dengan penelitian Richard Wiseman mengenai konsep keberuntungan yang diabadikan dalam karyanya berjudul The Luck Factor. Dengan partisipan yang dimilikinya, kesimpulan yang ditarik adalah 'beruntung' hadir karena pola perilaku tertentu, lebih terbuka, lebih banyak interaksi, lebih sadar akan peluang, lebih optimis, dan lebih mampu untuk mengambil pelajaran. Bukan pemikiran baru, penelitian ini sudah ada dari tahun 1966. Termasuk konsep locus of control, tentang bagaimana seseorang memandang hubungan antara tindakan atau usaha yang dilakukan dengan hasil hidupnya. 

Dan masih banyak lagi secara psikologi dan sosial yang meneliti soal keberuntungan ini, entah tentang teori self-efficacy atau keyakinan bahwa harapan seseorang terhadap kemampuannya memengaruhi seberapa besar usaha dan daya tahannya atau Daniel Kahneman dan Amos Tversky yang menunjukkan dalam artikel mereka tentang judgment under uncertainty. Manusia cenderung salah dalam membaca kejadian acak, salah menilai ketidakpastian yang terjadi. 

Hal yang diriku sadari sebelumnya aku percaya bahwa keberuntungan adalah perpaduan antara keacakan dari kesiapan bahwa secara nyata memang ada orang yang mampu melihat titik-titik tertentu dan membesarkan peluang dan kesempatannya. Namun, semakin banyaknya momen dalam hidup yang terlewati dengan banyak kondisi dan manusia yang membersamainya, pandanganku cukup bergeser. Kini aku meyakini bahwa sebenarnya keberuntungan itu tidak ada. Bahwa manusia memang tidak terlahir sama, manusia tidak memiliki hidup yang sama, manusia tidak diciptakan setara. Konsep utama dari apa yang disebut keberuntungan dalam hidup adalah qadar atau ketetapan Allah, izin dan hikmah Allah.

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ ١١
No calamity befalls ˹anyone˺ except by Allah’s Will. And whoever has faith in Allah, He will ˹rightly˺ guide their hearts ˹through adversity˺. And Allah has ˹perfect˺ knowledge of all things. (QS. At-Taghabun 64:11)

Jika diingat lagi, doa yang tidak pernah lepas kupanjatkan adalah meminta yang terbaik. Terlihat malas memang karena aku tidak mendefinisikan terbaik dalam doa itu. Aku terpikir untuk membahas ini karena terlintas kepadaku, bagaimana ya kalau misalkan aku berdoa semoga aku mendapatkan keberuntungan di semua hal yang aku usahakan? Dan lintasan pikiran ini hadir karena ada ucapan, 'beruntung terus ya dirimu'. Semakin aku pikirkan semakin aku bertanya-tanya, memangnya yang dicari itu apa dalam usaha? hasil bagus kah? atau misal aku dapat yang kuinginkan, apakah itu berkah? apakah itu mendekatkan aku dengan Allah? atau apakah keberhasilanku baik untuk akhiratku? gimana kalau keberhasilanku membawa kesombongan? 

Ya, pertanyaan yang muncul lagi juga aku justru mempertanyakan makna adil. Allah itu Maha Adil, jika memang konsep keberuntungan itu ada, apakah bearti ada yang namanya manusia favorit Allah? 'Manusia favorit alam semesta'. Dalam QS. Al-Mulk 67:2 memang dinyatakan kalau kehidupan dunia dalah ujian. Cukup offside tapi Al-Mulk adalah surat yang selalu dibaca selepas sholat magrib di kampusku, dan makin sering membaca maknanya semakin merasa kosong ilmu yang kumiliki. Dengan pernyataan itu, bearti Allah tidak menguji semua orang dengan soal yang sama, bearti memang benar bahwa hidup manusia tak selalu sama, dan manusia tidak diciptakan setara, kan? Bahwa keadilan tidak selalu bearti bahwa semua orang mendapatkan bagian yang sama.

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ ٢
˹He is the One˺ Who created death and life in order to test which of you is best in deeds. And He is the Almighty, All-Forgiving. QS. Al-Mulk 67:2

Favoritisme adalah kewenangan Allah, jelas. Manusia pun memang diperintahkan untuk mengusahakannya, mengusahakan karunia Allah karena Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Bias manusia yang mengangap bahwa kemudahan adalah bukti dicinta dan kesulitan adalah bukti dibenci secara telak dibantah oleh Al-Qur'an. Semakin terpikirkan olehku, ukuran akhir dunia tentang bagaimana aku bisa menjalani amanah dan ujian yang diberikan Allah, tentang bagaimana aku merespon semua yang terjadi padaku. 

Apakah sesuatu benar-benar acak atau hanya tampak acak karena pengetahuan manusia terbatas?

Ya, sebagai manusia kita memanglah makhluk yang terbatas, kita hanya bisa melihat potongan-potongan kecil hidup kita. Taufik, pertolongan Allah agar kita mampu melakukan yang benar. Barakah, kebaikan yang bertambah dan menetap. Taisir, kemudahan dari Allah. Fadhl, karunia Allah. Rizki, pemberian Allah. Qadar, ketetapan Allah. Tawakal, bersandar kepada Allah setelah berikhtiat. Semuanya adalah doa yang sebenarnya ada dalam definisi ketika kita meminta yang terbaik dalam setiap usaha yang dilakukan sebagai seorang makhluk yang terbatas.

Bearti apakah keberuntungan atau favoritisme ini tidak membatalkan keadilan Allah? Iya. Allah memang memberi manusia bagian hidup yang berbeda-beda. Ada yang sempit, ada yang luas, ada yang cerdas, ada yang penuh kesabaran, ada yang sehat, ada yang sakit, ada yang mudah lurus, pun ada yang jalannya berliku. Dalam Islam, tempat pembagian hadiah final bukanlah dunia ini karena kita sudah diperlihatkan bahwa dunia memanglah tempat kita diuji dan setiap orang diuji dengan cara dan bentuk yang berbeda

Ujian dengan kekurangan

Ujian dengan keberhasilan

Ujian dengan kelimpahan

Ujian dengan kegagalan

Ujian dengan apapun yang dititipkan Allah,

Adil, Allah menempatkan sesuatu hal sesuai dengan ilmu, hikmah, dan ketetapan yang sempurna. Mungkin dengan diberi banyak manusia akan ditanya lebih banyak, mungkin diberi sedikit justru diringankan hisabnya, atau mungkin kelambatan adalah cara Allah menjaga kita dari sesuatu, atau tampak gagal adalah cara Allah mengarahkan kita ke jalan yang lebih baik.

Tidak semua yang tampak baik benar-benar baik dan sebaliknya. Ada yang dinamakan nikmat kalau membuat seseorang bersyukur dan taar, ada yang dinamakan ujian jika Allah ingin melihat bagaimana seseorang ini menggunakan pemberian-Nya, pun ada yang disebut istidraj, jika justru membuat seseorang semakin jauh dari Allah. Keberhasilan yang kita inginkan dari apa yang sudah kita usahakan sebaiknya kita letakkan di tempat yang benar. Berusaha sebaik mungkin, tetapi jangan menganggap diri kita adalah pemilik hasilnya. Tawakal. 

كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ٢١٦
Fighting has been made obligatory upon you ˹believers˺, though you dislike it. Perhaps you dislike something which is good for you and like something which is bad for you. Allah knows and you do not know. QS. Al-Baqarah 2:216

Manusia adalah makhluk terbatas, Perjalanan hidup yang kita jalani kini adalah satu halaman dari keseluruhan cerita dan dunia bukanlah keseluruhan cerita. Dunia hanya bagian awal dari perjalanan yang lebih panjang. 

Keberuntungan adalah bahasa manusia untuk menjelaskan keterbatasan pengetahuan kita. Sedangkan iman mengajarkan bahwa dengan keterbatasan kita, tetap ada Allah yang Maha Adil dan Maha Mengatur. Allah Maha Mengetahui.

Pada akhirnya, semakin aku belajar memahami agamaku, Islam mengajarkan untuk melihat bahwa tidak ada kejadian yang berdiri sendiri di luar izin Allah. Tugas manusia adalah mengetuk pintu dan hak Allah menentukan pintu mana yang terbuka. Nyatanya hidup bukan tentang menjadi yang paling beruntung atau paling banyak menerima, tetapi tentang menjadi hamba yang paling tepat dalam merespon apapun yang Allah izinkan terjadi kepada kita.

Now, I  only want to walk gently toward what pleases Allah. I will try with what I have and release what is not written for me. I am learning to accept life with a peaceful heart, to be grateful for what comes, to let go of what passes, and to trust what I cannot yet understand. I am still learning how to read this book of life, page by page, knowing that only Allah knows the whole story. 

Perhaps “the universe’s favorite” is only a story humans invented to make sense of unequal beginnings, while faith quietly teaches us that every life is being written by the One who owes no explanation, yet loses no soul.

 


There's a time when we feel so drained by something we don't even realize. We feel like everything is so heavy until there is no more space for us to vent. Everything just happens. Everything is just... emotionless. We have our glory, our victory, right in our own hands. We have everything, we do know everything, don't we? It's that crystal clear, until everything becomes nothing more than a passing blur. We can choose to be a victim in our own unwanted situation, our breaking moments, yet we dance. We use our chaos as a stage for our grave.

The music plays so well, not because it's our taste, but because it's life playing it to us. Whether it's a song about an honest mistake, something broken, or the bitterness of life, we just don't have control over our life's song. Yet, we can still dance, choosing our movements. So throw whatever it is, we'll dance. Even if it's not, we'll dance anyway. We'll always be the one who celebrates it with the rhythm of our own body. Even if the song that's playing is our surrender moment, we'll dance anyway.

Going to see what the rain looks like, what kind of storm is hitting today, even though we already know, even if everything is ruined, or the weather today is a total mess, or the lamb we've been waiting for ends up leaving, right in the middle of that road, we'll just take shelter and watch everything happen as it is, we'll dance anyway.

We keep filling and filling, we know the size, exactly how big the whiplash is. It's our mechanism to keep living, by switching the autopilot to 'on' to block out every short-circuiting moment in our brain. Our filling area is our own object, our own asset. We don't even think about the problem of it being too full, we're just confused about why it feels so empty. Yet we keep filling it up, and it's not about the hole. There is no hole.  Not a single one exist. We do know. We did. The absurdism and inconsistency just force our eyes to see something different, the color, the same tone, the field of white flowers. What is it? We'll just dance on fate.

We were fated to capture the 'victories' that others spend lifetimes praying for, yet we remain an unreadable script, complicating the simplest paths because we don't even know the author in the mirror. We have conquered it yet lost our own definition, a hollow king, so carve my existence from your own silence, what name do I write on the void, what color do I paint on your empty sky?

Used 'we' throughout this piece just so it wouldn't feel so entirely alone, to keep it from feeling too real, that these lines are actually just... me, at the end. 


Banyak film horor yang openingnya dibuka dengan petak umpet. Aku sangat setuju, karena memang petak umpet itu horor. Ditinggal sembunyi itu menakutkan. Apalagi menyembunyikan maksud diri. Menyembunyikan maksud yang ingin kita ungkapkan, keinginan yang ingin kita sampaikan, atau bahkan menyembunyikan rasa bersalah dan kalah. 

Ada satu faktor yang sering dijadikan kambing hitam. Waktu. Padahal, waktu tidak akan pernah menjadi masalah ketika sesuatu atau seseorang benar-benar diinginkan. Karena kenyataannya, manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh prioritas, bukan kalender. Yap, manusia akan berfungsi pada manusia yang tepat, atau yang menurutnya begitu. 

Membaca kembali apa yang telah kutulis, membuatku berpikir bahwa diriku adalah manusia yang sedang berjudi. Perjudian emosional. Dengan rangkaian panjang kejadian kebetulan atas hidup, peran menjadi pihak kalah malah kupilih.  Tergoda atas sebuah potensi yang menutupi realitas nyata bahwa kalah bisa dalam bentuk apa pun. 

Apapun bentuk kalahnya, harusnya secara sadar, tidak perlu dibungkus oleh teori rumit yang berusaha menyelamatkan harga diri. Cukup, ya, terima saja. Apakah evaluasi diri diperlukan? Mungkin. Tapi, akan lebih baik, untuk sekedar dan sesingkat, menerima.  

Sisaan atas kesia-siaan yang melintas dalam benak pikir bukan suatu hal yang harus diromantisasi dan direnungkan. Bentuk kalah yang terlihat kasat dalam wujud persembunyian, biarlah cukup diterima. Terima bahwa potensi perbaikan bukanlah opsi yang dimiliki kini. Terima bahwa perbandingan suatu atau beberapa bagian tidak perlu dipertanyakan. Terima bahwa keburaman akan selalu melekat dalam setiap lini waktu pertemuan. Terima bahwa warna kuning bukanlah warna kebahagiaan, melainkan bentuk perpisahan. Terima bahwa, kursi kosong itu, bukan tempat yang harus diisi. 


Ada hari di dalam kalender ketika manusia memiliki radar emosional yang tumpul. Alih-alih jujur menerima kekurangan dan memperbaiki diri untuk tidak merugikan orang lain, manusia justru memposisikan dirinya sebagai jiwa yang tersesat, sosok yang rumit, dan korban dari keadaan semesta. Manusia membungkus ketidaksiapan, ego, dan ketidakmampuannya dalam mengambil keputusan seolah itu perjalanan emosionalnya yang tragis.

You are what you believe you are

Rasa peduli yang dimiliki eksistensinya yang lebih buram daripada rasa ingin tahu. Mungkin ada momen ketika antarmanusia mengajari bagaimana caranya peduli terhadap satu sama lain. Namun, kenyataan pahitnya adalah tidak semua orang dibekali kecerdasan dan kepekaan emosional yang tinggi. Beberapa orang justru secara natural tidak bisa membaca perubahan mikro yang membuatnya melihat semuanya baik-baik saja sampai ada kata secara verbal yang menyatakan sebaliknya; bahkan ada penolakan terhadap hal ini juga, dungu.

Dalam rangkaian tali kehidupan, akan ada jebakan ekspektasi manusia, yang sayangnya realitas tidak selalu seindah apa yang kita ekspektasikan secara baik. Tentu, karena kapasitas empati dan cara memproses isyarat sosial tiap manusia berbeda-beda. Bahkan, ada beberapa manusia yang juga memilih kontradiktif sebagai kacamata kehidupannya. Manusia menjadi sangat kaku dalam memisahkan ranah kehidupannya. Dengan ketumpulan emosi yang dimiliki, manusia benar-benar tidak tahu untuk apa harus merespons apa dan kapan. Daripada mencoba, manusia memilih mekanisme pertahanan andalannya, menghindar. 

People need a reason for everything they do. If they don't have one, they invent it

Bineritas juga menjadi sosok penuh bayang dalam hal ini. Emosi dan interaksi sosial diproses secara sangat biner yang menganggap perasaan adalah spektrum yang sangat sempit. Ranah abu-abu  yang hadir dengan wujud nuansa tidak nyaman, canggung, merasa tidak dihargai, atau sekedar merasa kesal, dilempar dengan pertanyaan yang menjadi parameter antara apakah sisi lain ini harus berhenti atau meminta maaf. Yap, pemindahan beban emosional, yang seharusnya mengevaluasi diri sendiri, justru evaluasi diserahkan kepada manusia lain karena merasa tidak ada yang perlu diperbaiki dari dirinya. 

Minta maaf memang bukan kalimat yang mudah diucapkan, tapi minta maaf juga satu-satunya cara instan keluar dari masalah, tiket keluar dari rasa bersalah, karena otak manusia akan menerima perilaku kecil tanpa arti dengan memaafkannya dan mengembalikan situasi aman dan melupakan hal-hal besar yang sebenernya masih menjadi masalah utama; walau tidak semua manusia akan menerima maaf ini. 

Kalau belajar dari main tenis meja, memang ketika momen seperti ini menghantam keadaan dalam kehidupan manusia, akan lebih baik membiarkan adanya jarak dan ruang kosong. Daripada breadcrumbs membuat semuanya menjadi penawar instan yang menghapuskan dan meluluhkan, lebih baik menganggapnya tidak ada kan?

Blank spaces are places of transitions, not of stagnation. You must learn to inhabit the blank space with dignity

Lagipun, manusia yang terbiasa secara tidak sadar, ya karena orang dungu biasanya ga sadar, meromantisasi kebingungan, akan sering cuci tangan. Menyiapkan segala argumen, segala alasan untuk bisa melakukan dan mengatakan apa saja tanpa merasa bersalah karena toh pada akhirnya manusia lain yang bisa dijadikan rumput injakan dia. Termasuk ketika manusia meromantisasi ketidakmampuannya dalam berkomitmen. Manusia seperti ini pasti akan berbicara dengan analogi melankolis yang meromantisasi kebingungan mereka sendiri. Ide bahwa ikatan emosional adalah hal dramatis yang pasti akan meninggalkan bekas, arah yang dibuat kabur yang menahan pihak lain dengan potensi bukan dengan kenyataan, adalah semua yang akan menunjukkan kecerdasannya dalam menyusun narasi puitis yang kontras dengan memori kepercayaan terhadap tumpulnya radar emosi dia. 

Ya, sebenarnya kebingungan adalah fase yang sangat manusiawi sih saat manusia dihadapkan pada persimpangan hidup. Namun, sebagai orang yang berusaha mencerdaskan kebodohan yang dimiliki, akan lebih manusiawi lagi apabila kebingungan direspon dengan mencari jawaban, mengambil sikap, dan membuat pilihan. Bukan menjadikan zona abu-abu sebagai zona nyaman permanen, bahwa memilih untuk tetap bingung adalah sebuah pilihan itu sendiri.

There are those who feel that life is a tragedy, and those who feel it's a comedy. But the worst are those who merely look on

Kedok kosong untuk membebaskan diri dari tanggung jawab, membuatnya menciptakan tameng yang kebal terhadap tuntutan. Karena ketika menuntut kejelasan dari orang yang sedari tadi kita bicarakan ini, ujungnya hanya akan membuat kita terlihat jahat karena menekan orang yang sedang berjuang mencari jati diri, menekan orang yang tersakiti; atau membuat dirinya terlihat demikian. Percuma istilah manusia adalah makhluk sosial hadir kalau dalam suatu bentuk sosial tidak ada tantangan untuk saling berkembang yang diterima bayarannya atau takut akan kehancuran kenyamanan padahal itulah bagian dari kehidupan dan keadaan manusia ketika hidup bersama orang lain, belajar saling menghargai. 

Memang, seperti naik gunung, di manapun titiknya, pandangan pasti akan berbeda, seperti manusia, dengan titik mulai dan titik bertahan yang berbeda, pandangannya terhadap kehidupan dan caranya memroses hidup sebagai hal yang baru pertama kali dijalani juga akan berbeda, ya lagi pula siapa manusia yang udah pernah hidup sebelumnya? Reinkarnasi kali. 

When someone shows you who they are, believe them the first time. People know themselves much better than you do. That's why it's important to stop expecting them to be something other than who they are. Because when someone looks at things through rose-colored glasses, all the red flags just look like flags.


nb. mungkin semua ini adalah dirimu

nb. nb. siapa juga manusia yang tidak mau belajar memahami kekurangannya, kecuali dirinya manusia yang sepenuhnya mati rasa

nb. nb. nb. tapi pada akhirnya, keadaan dan kemauan kita sendiri lah yang mengubah diri kita

Older Posts Home

Categories

  • Thoughts 16
  • Lintas 14
  • Landing 8
  • Movie 7
  • Storiette 6
  • HoW? 4
  • Women 4
  • Food 1
  • Health 1

Popular Posts

  • Dancing on the Fate
  • Manusia Favorit Semesta
  • Sisaan Kesia-siaan

Archive

  • ►  2021 (18)
    • May 2021 (3)
    • Jun 2021 (2)
    • Jul 2021 (3)
    • Aug 2021 (2)
    • Sep 2021 (2)
    • Oct 2021 (2)
    • Nov 2021 (3)
    • Dec 2021 (1)
  • ►  2022 (15)
    • Jan 2022 (5)
    • Feb 2022 (5)
    • Mar 2022 (2)
    • May 2022 (1)
    • Jul 2022 (1)
    • Dec 2022 (1)
  • ►  2023 (1)
    • Jan 2023 (1)
  • ►  2024 (1)
    • Nov 2024 (1)
  • ►  2025 (1)
    • Jun 2025 (1)
  • ▼  2026 (14)
    • May 2026 (7)
    • Jun 2026 (3)
    • Jul 2026 (4)
Powered by Blogger

Copyright © Stood and Stand. Designed by OddThemes