"Everything should be made as simple as possible, but not simpler" - Albert Einstein
Judul kali ini menggambarkan sekali apa yang akan kubahas. Ya... mungkin biasanya agak berbeda ya. Sebagai seorang mahasiswa kedinasan yang sudah cukup lama menjalani peran ini, walau belum lulus, bismillah lulus, ada banyak hal yang belum kudapat. Maksudnya?? Iya, banyak hal yang kurasa masih janggal dalam perjalanan prosesnya. Entah ini penyesuaian atau memang ketidaksesuaian. Dulu, selama aku SMA, dengan kemalasanku untuk memberi label pada satu kolom 'cita-cita', aku jarang sekali mengisinya. Bahkan, seringnya aku tanya ke mama, 'Ma, isi apa ya, males mikir', dan mamaku yang memang tahu anaknya begini menjawab, 'ASN aja'. Udah males mikir, masih banyak tanya, 'Emang kenapa?' Mamaku menjawab, 'ASN kan Aparatur Sipil Negara, banyak pekerjaannya, banyak jenisnya, entah nanti mau jadi apa juga.' Hahahaha, percakapan ini selalu kuingat sampai kapanpun karena jawaban Mama sangat bisa kuterima. Ya... mungkin ini juga doa tersirat yang jadi kenyataan sampai aku jadi mahasiswa kedinasan kali ya.
Berada di lingkungan kedinasan, kalau bisa aku ambil data secara serius, hampir semua yang kutanya terkait cita-cita, pasti jawabannya ASN. Aku cukup terhibur dengan hal kecil ini, karena diriku seperti menemukan diri lama, di mana yaudah aja, cita-cita apa? Jawab aja, ASN. Walau kadang ada jawaban-jawaban asbun yang lebih menghibur lagi. Memang sih, secara formal dan legalnya, mahasiswa kedinasan dari instansi apa pun ada untuk memenuhi kebutuhan birokrasi negara. Teori Public Service Motivation atau PSM dari James Perry dan Wise menyatakan bahwa seseorang yang sudah nyemplung ke dunia kedinasan ini pasti punya keinginan atau rasa tanggung jawab terhadap kewajiban 'mengabdi' pada negaranya. Dengan bahan bakar 'pengabdian'. Pun, adanya statement yang sering kali menyatakan bahwa anggaran besar digunakan untuk membangun komponen human capital atau mudahnya membiayai mahasiswa-mahasiswa kedinasan ini, pastilah terpicu dalam diri bahwa secara etisnya, memang harusnya, ada kewajiban timbal balik yang membuat kita 'kembali' atau mengembalikan ke negara.
Memang sih, cita-cita menjadi ASN ini sangat aman dan simple, karena secara tidak langsung kita bilang kalau kita ingin mendapat NIP dan aman sampai pensiun (gajinya aman, duitnya lancar, hidupnya terjamin). Ya... kalau membahas soal nilai dan dampak nyata yang diberikan kepada negara, buatku ini kurang sesuai untuk menjadi suatu inovasi dari suatu substansi asli keinginannya itu sendiri.
Emangnya, apa sih itu cita-cita?
Apa ya sebenarnya cita-cita itu? Buatku, pertanyaan cita-cita ini sungguh merupakan motivasi yang besar untuk kita lebih bersemangat dalam mencapai kedewasaan. Orang yang dengan pedenya bisa menjawab cita-cita mereka, buatku dulu, adalah orang yang keren karena tahu mau apa. Maklum, diriku yang dulu adalah seorang planner. Tetapi, semakin ke sini, semakin bertambah umur (read: tua), pertanyaan cita-cita itu mengesalkan. Membuatku mempertanyakan diri. Membuatku merasa kehilangan jati diri. Membuatku merasa aku berada di lingkungan atau sistem yang menyempitkan arti hidup manusia. Utamanya di peranku yang sekarang, yang terkadang secara kuat mendorongku berpikir untuk menjadi fungsi produksi negara. Apa ya bahasanya, dicekok? Mungkin terlalu kasar ya, tapi mudahnya begitu.
Kalau pernah membaca ikigai, tentu, cita-cita itu bukanlah tentang 'pekerjaan apa yang ingin dimiliki' seperti yang biasanya dibilang kepada kita, dari kecil, hingga mungkin sampai sekarang. Di Ikigai, cita-cita itu titik temu empat elemen: apa yang dicintai, apa yang dikuasai, apa yang dibutuhkan dunia, dan dari mana kita bisa hidup. Profesinya bisa apa aja, tapi value-nya sama. Of course, dari mana kita bisa hidup adalah dari per-ASN-an ini, apa yang dibutuhkan dunia, juga apa yang instansi kita lakukan, apa yang dikuasai adalah apa yang kita pelajari selama anggaran ini mengalir terus di dalam darah kita lewat ilmu dan makanan, tapi, kalau tentang apa yang dicintai, mungkin ini yang beragam.
Ya.. di dahi kita gaada tulisan stempel 'ASN'nya sih ya. Lagi-lagi, kita sebagai manusia kan lahir dulu, baru bebas menentukan makna hidup kita. Manusia itu adalah proses, bukan produk jadi. Cita-cita adalah komitmen dinamis untuk kita mengasah diri, bukan merasa sempit akan jati diri. Berarti, manusia harus berguna dong? Ya... kalau diseriusin sih, manusia emang selalu butuh otonomi atau kendali atas hidupnya sendiri, utamanya soal mastery atau keinginan untuk menjadi ahli dalam sesuatu. Menurut Deci dan Ryan sih begitu ya. Entah perempuan atau laki-laki, pasti ingin ada sesuatu yang membuatnya merasa hidup dan berguna, bukan cuma lelaki.
Hmm.. balik lagi. Sistem kedinasan ini memberikanku 'peran', indeed. Tetapi dalam karakter apa aku ingin memainkan peran itu, itu masih aku yang menentukan. Ya.. aku akan kembali ke ikigai lama yang kulabelkan ke dalam bio di blog ini ya, lifelong learner, ahahha. Daripada aku ingin menjadi apa, mending menjadi siapa, kan? Bahwa aku melihat diriku sebagai 'sistem' yang selalu bisa di-upgrade dengan menjadikan belajar sebagai cita-cita yang membuatku ga 'kadaluwarsa', agar otak ini ga tumpul-tumpul amat walau udah mau mendekati ajal nantinya. Semoga di mana pun kita, penyesuaian itu pasti selalu ada, mungkin di dunia yang kompleks, mungkin di dunia dengan lingkungan birokrasi yang terkesan rutin dan kaku, ketakutan tersirat untuk menjadi seorang pembelajar tidak mati. Next lesson untukku, belajar ngembangin T-shaped skills kali, ahahaha.
See yaa, hope you enjoy (and feel alive) as you read this one!









.png)



