Stood and Stand

by Citra Maharani

Stood and Stand
  • Home
  • Author
  • Portofolio

Thoughts

Movie

Landing

Bersosialisasi, berinteraksi, hidup sebagai makhluk sosial, yes, kita ini manusia. Mungkin kadar pertemananku agak menurun semenjak hidup 24/7 bersama orang-orang yang sama ini dengan kondisi jarang pergi ke luar kampus (dulu). Walau, dari dulu emang secara pertemanan, jumlah temenku ini selalu bisa dihitung jari sih. Heran juga kenapa ada beberapa kenalan(baru)ku yang kurang percaya bahwa MBTI-ku adalah INTJ, utamanya di I-nya yang selalu lebih dari 90% kalau dites.

Dari kegabutan di awal bulan September yang mengisyaratkan kalau tahun 2026 ini udah 3/4 jalan, aku membaca soal Dunbar's Number. Hal pertama yang membuatku tertarik bukan karena kenapa Patrik dan rekan-rekannya ini berhasil debunk that theory, tapi, sebenarnya apa sih si Dunbar ini. 

Teori yang dibawa oleh Rubin Dunbar, seorang antropolog dan psikolog evolusioner asal Inggris, pada tahun 1990 ini membahas tentang angka 150 yang menjadi batas kognitif otak manusia untuk mempertahankan hubungan sosial yang stabil dan bermakna. Bukan hanya yang oh aku tau siapa nama dia, dia asalnya dari mana, tapi lebih ke sifatnya seperti apa, bagaimana hubungan kita dengan dia, interaksi kita. Lebih jauh, ada teori lingkaran pertemanan atau Dunbar's Circle. 

Source: Emmanuel Lafont

Lingkaran yang semakin membesar semakin tidak dekat, dari 5 orang teman yang sangat dekat dan selalu ada sampai 1500 orang, batas maksimal orang yang wajahnya bisa kita ingat. Nah, kenapa bisa di 150 angkanya? Dunbar ngaitin ini sama ukuran neocortex. Kalau dibaca sekilas, alasannya karena menurut dia mengurus hubungan sosial itu memakan energi otak, jadi otak manusia secara evolusioner membatasi kemampuan komputasi sosialnya di kisaran 150 itu cukup masuk akal sih ya, apalagi di saat itu.

Apalagi, jurnal tahun 1992 ini meyakinkan dunia bahwa struktur biologi otak kita, neocortex, adalah pagar pembatas kehidupan sosial kita. Kenapa primata otaknya berukuran lebih besar daripada manusia lain? Pendapatnya lewat social brain hypothesis ini ya karena otak primata berevolusi besar bukan untuk bertahan hidup mencari makan aja, tapi untuk memproses kerumitan interaksi sosial. Angka yang dihasilkan dari eksperimen setelah menemukan rumus grafik pada 38 primata dan diambil rasio neocortex manusia terus diproses matematis oleh Dunbar. Ini juga ada di 147,8 orang yang akhirnya dibulatkan ke 150. 

Walaupun hal pertama yang kubaca adalah soal kecacatan statistik teori ini di tahun 2021. Ada margin error yang terlalu besar. Rentang margin error dengan interval kepercayaan 95% dari hitungan Durban ini antara 2–520 orang, seluas itu. Ditambah lagi bahwa otak manusia gabisa secara gitu aja disamakan dengan primata karena manusia juga mengalami evolusi budaya  dan pewarisannya yang mengubah cara manusia berpikir dan bertindak dalam skala besar. Yang intinya, Patrik dan 2 rekan lainnya dari Universitas Stockholm ini bilang kalau secara sains batas bersosialisasi manusia itu sangat bervariasi bagi tiap individu.

Aku pun gatau sampai September 2026 ini udah ada berapa banyak hubungan sosial yang terbentuk secara benar-benar bermakna, apakah udah 150, kurang, atau lebih? Ahahaha, 나인 말라. Tapi dengan menjadikan membaca buku sebagai tameng ketika malas berinteraksi dengan manusia lain... mungkin kurang dari 150 AHAHAHA sulit buatku menyebut membaca buku sebagai hobi karena secara asli dan sejujur-jujurnya emang.. dia tameng paling ampuh untuk menghindar dari banyak interaksi baru. 

Aku suka ketika ada orang yang bisa approaching me well, kaya, terharu gitu (agak alay ya mengetik ini). Tapi tapi, aku sangat lebih suka untuk menjadi tuan rumah daripada tamu dalam suatu interaksi atau obrolan karena aku bisa menyetir obrolan ini mau ke mana, aku bisa ngatur jaraknya, sejauh apa investasinya, sehangat apa kedekatannya, se transaksional apa. Daripada aku yang harus  ada di wilayah orang lain dengan ritme yang mereka atur dulu. Ya ya ya, sebut aja I prefer host mentality than guest mentality. Tapi balik lagi sih, karena diri ini terkadang malas memulai duluan hehe, jadi paragraf ini tidak dimaksudkan untuk menolak orang baik yang sudah berusaha merangkul orang ke dalam obrolannya, merangkulku ke obrolannya. Udah cukup panjang juga pembahasan untuk memulai bulan baru ini dengan membayangkan miliaran manusia berseliweran menuntut interaksi yang terasa lebih rumit, so mari kita tutup dengan penggalan dari Pale Blue Dot-nya Carl Sagan,

"Look again at that dot. That's here. That's home. That's us. On it everyone you love, everyone you know, everyone you ever heard of, every human being who ever was, lived out their lives. The aggregate of our joy and suffering, thousands of confident religions, ideologies, and economic doctrines, every hunter and forager, every hero and coward, every creator and destroyer of civilization, every king and peasant, every young couple in love, every mother and father, hopeful child, inventor and explorer, every teacher of morals, every corrupt politician, every 'superstar,' every 'supreme leader,' every saint and sinner in the history of our species lived there—on a mote of dust suspended in a sunbeam."

Semua obrolan, entah basa-basi entah berat, semua interaksi, entah berisik entah menenangkan, pada skala alam semesta, semua hanyalah debu kosmik, dan kita berhak memilih siapa yang ingin kita undang ke dunia kita, pun siapa yang kita usir secara paksa ataupun kita tuntun untuk pergi darinya.


Belajar berbahasa sepertinya untuk orang Indonesia sudah ditanamkan sejak sekolah dasar. Bahasa Indonesia sih ya, yang sering dikesampingkan sastranya. Sastra Indonesia terasa kurang mendapat porsi di negeri sendiri, yang satu hal mungkin karena kurikulum yang terlalu pragmatis atau orientasi ujian sebagai sistem evaluasi yang... ya seperti mengejar target aja. Bukan untuk sepenuhnya membedah sebuah karya sebuah novel  sebuah puisi secara utuh.

Pengakaran masalah dari sastra di bangku sekolah membuatku berpikir bahwa sepertinya mengesampingkan sastra dari pendidikan berkaitan dengan realitas diksi masyarakat Indonesia saat ini. Kosakatanya jadi terbatas, miskin emosi. Misal, untuk menggambarkan suasana sedih di hati, yang sering didengar ya mentok 'galau' atau 'sedih banget ih', padahal banyak diksi kita yang tingkatan emosinya luar biasa nyata, seperti terpukul, pilu, merasa, sayu, atau bahkan nelangsa.

Pun karena bahasa diajarkan sebagai alat akademis aja, ya, jadinya bahasa Indonesia ini jadi terkesan kaku kalau digunakan secara baik dan benar. Tentu, kekakuan tadi akhirnya dianggap tidak mampu mewadahi emosi harian, padahal ini akibat dari absennya sentuhan sastra, yang membuat masyarakat memproduksi diksinya sendiri, bahasa gaul, atau ya, bahasa campur kode untuk mencari keluwesan berekspresi. 

Sebenarnya kejadian yang membawaku terpikir akan hal ini bukan karena media sosial ataupun perdebatan sih. Ada suatu kejadian yang akhirnya membuat kata 'melindungi' sampai di gendang telingaku. Melindungi berarti upaya menjaga, merawat, atau menyelamatkan agar terhindar dari bahaya, serangan, ataupun hal buruk lainnya. Hal ini mengganjal bagiku karena keluar dari mulut orang yang menggunakan 'melindungi' sebagai alasan untuk melakukan hal yang tidak sesuai dengan aturannya. Ya, untuk apa dilindungi? Dia (orang yang kubicarakan dengan orang yang menyebut kata 'melindungi' ini) tidak butuh pelindung. Tidak butuh diselamatkan? Kalau sekali, okelah, tapi ini dua kali aku mendengarnya.

Awalnya kurasa yaudah lah ya, namanya juga orang, mungkin emang salah diksi aja, walaupun dua orang sekaligus. Ya.. cuma akhirnya ada lagi kejadian di 30 menit pagi hariku yang membuat panas matahari bukan lagi terasa di kulit dan jadi keringat, tapi jadi gerutu. Ya, dilogika aja sih, ya. Manusia kan beragam, ya. 1 atau 2 tahun manusia hidup di suatu tempat yang mengharuskan dia menjadi kotak-kotakan sistem tidak akan dengan mudah mengubah hidupnya seperti yang udah dia jalani selama 20 atau belasan tahun.  Sekuat apa pun kotakan itu dalam membentuk sesuatu yang diinginkan, manusia bukan semangka ataupun melon lunak yang secara sukarela memasrahkan dirinya untuk langsung ikut bentuk tadi. 

Secara mudahnya, kenapa ketika ada orang yang melakukan kesalahan, harus dikaitkan dengan orang sekitarnya dulu sebelum otak dan urat malu manusia yang berbuat salah ini dibedah secara terang-terangan? Kesalahan pertama, sekali lagi, okelah, kesalahan dua kali, berkali-kali, bukankah lebih buruk daripada keledai? (Ini kalimat dari orang yang sering masuk ke telingaku, izinkan aku mengutipnya)

Kalau ada orang menyontek, ya sudah, itu murni kesalahan pribadi manusia itu karena dia sesimpel memang salah. Kenapa harus diksi lalai dikaitkan dengan rekan sehingga membentuk kalimat menyonteknya satu rekan adalah akibat dari kelalaian rekan lainnya yang tidak peduli dengan sesama? Penuntutan terhadap tanggung jawab komunal? Pengkambinghitaman sebagai sebuah jalan lari dari evaluasi dengan cara mendangkalkan logika?

Ditambah dengan keberadaan rekan-rekan ini dalam sistem yang sama, dalam input yang diberikan sama, ya, kalau sama, ada output yang tidak sesuai harapan, bukankah secara sadar tikus pun tahu siapa yang salah di sini? Apakah dengan melontarkan kalimat bahwa kesalahan titik-titik dalam sistem ini kelalaian sesamanya secara mudah akan mendangkalkan atau membungkam pikiran untuk menuruti apa yang dimau? Aku rasa tidak sedungu itu untuk mengibuli sasaran. 

Sesimpel, konsisten. Kalau memang dirasa apa pun itu yang berada di sistem yang sama dengan pernyataan bahwa telah memberikan segalanya secara sama dan rata, berarti kalau ada yang salah dalam output, salah sistemnya. Pun, konsisten, kalau dirasa memiliki setitik pengetahuan bahwa manusia memang makhluk kompleks dengan segala runtutan peristiwa yang membentuknya, maka ketika ada kesalahan, ya, itu adalah kesalahannya, kesalahan pribadinya, bukan sepenuhnya kelalaian sesamanya, termasuk ketika ada upaya 'saling mengingatkan' atau 'saling menolong'.

Entahlah, kurasa racauanku tidak berujung, entah siapa yang salah pun, entahlah. Sepanjang sejarah pun keadilan memang selalu dituntut hadir tanpa pilih kasih pada domba-domba peliharaan, ya, tentu saja, itu pun dengan catatan pengembalanya tidak dungu dan punya cukup pengetahuan terkait kata adil.


Kalau hari sabtu malam di asrama, aku pasti akan lebih cepat berusaha tidur. Satu karena pengen di kasur lebih lama dari biasanya. Dua karena mau baca buku di kasur. Tiga karena pasti masih sepi asramanya.  Seringnya kusadari, tiap kali aku melakukan pelarian diri bernama membaca, aku ketiduran. Bangun-bangun, buku yang dibaca semalam pasti ada di lantai (maaf ya buku). Itu kasus terbaik sih karena biasanya dia tiba-tiba hilang dari pandangan dan kutemuin dia ada di celah antara tembok dan kasur.

Keinginan di kasur lebih lama itu sebenarnya bukan karena aku pengen tidur lebih lama karena ya untuk apa di hari sabtu malam tidur cepet-cepet?  Hari sabtu malam adalah hari paling indah nan nyaman untuk berimajinasi, senyum-senyum sendiri, dan mempertanyakan hati, hihihi. Yap, waktu untuk seorang penyendiri ini menyendiri dan menikmati waktu berdua doang dengan pikiran (dan ngomong sendiri) (kadang kesel sendiri) (tapi tetep meyendiri, bukan berdua) (berduanya sama pikiran sendiri). 

Dengan rutinitas yang udah kuanggap jadwal pasti ini, ada juga faktor-faktor yang kadang bikin kesel. Yap, ketiduran tadi. Like, hello?? Aku mau baca dan ini setengah jalan, kapan lagi aku bisa baca dengan tenang di kasur senyaman ini, tapi kenapa ketiduran? Hell nah. 

Cuma ya, pas bangun... badan lebih seger dan semangat sih, daripada ketika kebanyakan mengisi otak dengan banyak diksi baru terus baru tidur, ketiduran terasa... oke juga? Ahahaha. Ya memang dalam jenis kegiatan dan kondisi apapun, ketiduran itu adalah hal yang di luar kontrol ya. Seperti ketiduran sambil duduk padahal tangan masih kipas-kipas dan raga masih di tempat dimana telinga kita dengerin orang pidato x y z tentang sesuatu yang ga kedengeran. Walaupun ada momen yang membuat ketiduran jadi malapetaka kalau di situasi yang ga pas, ya namanya juga hal di luar kontrol kan. 

Perkara tidur ini mengingatkanku terhadap Al-Anfal (8:11). 

اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ اَمَنَةً مِّنْهُ...۝١١

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya. Rasa kantuk ringan atau ketiduran النُّعَاسَ (an-nu'aas) menyelimuti kita يُغَشِّيْكُمُ (yughasysyikumu) yang di dalam ayat ini berasal dari Allah مِّنْهُ. 

Bayangin, malam menjelang perang badar, pasukan muslim dengan jumlah 313 orang berhadapan dengan pasukan quraisy 1000 orang. Secara jumlah, kalah, secara senjata, kalah, ditambah lagi dengan krisis dan fakta bahwa pasukan quraisy udah lebih dulu menguasai sumber mata air badar. Di masa ini, mereka benar-benar dalam keadaan yang sungguh seperti ga ada jalan lagi, apalagi dengan banyaknya bisikah-bisikan sesat.

Tapi Allah mengirimkan keajaibannya dalam 4 bentuk, yang salah satunya ya rasa kantuk tiba-tiba alias ketiduran ini. Pasukan yang kelelahan rohani jasmani ini diberikan rasa kantuk dan semuanya ketiduran pulas, hanya Rasulullah SAW yang ga tidur dan menghabiskan malam bermunajat di bawah pohon. Allah selalu tahu persis apa yang dibutuhkan hamba-Nya. Secara logika pasti kita bukan tidur yang ada di pikiran penuh kekhawatiran seperti saat perang ini kan, tapi apa kata Allah, yang paling dibutuhkan ya istirahat, untuk ketenangan pikiran, ketenangan mental. Kedamaian hari yang berasal dari Allah di luar kalkulasi manusia. Lagi-lagi, ya, menurutku ketiduran memang lebih nikmat daripada tidur.

Yah cerita ini mengingatkanku dengan ketiduran yang sering kualami di sabtu malam ataupun di hari-hari lain dimana aku merasa dalam perhitunganku tidur bukan hal yang kubutuhkan, tapi ketiduran bisa menjadi miniatur bahwa apa yang diberikan Allah pasti lebih nikmat dan tepat sasaran, bahwa Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan, daripada apa yang telah kita kalkulasikan. وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ


Living under the same roof for over a decade, bathed in what I thought was love, only to realize much later that it was anything but. You made me feel like I could conquer the world on my own, handing me this pseudo-freedom to do as I pleased, until it dawned on me that it was just your way of saying you had bigger fish to fry. Your selective apathy left a younger me utterly bewildered. You gave me everything but peace, loving me completely in your absence.

Watered my youth with trauma, conditioning me to believe that affection under our roof was merely a transaction, a warmth I had to plead for, a love I had to beg on my knees just to earn. And though she fights tooth and nail to shatter the illusion of those scars by loving me entirely, it has left me tragically incapable of dropping my guard. Remain forever suspicious of everyone's affection, not even sparing hers.

I can't even pinpoint when I stopped wanting to remember, though the memory stubbornly lingers anyway. That time I thought you’d pick me up after letting me set off alone on a day when everyone else was beaming at their little girl, or at least, I still saw myself as a little girl back then. It was the day I got all dolled up to honor the heroine whose celebration falls in the very same month I was born. But as it turned out, I had to make my way home alone, too. I don't even know what the point was of waiting endlessly on that school sidewalk, brushing off everyone's concerned questions with a breezy, "My ride is on the way kok, aman aja," while turning down their offers for a lift. What was the point of filling my heart with such brimming anticipation, if in the end, a crushing disappointment was the only lesson you taught me for daring to dream of a little more love?

Apologies? Were there dozens? Thousands? I can’t even recall if a single "I'm sorry" ever reached my ears that day. Me, never one to cry easily, bottled up my anger behind a thousand silences. And before I could even voice the reason behind my quiet fury, I was shut down, told that I simply had to accept "grown-up matters" that were often sudden and unforeseen. Tell me, was stripping away my hopes that day part of those meticulously planned grown-up matters?

And now, after everything, after all those seemingly trivial moments adults assume a constantly smiling child would just forget, it’s as if I’m cornered into accepting. Forced to absorb all your guilt in a situation where turning my back simply isn't an option. Honestly, if I could speak my mind without consequence, yes, I don't mind bending to your demands or fulfilling your expectations, especially seeing you so helpless now. I swear I'm not sick of it, I'm just, utterly exhausted. I just, need you to know that. 

But given how things are, I suppose it’s not my place to say such things out loud. It feels cruel to plant thorns on a withering, old cactus. It feels almost inappropriate to even pen my own story just to make sense of this hollow sadness that hits me whenever you cross my mind. A sadness that doesn't stem from missing you, but from the glaring realization that I am physically incapable of longing for you.

If not for me, could I at least picture a better version of you for her? Just a fleeting 'what if', if only you had treated her better back then. If only you hadn't hidden everything behind a fragile shell, a fragility I now realize I was the cause of. I was even naive enough at one point to think my mere existence could be the glue to hold that shattered shell together. What a brutally misguided assumption that was.

The birthday that never truly free from the ghost of those stripped-away hopes, as much as I loathe dwelling on them. Instead of wishing for all things bright and beautiful on this day, my only prayer is for the sweet relief of amnesia regarding that specific day. If not the day itself, I pray to unfeel what it was like to be profoundly neglected and let down by the very people who sustained my life, yet somehow made me question my own worth.

No, no, it was just one among countless times my happiness was dismantled, but it’s fine. I don't mean to sit here and wallow in past resentments, nor do I intend to withhold forgiveness, because what good would holding a grudge do, rite? I just wanted to not be left behind. I just wanted the man you used to be to be a genuinely good man, better man. Not necessarily for my sake, but for yours, and for her, for us, but whatever, it's okay, I’m used to it now.

"...cruellest month, breeding Lilacs out of the dead land, mixing Memory and desire, stirring Dull roots with spring rain." — T.S. Eliot, The Waste Land


We met in a moment that I couldn't expect. You've crossed my time with your ridiculous way. Asking me why things got so heavy, yet it was before you. With that color of yours, I had greeted some new name. A new friend that I called spectrum.

You made a new schedule for me implicitly. That gave a whole month to always wait for the "hi" and the question, "Okay, what's the color for today?" Your way to pull everything out of my mind so the bear on it is never seen again.

Your way of questioning what happened to me, even though I myself didn't know what happened. But you said that it was crystal clear behind my voice and expressions. Well, yes, I got offended by the way you made me feel like I didn't know myself and you knew me better.

Fed me with your presence, yet you consumed what was inside my heart. In the darkest place, loneliest time, or coldest season, I just walked and had nothing in mind but your company.

In a world full of ravens, you are the one dove. Planting flowers on my things that I call home and naming it a garden. You make everything work on me. You make the spectrum work. You have made me feel drawn to you, though it was a Freudian slip.

Wanted you to be with me, to listen, to judge, to respond, to stay, to the point it all felt too much. Too much for me to ask, too heavy for you to accept, too hurtful for me in the way I realized that I was begging, that I was pestering. But nothing's quite enough when I know that I crossed your line too, something beyond what I expected, and you made me feel that twice.

Like driving a nail into a piece of wood, your schedule hurt. I asked myself many times which is which: a flaw in me that you refuse to face, or if it is just me. It did hurt. I was hurt. Overwhelmed and underfed 'cause your presence is now consuming me.

We still met in person, yet we couldn't look each other in the eye. Our eyes kept dodging. The broken garden had turned the flowers to dust. Foolish of me that I just let it. Foolish of me that I thought letting it go was the only thing that would make you reconsider us. The way I was so in love with the knowledge of your name, the way knowing your smile toward me was the one that I wanted, forgetting all of the sixth paragraph's presence to make it work.

Foolish of me, that smile of yours was something everyone could get, but you left me out of it because you didn't want me catching feelings for you, not after the way you used to talk to me about the things you liked back in the day. Funny how you protected me from yourself, knowing the truth that I was so in love that I was willing to accept the bare minimum to make it work, and you didn't want to be the one giving it.

She was me, after all.


Walking through the fields of green in my evening at 4pm, the moment I pretend to be truly happy. And so, everyone knows, and so, I know it all too well, that I'm not. Happiness is mine to bear the bowl, yet is not mine to hold. Not talking about the virtue, 'cause bloody virtue, I say.

Study shes, yes. I'm patient, you're learning. Patiently learn about the red moon that suddenly comes across our morning sky just to get stared at by someone who can only picture it out with their eyes, nothing else. Perhaps the turf is laughing at the way I wanted it so badly, yet do nothing. 

Is it morning, afternoon, evening, midnight? Well, I guess it's not so different for touching base. Gave the perfunctory greeting, but got blanked and, ya, was just left hanging there. Second-guessing myself if I should even say the greeting again, for later, for tomorrow, for the rest. 

No. Don't ever call it begging. Joy of missing out to enjoy my own company, ya, recharging the social energy. Dare I say that is how solitude comes, okay. No, but just don't. But it's okay, okay, lonely. Torn. Going back and forth. Internal tug-of-war? No, no, not that dramatic. But, yes, okay. Lonely. Lonely is better than begging you to stand up for me, I said to the turf. Not really to the turf, indeed, just saying it so they don't laugh more on my fields of green, on theirs, basically, they do make the fields look green. 

Our home turf is rarely green now, let alone wet. Crazy. Of course not because the water is flowing somewhere else instead of their fields. No, no. So naive. Like love. Turf sees. Turf listens. Turf knows. They are there all the time. 

Rain in June, July, August? Water is so incredibly scarce. Turf is conflicted. Turf loves rain. Turf loves water. Not because it looks good,yes, water is clear, formless, and beautiful too when it falls from the sky. Yet, turf knows that the water is merely present, merely existing. Water is so useful in its daily life, even though the water falling from the sky is actually just falling, without any real intention of showing up to be useful for the turf. But what can it do? 

Both of them are just present. Both of them just exist. Both of them understand it is not love. Too little, or even none at all, makes it as dry as it is now, but too much makes it confused, questioning, doubting, suspicious, and flooded. Even so, if loving means letting go and wishing the best, if love means saying this is the end. Well, I guess the turf wants the rain to love it less.

Menilik Halaman Rumput, where stories become something else

 

Snuggled deep in the white rabbit's fur
Making peace with shadows
on the cave
Expecting Troy from the unknown
Stopping toe from the waltz

Quiet flood
of the answered
Nowhere none, there
Sit here now
and the time melts

The unmarked
envelope
It is anything but little
even when the felt region
feels so small
holding such a capacity

Simply
flowing freely
bypassing all logic
welcoming
even when the hands are completely empty

Crossing
certainly
is like waking up
from the slumber
Teaching the truest, never frantically earned
it is only received

All of the infinite sky to trace
for every truth seeker
Souls have their own realities to chase
out there
in the wider
wilder

Earth grows flowers
in a billion different shapes and colors
And honeybee
will never, ever
run out
of beautiful petals

Let the bees fly out of the cave
to learn
How to be whole
Older Posts Home

Categories

  • Thoughts 17
  • Lintas 15
  • Storiette 10
  • Landing 7
  • Movie 7
  • HoW? 4
  • Women 4
  • Qur'an 2
  • Food 1
  • Health 1

Popular Posts

  • she was so in love that she was willing to accept the bare minimum to make it work
  • Menilik Halaman Rumput: A Monologue
  • Happy Birthday

Archive

  • ►  2021 (18)
    • May 2021 (3)
    • Jun 2021 (2)
    • Jul 2021 (3)
    • Aug 2021 (2)
    • Sep 2021 (2)
    • Oct 2021 (2)
    • Nov 2021 (3)
    • Dec 2021 (1)
  • ►  2022 (15)
    • Jan 2022 (5)
    • Feb 2022 (5)
    • Mar 2022 (2)
    • May 2022 (1)
    • Jul 2022 (1)
    • Dec 2022 (1)
  • ►  2023 (1)
    • Jan 2023 (1)
  • ►  2024 (1)
    • Nov 2024 (1)
  • ►  2025 (1)
    • Jun 2025 (1)
  • ▼  2026 (21)
    • May 2026 (7)
    • Jun 2026 (3)
    • Jul 2026 (4)
    • Aug 2026 (6)
    • Sep 2026 (1)
Powered by Blogger

Copyright © Stood and Stand. Designed by OddThemes