Aktivitas apa yang kalian suka lakuin? Berkebun? Membaca? Berolahraga? Kalau kita berolahraga nih, misal mau ikut half marathon deh, mungkin ga kita berani daftar kalau pas lari 5 kilometer aja kita engap-engapan rasanya kaya mau meninggal di tempat? Tapi kalau kita punya rencana buat ikut kegiatan itu, atau bahkan kita udah nentuin tanggalnya kapan, mungkin ga kalau kita memang ada bekal ke sana? Iya, kalau udah nentuin 'tanggal' atau tujuannya, kita jadi lebih bisa tahu apa yang kita akan bekali.
Apa yang perlu kita bekali? Di mana yang harus diperbaiki, gimana cara kita belajar, dari mana kita bisa mencari ilmu, di area apa yang aku belum siap. Ya, pertanyaan-pertanyaan ini juga sebenarnya adalah bekal awal kita. Kalau ditanya, kapan kita siap, kapan sebenarnya seorang manusia bisa melabeli dirinya sebagai individu yang siap, jawabannya cuma satu. Gaakan ada manusia yang benar-benar siap 100% untuk apa pun itu. Dari hal seperti bangun pagi hingga hal besar seperti kematian.
Apalagi ya, kalau soal relasi, koneksi, atau hubungan dengan manusia lain. Mungkin di umur 20 an, mulai banyak pertanyaan yang timbul, salah satunya, kapan ya bisa ketemu orang tepat, atau akankah aku ada kesempatan buat bertemu dia yang demikian? Banyak orang bilang, jadilah orang yang tepat, bukan mencari mereka yang tepat. Tentu, semua manusia bernyawa ataupun kucing penjaga perpustakaan akan setuju dengan hal ini, termasuk diriku.
Tapi bagaimana kita bisa melabeli diri kita menjadi orang yang tepat itu? Bisa kah kita mengetahui diri kita hanya dengan bersama dengan kita tanpa adanya bantuan orang lain? Atau kalau dalam bahasanya, kan ga mungkin kita test suatu algoritma hanya dari known dataset yang sebelumnya dipakai untuk training, pasti hasilnya bias, dan kita butuh dataset di luar percobaan lainnya. Namun, indikator, parameter, matriks penilaian, bisa kita definisikan, sejauh apa algoritma ini dikatakan siap pakai. Atau kalau masalahnya manusia, di titik apa kita bisa merasa cukup tepat.
Di saat ilmu kita cukup, believe kita bagus, mindset kita benar, value kita punya. Saat semua ini hadir dan ada di dalam diri kita, dengan siapapun Tuhan mempertemukan kita, membuat koneksi kita dalam suatu titik bersama manusia lain, kita pasti bisa menyelaraskannya.
Mungkin kalau pembahasannya ke pernikahan, kadang orang bilang mereka siap nikah ketika apa, ketika ada uang, atau financialnya cukup. Ya, kalau menurutku, financial itu memang bare minimum sih ya, hidup di belahan bumi mana coba yang ga butuh uang. Inilah poinnya, ketika kita mulai mempertanyakan soal eksistensi kita, makna hidup kita, tujuan kita, siapa kita, apa yang kita punya, kita akan menjadi lebih tahu diri, di mana posisi kita dan bagaimana kapasitas kita.
Apalagi soal masa depan, hal yang membuat semua manusia takut bahkan di saat dia tahu dia ga tahu sampai di periode apa dia menjumpai waktu, menjumpai hal yang dilabeli masa depan oleh dirinya yang sekarang. Bahkan kita ga tahu apakah besok adalah salah hal yang akan kita temui kan. Di sinilah, letak tahu diri kita.
Membuat relasi baru dengan orang lain buatku sama besarnya dengan bermimpi. Dalam bermimpi kita harus berani membayar harga untuk mimpi itu. Itulah kenapa menurutku, untuk bermimpi aja banyak manusia yang ga berani, karena merasa kalau dirinya tidak akan sanggup dengan bayaran itu. Sama dengan membuat relasi baru, se naifnya kita terhadap label transaksional dalam sebuah hubungan antara dua atau banyak manusia, berelasi ada harganya. Harga ketika kita membuka kehadiran orang tersebut di dalam salah satu atau banyak hari di kehidupan kita. Harga ketika bayangan tentang orang itu perlahan sirna, hingga harga ketika relasi kita dengannya hanyalah sebuah bekas yang ditinggalkan.
Benar kata drakor yang bahas papago, bahwa di dunia ini ada bahasa sebanyak manusianya. Kita harus menyamakan frekuensi, menyamakan bahasa, menyamakan level, Kita harus tau konsep dia tentang sesuatu itu bagaimana. Bahkan terkadang suatu perkataan saja bisa membuat kita berasumsi, makanya ga semua kata atau kalimat bisa kita maknai secara sama dan lebih baik kita tanyakan seribu pertanyaan itu daripada berasumsi, ketika kita berani untuk berelasi dengan manusia lain, atau dalam konteks ekstrem, berani berjalan lebih jauh dengan manusia itu.
Saat aku berelasi dengan dia, peranku untuk dia itu apa?
Pertanyaan dengan konsep tahu diri dan memantaskan diri inilah yang penting. Tidak semua relasi memang dimulai dari 0. Ada relasi yang secara terpaksa terbentuk dari sebuah komunitas atau lingkungan. Tapi di sinilah intinya: apa peran sebenarnya dari kehadirannya di kehidupan kita dan sebaliknya?
Salah satu parameter kebahagiaanku adalah ketika aku bisa melihat kemampuan seseorang untuk bertumbuh. Ketika berelasi, ada beberapa yang akan melabeli dirinya dengan 'beginilah aku, take it or leave it' bahasa mudahnya. Kaya kucing, ada kucing yang, ya, gini deh aku, kalau ga suka ga usah pegang-pegang, tapi ada juga kucing yang kadang peduli dengan melihat kita. Kucing yang kalau ketemu, pasti ngasih gap 5 detik untuk kita dan dia tatap-tatapan tanpa ada sepatah kata yang keluar juga, karna kalau keluar pun juga gaakan paham sih ya.. malah kabur bisa bisa.
Kadang aku membenci orang yang bilang terima aku apa adanya atau menerima orang apa adanya. Menerima apa adanya bearti ia enggan untuk bertumbuh menjadi baik. Padahal, we have so much in our hands. Ya, balik lagi kalau kaitannya soal relasinya pasangan. Kalau ada orang yang membuat kita bingung, tanyakan, jangan terima apa adanya. Terlebih kalau pasangan, kita harus bisa melihat kemampuan calon kita untuk bertumbuh. Tanyakan. Kalau dia tidak berani memberi jawaban karna tidak siap, tanyakan, tanyakan parameter siapnya seperti apa.
Knows everything but values nothing.
Bahkan untuk tau aja kita ga mau, gimana cara kita bisa memberi nilai untuk sesuatu yang kita ga tau. Kita harus tau se berharga apa kita memberi nilai suatu relasi, koneksi, hubungan, dan mempertanyakan siap kah kita untuk membayar dengan harga itu. Kita harus belajar memberikan nilainya sendiri.
Ya, sekali lagi, untuk dunia dan apapun yang berjalan di dalamnya, kita gaakan pernah siap untuk hal itu. Ketakutan terhadap masa depan pun, siapa sih yang merasa siap dengan masa depan? Lagi pula, hidup apa yang ada tanpa adanya badai? Suatu petualangan tidak akan pernah menghasilkan pembelajar tanpa hadirnya tantangan yang berhasil dilalui dan diselesaikan.
nb. segala bentuk tantangan di dunia, semoga kita mampu melaluinya dengan hati yang lapang
.png)
.png)









.png)

