Kalau hari sabtu malam di asrama, aku pasti akan lebih cepat berusaha tidur. Satu karena pengen di kasur lebih lama dari biasanya. Dua karena mau baca buku di kasur. Tiga karena pasti masih sepi asramanya. Seringnya kusadari, tiap kali aku melakukan pelarian diri bernama membaca, aku ketiduran. Bangun-bangun, buku yang dibaca semalam pasti ada di lantai (maaf ya buku). Itu kasus terbaik sih karena biasanya dia tiba-tiba hilang dari pandangan dan kutemuin dia ada di celah antara tembok dan kasur.
Keinginan di kasur lebih lama itu sebenarnya bukan karena aku pengen tidur lebih lama karena ya untuk apa di hari sabtu malam tidur cepet-cepet? Hari sabtu malam adalah hari paling indah nan nyaman untuk berimajinasi, senyum-senyum sendiri, dan mempertanyakan hati, hihihi. Yap, waktu untuk seorang penyendiri ini menyendiri dan menikmati waktu berdua doang dengan pikiran (dan ngomong sendiri) (kadang kesel sendiri) (tapi tetep meyendiri, bukan berdua) (berduanya sama pikiran sendiri).
Dengan rutinitas yang udah kuanggap jadwal pasti ini, ada juga faktor-faktor yang kadang bikin kesel. Yap, ketiduran tadi. Like, hello?? Aku mau baca dan ini setengah jalan, kapan lagi aku bisa baca dengan tenang di kasur senyaman ini, tapi kenapa ketiduran? Hell nah.
Cuma ya, pas bangun... badan lebih seger dan semangat sih, daripada ketika kebanyakan mengisi otak dengan banyak diksi baru terus baru tidur, ketiduran terasa... oke juga? Ahahaha. Ya memang dalam jenis kegiatan dan kondisi apapun, ketiduran itu adalah hal yang di luar kontrol ya. Seperti ketiduran sambil duduk padahal tangan masih kipas-kipas dan raga masih di tempat dimana telinga kita dengerin orang pidato x y z tentang sesuatu yang ga kedengeran. Walaupun ada momen yang membuat ketiduran jadi malapetaka kalau di situasi yang ga pas, ya namanya juga hal di luar kontrol kan.
Perkara tidur ini mengingatkanku terhadap Al-Anfal (8:11).
اِذْ ÙŠُغَØ´ِّÙŠْÙƒُÙ…ُ النُّعَاسَ اَÙ…َÙ†َØ©ً Ù…ِّÙ†ْÙ‡ُ...١١
(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya. Rasa kantuk ringan atau ketiduran النُّعَاسَ (an-nu'aas) menyelimuti kita ÙŠُغَØ´ِّÙŠْÙƒُÙ…ُ (yughasysyikumu) yang di dalam ayat ini berasal dari Allah Ù…ِّÙ†ْÙ‡ُ.
Bayangin, malam menjelang perang badar, pasukan muslim dengan jumlah 313 orang berhadapan dengan pasukan quraisy 1000 orang. Secara jumlah, kalah, secara senjata, kalah, ditambah lagi dengan krisis dan fakta bahwa pasukan quraisy udah lebih dulu menguasai sumber mata air badar. Di masa ini, mereka benar-benar dalam keadaan yang sungguh seperti ga ada jalan lagi, apalagi dengan banyaknya bisikah-bisikan sesat.
Tapi Allah mengirimkan keajaibannya dalam 4 bentuk, yang salah satunya ya rasa kantuk tiba-tiba alias ketiduran ini. Pasukan yang kelelahan rohani jasmani ini diberikan rasa kantuk dan semuanya ketiduran pulas, hanya Rasulullah SAW yang ga tidur dan menghabiskan malam bermunajat di bawah pohon. Allah selalu tahu persis apa yang dibutuhkan hamba-Nya. Secara logika pasti kita bukan tidur yang ada di pikiran penuh kekhawatiran seperti saat perang ini kan, tapi apa kata Allah, yang paling dibutuhkan ya istirahat, untuk ketenangan pikiran, ketenangan mental. Kedamaian hari yang berasal dari Allah di luar kalkulasi manusia. Lagi-lagi, ya, menurutku ketiduran memang lebih nikmat daripada tidur.
Yah cerita ini mengingatkanku dengan ketiduran yang sering kualami di sabtu malam ataupun di hari-hari lain dimana aku merasa dalam perhitunganku tidur bukan hal yang kubutuhkan, tapi ketiduran bisa menjadi miniatur bahwa apa yang diberikan Allah pasti lebih nikmat dan tepat sasaran, bahwa Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan, daripada apa yang telah kita kalkulasikan. ÙˆَاللّٰÙ‡ُ ÙŠَعْÙ„َÙ…ُ ÙˆَاَÙ†ْتُÙ…ْ Ù„َا تَعْÙ„َÙ…ُÙˆْÙ†َࣖ

.png)
.png)
.png)

.png)
.png)