Belajar berbahasa sepertinya untuk orang Indonesia sudah ditanamkan sejak sekolah dasar. Bahasa Indonesia sih ya, yang sering dikesampingkan sastranya. Sastra Indonesia terasa kurang mendapat porsi di negeri sendiri, yang satu hal mungkin karena kurikulum yang terlalu pragmatis atau orientasi ujian sebagai sistem evaluasi yang... ya seperti mengejar target aja. Bukan untuk sepenuhnya membedah sebuah karya sebuah novel sebuah puisi secara utuh.
Pengakaran masalah dari sastra di bangku sekolah membuatku berpikir bahwa sepertinya mengesampingkan sastra dari pendidikan berkaitan dengan realitas diksi masyarakat Indonesia saat ini. Kosakatanya jadi terbatas, miskin emosi. Misal, untuk menggambarkan suasana sedih di hati, yang sering didengar ya mentok 'galau' atau 'sedih banget ih', padahal banyak diksi kita yang tingkatan emosinya luar biasa nyata, seperti terpukul, pilu, merasa, sayu, atau bahkan nelangsa.
Pun karena bahasa diajarkan sebagai alat akademis aja, ya, jadinya bahasa Indonesia ini jadi terkesan kaku kalau digunakan secara baik dan benar. Tentu, kekakuan tadi akhirnya dianggap tidak mampu mewadahi emosi harian, padahal ini akibat dari absennya sentuhan sastra, yang membuat masyarakat memproduksi diksinya sendiri, bahasa gaul, atau ya, bahasa campur kode untuk mencari keluwesan berekspresi.
Sebenarnya kejadian yang membawaku terpikir akan hal ini bukan karena media sosial ataupun perdebatan sih. Ada suatu kejadian yang akhirnya membuat kata 'melindungi' sampai di gendang telingaku. Melindungi berarti upaya menjaga, merawat, atau menyelamatkan agar terhindar dari bahaya, serangan, ataupun hal buruk lainnya. Hal ini mengganjal bagiku karena keluar dari mulut orang yang menggunakan 'melindungi' sebagai alasan untuk melakukan hal yang tidak sesuai dengan aturannya. Ya, untuk apa dilindungi? Dia (orang yang kubicarakan dengan orang yang menyebut kata 'melindungi' ini) tidak butuh pelindung. Tidak butuh diselamatkan? Kalau sekali, okelah, tapi ini dua kali aku mendengarnya.
Awalnya kurasa yaudah lah ya, namanya juga orang, mungkin emang salah diksi aja, walaupun dua orang sekaligus. Ya.. cuma akhirnya ada lagi kejadian di 30 menit pagi hariku yang membuat panas matahari bukan lagi terasa di kulit dan jadi keringat, tapi jadi gerutu. Ya, dilogika aja sih, ya. Manusia kan beragam, ya. 1 atau 2 tahun manusia hidup di suatu tempat yang mengharuskan dia menjadi kotak-kotakan sistem tidak akan dengan mudah mengubah hidupnya seperti yang udah dia jalani selama 20 atau belasan tahun. Sekuat apa pun kotakan itu dalam membentuk sesuatu yang diinginkan, manusia bukan semangka ataupun melon lunak yang secara sukarela memasrahkan dirinya untuk langsung ikut bentuk tadi.
Secara mudahnya, kenapa ketika ada orang yang melakukan kesalahan, harus dikaitkan dengan orang sekitarnya dulu sebelum otak dan urat malu manusia yang berbuat salah ini dibedah secara terang-terangan? Kesalahan pertama, sekali lagi, okelah, kesalahan dua kali, berkali-kali, bukankah lebih buruk daripada keledai? (Ini kalimat dari orang yang sering masuk ke telingaku, izinkan aku mengutipnya)
Kalau ada orang menyontek, ya sudah, itu murni kesalahan pribadi manusia itu karena dia sesimpel memang salah. Kenapa harus diksi lalai dikaitkan dengan rekan sehingga membentuk kalimat menyonteknya satu rekan adalah akibat dari kelalaian rekan lainnya yang tidak peduli dengan sesama? Penuntutan terhadap tanggung jawab komunal? Pengkambinghitaman sebagai sebuah jalan lari dari evaluasi dengan cara mendangkalkan logika?
Ditambah dengan keberadaan rekan-rekan ini dalam sistem yang sama, dalam input yang diberikan sama, ya, kalau sama, ada output yang tidak sesuai harapan, bukankah secara sadar tikus pun tahu siapa yang salah di sini? Apakah dengan melontarkan kalimat bahwa kesalahan titik-titik dalam sistem ini kelalaian sesamanya secara mudah akan mendangkalkan atau membungkam pikiran untuk menuruti apa yang dimau? Aku rasa tidak sedungu itu untuk mengibuli sasaran.
Sesimpel, konsisten. Kalau memang dirasa apa pun itu yang berada di sistem yang sama dengan pernyataan bahwa telah memberikan segalanya secara sama dan rata, berarti kalau ada yang salah dalam output, salah sistemnya. Pun, konsisten, kalau dirasa memiliki setitik pengetahuan bahwa manusia memang makhluk kompleks dengan segala runtutan peristiwa yang membentuknya, maka ketika ada kesalahan, ya, itu adalah kesalahannya, kesalahan pribadinya, bukan sepenuhnya kelalaian sesamanya, termasuk ketika ada upaya 'saling mengingatkan' atau 'saling menolong'.
Entahlah, kurasa racauanku tidak berujung, entah siapa yang salah pun, entahlah. Sepanjang sejarah pun keadilan memang selalu dituntut hadir tanpa pilih kasih pada domba-domba peliharaan, ya, tentu saja, itu pun dengan catatan pengembalanya tidak dungu dan punya cukup pengetahuan terkait kata adil.
.png)

.png)
.png)
.png)

.png)