Stood and Stand

by Citra Maharani

Stood and Stand
  • Home
  • Author
  • Portofolio


Belajar berbahasa sepertinya untuk orang Indonesia sudah ditanamkan sejak sekolah dasar. Bahasa Indonesia sih ya, yang sering dikesampingkan sastranya. Sastra Indonesia terasa kurang mendapat porsi di negeri sendiri, yang satu hal mungkin karena kurikulum yang terlalu pragmatis atau orientasi ujian sebagai sistem evaluasi yang... ya seperti mengejar target aja. Bukan untuk sepenuhnya membedah sebuah karya sebuah novel  sebuah puisi secara utuh.

Pengakaran masalah dari sastra di bangku sekolah membuatku berpikir bahwa sepertinya mengesampingkan sastra dari pendidikan berkaitan dengan realitas diksi masyarakat Indonesia saat ini. Kosakatanya jadi terbatas, miskin emosi. Misal, untuk menggambarkan suasana sedih di hati, yang sering didengar ya mentok 'galau' atau 'sedih banget ih', padahal banyak diksi kita yang tingkatan emosinya luar biasa nyata, seperti terpukul, pilu, merasa, sayu, atau bahkan nelangsa.

Pun karena bahasa diajarkan sebagai alat akademis aja, ya, jadinya bahasa Indonesia ini jadi terkesan kaku kalau digunakan secara baik dan benar. Tentu, kekakuan tadi akhirnya dianggap tidak mampu mewadahi emosi harian, padahal ini akibat dari absennya sentuhan sastra, yang membuat masyarakat memproduksi diksinya sendiri, bahasa gaul, atau ya, bahasa campur kode untuk mencari keluwesan berekspresi. 

Sebenarnya kejadian yang membawaku terpikir akan hal ini bukan karena media sosial ataupun perdebatan sih. Ada suatu kejadian yang akhirnya membuat kata 'melindungi' sampai di gendang telingaku. Melindungi berarti upaya menjaga, merawat, atau menyelamatkan agar terhindar dari bahaya, serangan, ataupun hal buruk lainnya. Hal ini mengganjal bagiku karena keluar dari mulut orang yang menggunakan 'melindungi' sebagai alasan untuk melakukan hal yang tidak sesuai dengan aturannya. Ya, untuk apa dilindungi? Dia (orang yang kubicarakan dengan orang yang menyebut kata 'melindungi' ini) tidak butuh pelindung. Tidak butuh diselamatkan? Kalau sekali, okelah, tapi ini dua kali aku mendengarnya.

Awalnya kurasa yaudah lah ya, namanya juga orang, mungkin emang salah diksi aja, walaupun dua orang sekaligus. Ya.. cuma akhirnya ada lagi kejadian di 30 menit pagi hariku yang membuat panas matahari bukan lagi terasa di kulit dan jadi keringat, tapi jadi gerutu. Ya, dilogika aja sih, ya. Manusia kan beragam, ya. 1 atau 2 tahun manusia hidup di suatu tempat yang mengharuskan dia menjadi kotak-kotakan sistem tidak akan dengan mudah mengubah hidupnya seperti yang udah dia jalani selama 20 atau belasan tahun.  Sekuat apa pun kotakan itu dalam membentuk sesuatu yang diinginkan, manusia bukan semangka ataupun melon lunak yang secara sukarela memasrahkan dirinya untuk langsung ikut bentuk tadi. 

Secara mudahnya, kenapa ketika ada orang yang melakukan kesalahan, harus dikaitkan dengan orang sekitarnya dulu sebelum otak dan urat malu manusia yang berbuat salah ini dibedah secara terang-terangan? Kesalahan pertama, sekali lagi, okelah, kesalahan dua kali, berkali-kali, bukankah lebih buruk daripada keledai? (Ini kalimat dari orang yang sering masuk ke telingaku, izinkan aku mengutipnya)

Kalau ada orang menyontek, ya sudah, itu murni kesalahan pribadi manusia itu karena dia sesimpel memang salah. Kenapa harus diksi lalai dikaitkan dengan rekan sehingga membentuk kalimat menyonteknya satu rekan adalah akibat dari kelalaian rekan lainnya yang tidak peduli dengan sesama? Penuntutan terhadap tanggung jawab komunal? Pengkambinghitaman sebagai sebuah jalan lari dari evaluasi dengan cara mendangkalkan logika?

Ditambah dengan keberadaan rekan-rekan ini dalam sistem yang sama, dalam input yang diberikan sama, ya, kalau sama, ada output yang tidak sesuai harapan, bukankah secara sadar tikus pun tahu siapa yang salah di sini? Apakah dengan melontarkan kalimat bahwa kesalahan titik-titik dalam sistem ini kelalaian sesamanya secara mudah akan mendangkalkan atau membungkam pikiran untuk menuruti apa yang dimau? Aku rasa tidak sedungu itu untuk mengibuli sasaran. 

Sesimpel, konsisten. Kalau memang dirasa apa pun itu yang berada di sistem yang sama dengan pernyataan bahwa telah memberikan segalanya secara sama dan rata, berarti kalau ada yang salah dalam output, salah sistemnya. Pun, konsisten, kalau dirasa memiliki setitik pengetahuan bahwa manusia memang makhluk kompleks dengan segala runtutan peristiwa yang membentuknya, maka ketika ada kesalahan, ya, itu adalah kesalahannya, kesalahan pribadinya, bukan sepenuhnya kelalaian sesamanya, termasuk ketika ada upaya 'saling mengingatkan' atau 'saling menolong'.

Entahlah, kurasa racauanku tidak berujung, entah siapa yang salah pun, entahlah. Sepanjang sejarah pun keadilan memang selalu dituntut hadir tanpa pilih kasih pada domba-domba peliharaan, ya, tentu saja, itu pun dengan catatan pengembalanya tidak dungu dan punya cukup pengetahuan terkait kata adil.


Kalau hari sabtu malam di asrama, aku pasti akan lebih cepat berusaha tidur. Satu karena pengen di kasur lebih lama dari biasanya. Dua karena mau baca buku di kasur. Tiga karena pasti masih sepi asramanya.  Seringnya kusadari, tiap kali aku melakukan pelarian diri bernama membaca, aku ketiduran. Bangun-bangun, buku yang dibaca semalam pasti ada di lantai (maaf ya buku). Itu kasus terbaik sih karena biasanya dia tiba-tiba hilang dari pandangan dan kutemuin dia ada di celah antara tembok dan kasur.

Keinginan di kasur lebih lama itu sebenarnya bukan karena aku pengen tidur lebih lama karena ya untuk apa di hari sabtu malam tidur cepet-cepet?  Hari sabtu malam adalah hari paling indah nan nyaman untuk berimajinasi, senyum-senyum sendiri, dan mempertanyakan hati, hihihi. Yap, waktu untuk seorang penyendiri ini menyendiri dan menikmati waktu berdua doang dengan pikiran (dan ngomong sendiri) (kadang kesel sendiri) (tapi tetep meyendiri, bukan berdua) (berduanya sama pikiran sendiri). 

Dengan rutinitas yang udah kuanggap jadwal pasti ini, ada juga faktor-faktor yang kadang bikin kesel. Yap, ketiduran tadi. Like, hello?? Aku mau baca dan ini setengah jalan, kapan lagi aku bisa baca dengan tenang di kasur senyaman ini, tapi kenapa ketiduran? Hell nah. 

Cuma ya, pas bangun... badan lebih seger dan semangat sih, daripada ketika kebanyakan mengisi otak dengan banyak diksi baru terus baru tidur, ketiduran terasa... oke juga? Ahahaha. Ya memang dalam jenis kegiatan dan kondisi apapun, ketiduran itu adalah hal yang di luar kontrol ya. Seperti ketiduran sambil duduk padahal tangan masih kipas-kipas dan raga masih di tempat dimana telinga kita dengerin orang pidato x y z tentang sesuatu yang ga kedengeran. Walaupun ada momen yang membuat ketiduran jadi malapetaka kalau di situasi yang ga pas, ya namanya juga hal di luar kontrol kan. 

Perkara tidur ini mengingatkanku terhadap Al-Anfal (8:11). 

اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ اَمَنَةً مِّنْهُ...۝١١

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya. Rasa kantuk ringan atau ketiduran النُّعَاسَ (an-nu'aas) menyelimuti kita يُغَشِّيْكُمُ (yughasysyikumu) yang di dalam ayat ini berasal dari Allah مِّنْهُ. 

Bayangin, malam menjelang perang badar, pasukan muslim dengan jumlah 313 orang berhadapan dengan pasukan quraisy 1000 orang. Secara jumlah, kalah, secara senjata, kalah, ditambah lagi dengan krisis dan fakta bahwa pasukan quraisy udah lebih dulu menguasai sumber mata air badar. Di masa ini, mereka benar-benar dalam keadaan yang sungguh seperti ga ada jalan lagi, apalagi dengan banyaknya bisikah-bisikan sesat.

Tapi Allah mengirimkan keajaibannya dalam 4 bentuk, yang salah satunya ya rasa kantuk tiba-tiba alias ketiduran ini. Pasukan yang kelelahan rohani jasmani ini diberikan rasa kantuk dan semuanya ketiduran pulas, hanya Rasulullah SAW yang ga tidur dan menghabiskan malam bermunajat di bawah pohon. Allah selalu tahu persis apa yang dibutuhkan hamba-Nya. Secara logika pasti kita bukan tidur yang ada di pikiran penuh kekhawatiran seperti saat perang ini kan, tapi apa kata Allah, yang paling dibutuhkan ya istirahat, untuk ketenangan pikiran, ketenangan mental. Kedamaian hari yang berasal dari Allah di luar kalkulasi manusia. Lagi-lagi, ya, menurutku ketiduran memang lebih nikmat daripada tidur.

Yah cerita ini mengingatkanku dengan ketiduran yang sering kualami di sabtu malam ataupun di hari-hari lain dimana aku merasa dalam perhitunganku tidur bukan hal yang kubutuhkan, tapi ketiduran bisa menjadi miniatur bahwa apa yang diberikan Allah pasti lebih nikmat dan tepat sasaran, bahwa Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan, daripada apa yang telah kita kalkulasikan. وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ


Living under the same roof for over a decade, bathed in what I thought was love, only to realize much later that it was anything but. You made me feel like I could conquer the world on my own, handing me this pseudo-freedom to do as I pleased, until it dawned on me that it was just your way of saying you had bigger fish to fry. Your selective apathy left a younger me utterly bewildered. You gave me everything but peace, loving me completely in your absence.

Watered my youth with trauma, conditioning me to believe that affection under our roof was merely a transaction, a warmth I had to plead for, a love I had to beg on my knees just to earn. And though she fights tooth and nail to shatter the illusion of those scars by loving me entirely, it has left me tragically incapable of dropping my guard. Remain forever suspicious of everyone's affection, not even sparing hers.

I can't even pinpoint when I stopped wanting to remember, though the memory stubbornly lingers anyway. That time I thought you’d pick me up after letting me set off alone on a day when everyone else was beaming at their little girl, or at least, I still saw myself as a little girl back then. It was the day I got all dolled up to honor the heroine whose celebration falls in the very same month I was born. But as it turned out, I had to make my way home alone, too. I don't even know what the point was of waiting endlessly on that school sidewalk, brushing off everyone's concerned questions with a breezy, "My ride is on the way kok, aman aja," while turning down their offers for a lift. What was the point of filling my heart with such brimming anticipation, if in the end, a crushing disappointment was the only lesson you taught me for daring to dream of a little more love?

Apologies? Were there dozens? Thousands? I can’t even recall if a single "I'm sorry" ever reached my ears that day. Me, never one to cry easily, bottled up my anger behind a thousand silences. And before I could even voice the reason behind my quiet fury, I was shut down, told that I simply had to accept "grown-up matters" that were often sudden and unforeseen. Tell me, was stripping away my hopes that day part of those meticulously planned grown-up matters?

And now, after everything, after all those seemingly trivial moments adults assume a constantly smiling child would just forget, it’s as if I’m cornered into accepting. Forced to absorb all your guilt in a situation where turning my back simply isn't an option. Honestly, if I could speak my mind without consequence, yes, I don't mind bending to your demands or fulfilling your expectations, especially seeing you so helpless now. I swear I'm not sick of it, I'm just, utterly exhausted. I just, need you to know that. 

But given how things are, I suppose it’s not my place to say such things out loud. It feels cruel to plant thorns on a withering, old cactus. It feels almost inappropriate to even pen my own story just to make sense of this hollow sadness that hits me whenever you cross my mind. A sadness that doesn't stem from missing you, but from the glaring realization that I am physically incapable of longing for you.

If not for me, could I at least picture a better version of you for her? Just a fleeting 'what if', if only you had treated her better back then. If only you hadn't hidden everything behind a fragile shell, a fragility I now realize I was the cause of. I was even naive enough at one point to think my mere existence could be the glue to hold that shattered shell together. What a brutally misguided assumption that was.

The birthday that never truly free from the ghost of those stripped-away hopes, as much as I loathe dwelling on them. Instead of wishing for all things bright and beautiful on this day, my only prayer is for the sweet relief of amnesia regarding that specific day. If not the day itself, I pray to unfeel what it was like to be profoundly neglected and let down by the very people who sustained my life, yet somehow made me question my own worth.

No, no, it was just one among countless times my happiness was dismantled, but it’s fine. I don't mean to sit here and wallow in past resentments, nor do I intend to withhold forgiveness, because what good would holding a grudge do, rite? I just wanted to not be left behind. I just wanted the man you used to be to be a genuinely good man, better man. Not necessarily for my sake, but for yours, and for her, for us, but whatever, it's okay, I’m used to it now.

"...cruellest month, breeding Lilacs out of the dead land, mixing Memory and desire, stirring Dull roots with spring rain." — T.S. Eliot, The Waste Land


We met in a moment that I couldn't expect. You've crossed my time with your ridiculous way. Asking me why things got so heavy, yet it was before you. With that color of yours, I had greeted some new name. A new friend that I called spectrum.

You made a new schedule for me implicitly. That gave a whole month to always wait for the "hi" and the question, "Okay, what's the color for today?" Your way to pull everything out of my mind so the bear on it is never seen again.

Your way of questioning what happened to me, even though I myself didn't know what happened. But you said that it was crystal clear behind my voice and expressions. Well, yes, I got offended by the way you made me feel like I didn't know myself and you knew me better.

Fed me with your presence, yet you consumed what was inside my heart. In the darkest place, loneliest time, or coldest season, I just walked and had nothing in mind but your company.

In a world full of ravens, you are the one dove. Planting flowers on my things that I call home and naming it a garden. You make everything work on me. You make the spectrum work. You have made me feel drawn to you, though it was a Freudian slip.

Wanted you to be with me, to listen, to judge, to respond, to stay, to the point it all felt too much. Too much for me to ask, too heavy for you to accept, too hurtful for me in the way I realized that I was begging, that I was pestering. But nothing's quite enough when I know that I crossed your line too, something beyond what I expected, and you made me feel that twice.

Like driving a nail into a piece of wood, your schedule hurt. I asked myself many times which is which: a flaw in me that you refuse to face, or if it is just me. It did hurt. I was hurt. Overwhelmed and underfed 'cause your presence is now consuming me.

We still met in person, yet we couldn't look each other in the eye. Our eyes kept dodging. The broken garden had turned the flowers to dust. Foolish of me that I just let it. Foolish of me that I thought letting it go was the only thing that would make you reconsider us. The way I was so in love with the knowledge of your name, the way knowing your smile toward me was the one that I wanted, forgetting all of the sixth paragraph's presence to make it work.

Foolish of me, that smile of yours was something everyone could get, but you left me out of it because you didn't want me catching feelings for you, not after the way you used to talk to me about the things you liked back in the day. Funny how you protected me from yourself, knowing the truth that I was so in love that I was willing to accept the bare minimum to make it work, and you didn't want to be the one giving it.

She was me, after all.


Walking through the fields of green in my evening at 4pm, the moment I pretend to be truly happy. And so, everyone knows, and so, I know it all too well, that I'm not. Happiness is mine to bear the bowl, yet is not mine to hold. Not talking about the virtue, 'cause bloody virtue, I say.

Study shes, yes. I'm patient, you're learning. Patiently learn about the red moon that suddenly comes across our morning sky just to get stared at by someone who can only picture it out with their eyes, nothing else. Perhaps the turf is laughing at the way I wanted it so badly, yet do nothing. 

Is it morning, afternoon, evening, midnight? Well, I guess it's not so different for touching base. Gave the perfunctory greeting, but got blanked and, ya, was just left hanging there. Second-guessing myself if I should even say the greeting again, for later, for tomorrow, for the rest. 

No. Don't ever call it begging. Joy of missing out to enjoy my own company, ya, recharging the social energy. Dare I say that is how solitude comes, okay. No, but just don't. But it's okay, okay, lonely. Torn. Going back and forth. Internal tug-of-war? No, no, not that dramatic. But, yes, okay. Lonely. Lonely is better than begging you to stand up for me, I said to the turf. Not really to the turf, indeed, just saying it so they don't laugh more on my fields of green, on theirs, basically, they do make the fields look green. 

Our home turf is rarely green now, let alone wet. Crazy. Of course not because the water is flowing somewhere else instead of their fields. No, no. So naive. Like love. Turf sees. Turf listens. Turf knows. They are there all the time. 

Rain in June, July, August? Water is so incredibly scarce. Turf is conflicted. Turf loves rain. Turf loves water. Not because it looks good,yes, water is clear, formless, and beautiful too when it falls from the sky. Yet, turf knows that the water is merely present, merely existing. Water is so useful in its daily life, even though the water falling from the sky is actually just falling, without any real intention of showing up to be useful for the turf. But what can it do? 

Both of them are just present. Both of them just exist. Both of them understand it is not love. Too little, or even none at all, makes it as dry as it is now, but too much makes it confused, questioning, doubting, suspicious, and flooded. Even so, if loving means letting go and wishing the best, if love means saying this is the end. Well, I guess the turf wants the rain to love it less.

Menilik Halaman Rumput, where stories become something else

 

Snuggled deep in the white rabbit's fur
Making peace with shadows
on the cave
Expecting Troy from the unknown
Stopping toe from the waltz

Quiet flood
of the answered
Nowhere none, there
Sit here now
and the time melts

The unmarked
envelope
It is anything but little
even when the felt region
feels so small
holding such a capacity

Simply
flowing freely
bypassing all logic
welcoming
even when the hands are completely empty

Crossing
certainly
is like waking up
from the slumber
Teaching the truest, never frantically earned
it is only received

All of the infinite sky to trace
for every truth seeker
Souls have their own realities to chase
out there
in the wider
wilder

Earth grows flowers
in a billion different shapes and colors
And honeybee
will never, ever
run out
of beautiful petals

Let the bees fly out of the cave
to learn
How to be whole


Ada suatu hal yang sering mengganjal hatiku. Pembahasan soal ikan. Bukan hanya karena setelah semua ikan di langit, ikan ini menjadi ikut melayang-layang di pikiranku, selain ada di sekeliling Beliau, tapi ikan juga jadi representasi manusia.

Aku lupa mengutipnya dari mana, tapi bayangin kita ada di ruangan 1x1, kita letakin seonggok kursi ke dalamnya, pasti langsung kerasa penuh mampus. Tapi kalau kursi yang sama, kita letakinnya di lapangan bidar alam, ya jelas ga bakal mempengaruhi apapun, cuma mungkin aneh aja tiba-tiba ada kursi di lapangan (oke not funny at all). Kemungkinan lainnya kalau ruangan ini suatu daerah tanpa sekat, like the region that we own is only that 1x1, pasti kita akan merasa, aduh ini mah bisa nih geseran dikit, but still the outside of that 1x1 is not ours. 

Ikan yang berada di kolam besar akan memiliki lebih banyak ruang untuk berenang-renang, atau mungkin untuk terbang, ya tapi oke oke kita tidak akan membahas ikannya Beliau. Ikan normal saja. Kalau aku jadi ikan, danau toba mungkin jadi pilihanku, kalau laut rasanya aku kurang suka air asin, tapi boleh juga. Kalaupun di akuarium, ya, sempitnya akan sangat terasa sih, sama sempitnya di kolam yang ukurannya juga 3x3 misal, kenalan ikannya pasti ikan tuan aja. 

Dalam hal mencari sosok berpotensi juga kurang lebih sama seperti perkolaman dan perikanan ini. Ketika kita dipertemukan dalam suatu kolam yang sama dengan banyak ikan lainnya, apa yang membentuk pandangan dan kriteria kita besar adanya berasal dari faktor ukuran dan variabel di dalam kolam ini. Kriteria tentang ikan favorit atau ikan paling menarik, ya ada di dalam kolam ini karena di kolam ini lah kita hidup dan lebih besarnya di dalam kolam ini lah kita menempatkan pikiran sadar kita. 

Tentu, tentu, sebagai ikan yang bijaksana, kita bisa melihat lebih banyak ikan di laut ataupun kolam lain, ikan-ikan lainnya yang akan lebih bervariasi. Hanya, penempatan pikiran kita lah yang terkadang membungkam kita dengan fakta dasar bahwa kolam tempat kita berada sekarang hanyalah kondisi situasional yang akan dan sangat mungkin akan berubah ke depannya, di bentangan dunia yang lebih luas lagi. 

Namun, ada juga jenis ikan yang memilih jatuh suka dengan potensi. Potensi di dalam kolam yang saat ini ia tinggali. Potensi yang ia harapkan, yang ia bayangkan akan menjadi ada di dalam perjalanan waktu nantinya. Meski potensi yang diharapkan ikan ini sebenarnya sudah diperlihatkan ketidakmungkinannya di depan dirinya secara langsung, tapi yang namanya jatuh, ada di luar kuasa. Lagipun ikan, kok jatuh. 

Potensi dengan keberadaan mimpi, harapan, keinginan, tidak ada yang salah juga sih. Dengan sudut pandang bahwa kolam kecil kolam besar atau bahkan laut ini ada, mungkin sebagai ikan, ikan akan lebih tenang bahwa kehidupan perkolaman dan perikanannya masih amat sangat jauh, panjang, dan masih banyak kemungkinan kehidupan yang belum ditemuinya. Mungkin di dalam kemungkinan itu ada kemungkinan terbang, walau dirinya ikan. 

Ikan yang sudah terlanjur jatuh juga mau bagaimana lagi? Di luar kuasa. Apakah bagi seekor ikan, jatuh itu menyakitkan? Kurang lebih, iya, kan dasarnya, jatuh. Ya, itupun kalau ikan bisa jatuh, kan ikan tidak berkaki, tapi apakah syarat jatuh itu berkaki? Tidak juga, hujan kan tidak berkaki, tapi jatuh juga, dari langit. Kolam dan ikan mengajarkan banyak hal tanpa perlu mengucap sepatah kata, kecuali mungkin sapaan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, mungkin juga selamat malam jika bertemu malam-malam. 

Pun, untuk apa kolam mempedulikan seekor ikan yang sudah terlanjur jatuh, toh tanpa kaki pun ikan bisa terpelanting tenggelam ke langit-langit air, membiarkan sisa rasanya mengapung pasrah, seolah-olah jatuh tak selalu butuh tanah untuk mendarat, selain sekedar ruang untuk tiba-tiba lupa caranya berenang dan justru memilih hal asing, terbang.


Membahas soal yang manis-manis, buatku yang terpikir di otak itu gula. Gula pasir putih yang dipake buat bikin teh. Padahal, dua barang itu adalah dua hal yang kurang masuk di ranah konsumsiku karena sejarang itu mencampurkan gula dan teh. Lambat laun, coklat menjadi pengganti bayangan kata manis. Misal ada temen yang mau minta 'ada yang manis-manis ga?' aku seringnya bilang gaada walaupun di mejaku ada roti atau biskuit yang .. manis. Pasti nantinya aku billang 'oh kukira coklat' dan dijawab dengan siapa juga yang nanya coklat. Ya... Memang agak agak juga otak ini kadang dalam memproses komunikasi.

Selain gula dan teh, coklat juga menjadi barang yang kuhindari. Aku kurang suka dengan coklat dan kemanisannya, merek apapun. Jadi kalau ada tiba-tiba coklat dateng, seringnya aku kasih ke orang lagi. 

Cuma ya, manusia emang paling dinamis, akhir-akhir ini aku selalu merasa coklat adalah satu-satunya booster paling instan buat menangani kemalasan. Lemas, letih, lesuh, lapar, lunglai, dan semua L lainnya, teratasi gitu aja dengan sebuah coklat???

Sebagai perempuan, aku merasa ada momen yang kadang, oh ini aku lemes banget, tiba-tiba sedih gajelas, keknya hormon deh, yang untukku itu sering banget dateng, ya bulanan sih datengnya. Tapi menganggu banget kadang harus berdamai dengan itu tiap bulan, like shsssss, but okay, ill go through this one, once again (gini aja terus yah).

Ya begitulah dan yang membuatku back on my track again, turns out adalah coklat. Yap, makan coklat walau cuma sebutir coklat kurma atau sepatahan coklat batang, bener-bener balikin mood. Buatku kalau ngerasa capek banget, sedih banget, kan biasanya bikin ngantuk ya, karena otak kita udah drain so much dan badan kita udah kehabisan energinya juga. Di sinilah, ya tetep si bakal ketiduran atau memutuskan untuk tiduran ahahah, tapi dengan konsumsi coklat, semua tugas tetep kelar aja at the end. 

Tulisan ini diabadikan kepada coklat, si manis yang dulu kuhindari, kusingkirkan, tapi kini jadi support system andalan ahaha. Tapi sungkan untukku menamai judulnya sebagai coklat, jadi mari kita sebut dia, yang manis-manis, untuk hari-hari yang diharap jadi manis juga. 

Read this!


Earlier, the toilet on my floor at campus was being repaired, which meant we had to go all the way down to the first floor. Like, it takes 5 minutes to get there just to use the toilet for one minute. At first, I was feeling way too lazy, like, hell nah, why do I have to cross the whole building just to use a toilet??? But yeah... since I really, really had to go, I just did it.

When I took that first step downstairs, I tried to just turn off my feelings. Like, just go with the flow and let my feet walk on their own. And then, yeah, I arrived on the first floor?? Then I used it?? And then I went back to my floor, and it was all done?? Like, it’s so easy when you just go numb.

That got me thinking, like if this numbness makes my current struggle sooooo easy, why don't I apply it to everything? Like, God, okay, let's just do this and that, without any feeling. Like when I have a problem, or anything that WILL ruin my bright-to-be or at least what-I-hope-to-be-bright day, I could just face it with zero feeling and trust that it will pass and the burden will be gone. Right? Hmmm.

Yeah, that’s just what I thought because of this whole toilet repair situation, like, why does it have to be nowww? Okay, okay, let’s just never mind that, ahahaha. But in reality, I'm sure this mindset only applies to certain circumstances. Because if I do everything with no feeling and just embrace the numbness, there will be consequences... perhaps. Perhaps.

Because imagine if we actually used this "toilet-walking numbness" as a daily survival kit. You’re sitting in life, and then a sky drop you a problem that you have to perform something in front of many people, but you can't even do a thing, so suddenly, and instead of panicking, you just sit there like a blank wall. "Yes, okay. Yes, go on. I will do this until the time is up."

At some point, if you are too numb, you wouldn't even notice when someone cuts in front of your line. You'd just be like, "Ah, a human is now standing in front of me. That is fine." You'd basically turn into a zen master, but the kind that gets stepped on by everyone. Or worse, people would think you're slightly a sociopath.... because you just stare blankly when everything goes wrong.

So yeah, activating that numbness mode is a 10/10 elite strategy for climbing campus stairs or doing chores, but maybe a 2/10 for actually surviving social life without looking like a robot whose battery is at 1%.


Entropi, kata yang muncul kalau membahas keacakan. Pertanyaan apakah manusia itu terlahir sama atau apakah manusia itu setara mungkin pernah kita pertanyakan. Apakah hidup manusia seacak itu? Keacakan hidup manusia seringnya dilihat dari nasib yang dimiliki, entah apakah manusia itu tergolong sebagai manusia yang beruntung atau manusia yang sial. Terlebih ketika kita berfokus pada kata beruntung. Seperti yang kita tahu bahwa ada hal yang benar-benar di luar kendali kita, ada keberuntungan yang murni acak dan secara statistik memang ada. Bahwa tidak semua hal atau hasil yang didapat manusia adalah konsekuensi langsung dari usahanya, bisa jadi memang dia lahir di keluarga tertentu, bertemu dengan seseorang secara kebetulan, atau bahkan berada di tempat yang tepat di waktu yang tepat. 

Kalau secara teori yang sering diungkap beberapa buku yang membahas soal kesuksesan, ada keberuntungan yang dibangun. Dalam matematika kita menyebutnya peluang. Secara matematis jika peluang berhasil adalah 1% maka mencoba sekali artinya peluang 1% sedangkan mencoba 100 kali bearti ada sekitar 63% keberuntungan (jika percobaannya independen). Inilah keberuntungan yang dibangun dengan konsisten. Pun, ada survivorship bias yang membuat keberuntungan cenderung dijadikan tokoh utama padahal kenyataannya ada banyak kasus lain di luar sana yang memiliki ending berbeda. 

Sebanding dengan penelitian Richard Wiseman mengenai konsep keberuntungan yang diabadikan dalam karyanya berjudul The Luck Factor. Dengan partisipan yang dimilikinya, kesimpulan yang ditarik adalah 'beruntung' hadir karena pola perilaku tertentu, lebih terbuka, lebih banyak interaksi, lebih sadar akan peluang, lebih optimis, dan lebih mampu untuk mengambil pelajaran. Bukan pemikiran baru, penelitian ini sudah ada dari tahun 1966. Termasuk konsep locus of control, tentang bagaimana seseorang memandang hubungan antara tindakan atau usaha yang dilakukan dengan hasil hidupnya. 

Dan masih banyak lagi secara psikologi dan sosial yang meneliti soal keberuntungan ini, entah tentang teori self-efficacy atau keyakinan bahwa harapan seseorang terhadap kemampuannya memengaruhi seberapa besar usaha dan daya tahannya atau Daniel Kahneman dan Amos Tversky yang menunjukkan dalam artikel mereka tentang judgment under uncertainty. Manusia cenderung salah dalam membaca kejadian acak, salah menilai ketidakpastian yang terjadi. 

Hal yang diriku sadari sebelumnya aku percaya bahwa keberuntungan adalah perpaduan antara keacakan dari kesiapan bahwa secara nyata memang ada orang yang mampu melihat titik-titik tertentu dan membesarkan peluang dan kesempatannya. Namun, semakin banyaknya momen dalam hidup yang terlewati dengan banyak kondisi dan manusia yang membersamainya, pandanganku cukup bergeser. Kini aku meyakini bahwa sebenarnya keberuntungan itu tidak ada. Bahwa manusia memang tidak terlahir sama, manusia tidak memiliki hidup yang sama, manusia tidak diciptakan setara. Konsep utama dari apa yang disebut keberuntungan dalam hidup adalah qadar atau ketetapan Allah, izin dan hikmah Allah.

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ ١١
No calamity befalls ˹anyone˺ except by Allah’s Will. And whoever has faith in Allah, He will ˹rightly˺ guide their hearts ˹through adversity˺. And Allah has ˹perfect˺ knowledge of all things. (QS. At-Taghabun 64:11)

Jika diingat lagi, doa yang tidak pernah lepas kupanjatkan adalah meminta yang terbaik. Terlihat malas memang karena aku tidak mendefinisikan terbaik dalam doa itu. Aku terpikir untuk membahas ini karena terlintas kepadaku, bagaimana ya kalau misalkan aku berdoa semoga aku mendapatkan keberuntungan di semua hal yang aku usahakan? Dan lintasan pikiran ini hadir karena ada ucapan, 'beruntung terus ya dirimu'. Semakin aku pikirkan semakin aku bertanya-tanya, memangnya yang dicari itu apa dalam usaha? hasil bagus kah? atau misal aku dapat yang kuinginkan, apakah itu berkah? apakah itu mendekatkan aku dengan Allah? atau apakah keberhasilanku baik untuk akhiratku? gimana kalau keberhasilanku membawa kesombongan? 

Ya, pertanyaan yang muncul lagi juga aku justru mempertanyakan makna adil. Allah itu Maha Adil, jika memang konsep keberuntungan itu ada, apakah bearti ada yang namanya manusia favorit Allah? 'Manusia favorit alam semesta'. Dalam QS. Al-Mulk 67:2 memang dinyatakan kalau kehidupan dunia dalah ujian. Cukup offside tapi Al-Mulk adalah surat yang selalu dibaca selepas sholat magrib di kampusku, dan makin sering membaca maknanya semakin merasa kosong ilmu yang kumiliki. Dengan pernyataan itu, bearti Allah tidak menguji semua orang dengan soal yang sama, bearti memang benar bahwa hidup manusia tak selalu sama, dan manusia tidak diciptakan setara, kan? Bahwa keadilan tidak selalu bearti bahwa semua orang mendapatkan bagian yang sama.

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ ٢
˹He is the One˺ Who created death and life in order to test which of you is best in deeds. And He is the Almighty, All-Forgiving. QS. Al-Mulk 67:2

Favoritisme adalah kewenangan Allah, jelas. Manusia pun memang diperintahkan untuk mengusahakannya, mengusahakan karunia Allah karena Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Bias manusia yang mengangap bahwa kemudahan adalah bukti dicinta dan kesulitan adalah bukti dibenci secara telak dibantah oleh Al-Qur'an. Semakin terpikirkan olehku, ukuran akhir dunia tentang bagaimana aku bisa menjalani amanah dan ujian yang diberikan Allah, tentang bagaimana aku merespon semua yang terjadi padaku. 

Apakah sesuatu benar-benar acak atau hanya tampak acak karena pengetahuan manusia terbatas?

Ya, sebagai manusia kita memanglah makhluk yang terbatas, kita hanya bisa melihat potongan-potongan kecil hidup kita. Taufik, pertolongan Allah agar kita mampu melakukan yang benar. Barakah, kebaikan yang bertambah dan menetap. Taisir, kemudahan dari Allah. Fadhl, karunia Allah. Rizki, pemberian Allah. Qadar, ketetapan Allah. Tawakal, bersandar kepada Allah setelah berikhtiat. Semuanya adalah doa yang sebenarnya ada dalam definisi ketika kita meminta yang terbaik dalam setiap usaha yang dilakukan sebagai seorang makhluk yang terbatas.

Bearti apakah keberuntungan atau favoritisme ini tidak membatalkan keadilan Allah? Iya. Allah memang memberi manusia bagian hidup yang berbeda-beda. Ada yang sempit, ada yang luas, ada yang cerdas, ada yang penuh kesabaran, ada yang sehat, ada yang sakit, ada yang mudah lurus, pun ada yang jalannya berliku. Dalam Islam, tempat pembagian hadiah final bukanlah dunia ini karena kita sudah diperlihatkan bahwa dunia memanglah tempat kita diuji dan setiap orang diuji dengan cara dan bentuk yang berbeda

Ujian dengan kekurangan

Ujian dengan keberhasilan

Ujian dengan kelimpahan

Ujian dengan kegagalan

Ujian dengan apapun yang dititipkan Allah,

Adil, Allah menempatkan sesuatu hal sesuai dengan ilmu, hikmah, dan ketetapan yang sempurna. Mungkin dengan diberi banyak manusia akan ditanya lebih banyak, mungkin diberi sedikit justru diringankan hisabnya, atau mungkin kelambatan adalah cara Allah menjaga kita dari sesuatu, atau tampak gagal adalah cara Allah mengarahkan kita ke jalan yang lebih baik.

Tidak semua yang tampak baik benar-benar baik dan sebaliknya. Ada yang dinamakan nikmat kalau membuat seseorang bersyukur dan taar, ada yang dinamakan ujian jika Allah ingin melihat bagaimana seseorang ini menggunakan pemberian-Nya, pun ada yang disebut istidraj, jika justru membuat seseorang semakin jauh dari Allah. Keberhasilan yang kita inginkan dari apa yang sudah kita usahakan sebaiknya kita letakkan di tempat yang benar. Berusaha sebaik mungkin, tetapi jangan menganggap diri kita adalah pemilik hasilnya. Tawakal. 

كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ٢١٦
Fighting has been made obligatory upon you ˹believers˺, though you dislike it. Perhaps you dislike something which is good for you and like something which is bad for you. Allah knows and you do not know. QS. Al-Baqarah 2:216

Manusia adalah makhluk terbatas, Perjalanan hidup yang kita jalani kini adalah satu halaman dari keseluruhan cerita dan dunia bukanlah keseluruhan cerita. Dunia hanya bagian awal dari perjalanan yang lebih panjang. 

Keberuntungan adalah bahasa manusia untuk menjelaskan keterbatasan pengetahuan kita. Sedangkan iman mengajarkan bahwa dengan keterbatasan kita, tetap ada Allah yang Maha Adil dan Maha Mengatur. Allah Maha Mengetahui.

Pada akhirnya, semakin aku belajar memahami agamaku, Islam mengajarkan untuk melihat bahwa tidak ada kejadian yang berdiri sendiri di luar izin Allah. Tugas manusia adalah mengetuk pintu dan hak Allah menentukan pintu mana yang terbuka. Nyatanya hidup bukan tentang menjadi yang paling beruntung atau paling banyak menerima, tetapi tentang menjadi hamba yang paling tepat dalam merespon apapun yang Allah izinkan terjadi kepada kita.

Now, I  only want to walk gently toward what pleases Allah. I will try with what I have and release what is not written for me. I am learning to accept life with a peaceful heart, to be grateful for what comes, to let go of what passes, and to trust what I cannot yet understand. I am still learning how to read this book of life, page by page, knowing that only Allah knows the whole story. 

Perhaps “the universe’s favorite” is only a story humans invented to make sense of unequal beginnings, while faith quietly teaches us that every life is being written by the One who owes no explanation, yet loses no soul.

 


There's a time when we feel so drained by something we don't even realize. We feel like everything is so heavy until there is no more space for us to vent. Everything just happens. Everything is just... emotionless. We have our glory, our victory, right in our own hands. We have everything, we do know everything, don't we? It's that crystal clear, until everything becomes nothing more than a passing blur. We can choose to be a victim in our own unwanted situation, our breaking moments, yet we dance. We use our chaos as a stage for our grave.

The music plays so well, not because it's our taste, but because it's life playing it to us. Whether it's a song about an honest mistake, something broken, or the bitterness of life, we just don't have control over our life's song. Yet, we can still dance, choosing our movements. So throw whatever it is, we'll dance. Even if it's not, we'll dance anyway. We'll always be the one who celebrates it with the rhythm of our own body. Even if the song that's playing is our surrender moment, we'll dance anyway.

Going to see what the rain looks like, what kind of storm is hitting today, even though we already know, even if everything is ruined, or the weather today is a total mess, or the lamb we've been waiting for ends up leaving, right in the middle of that road, we'll just take shelter and watch everything happen as it is, we'll dance anyway.

We keep filling and filling, we know the size, exactly how big the whiplash is. It's our mechanism to keep living, by switching the autopilot to 'on' to block out every short-circuiting moment in our brain. Our filling area is our own object, our own asset. We don't even think about the problem of it being too full, we're just confused about why it feels so empty. Yet we keep filling it up, and it's not about the hole. There is no hole.  Not a single one exist. We do know. We did. The absurdism and inconsistency just force our eyes to see something different, the color, the same tone, the field of white flowers. What is it? We'll just dance on fate.

We were fated to capture the 'victories' that others spend lifetimes praying for, yet we remain an unreadable script, complicating the simplest paths because we don't even know the author in the mirror. We have conquered it yet lost our own definition, a hollow king, so carve my existence from your own silence, what name do I write on the void, what color do I paint on your empty sky?

Used 'we' throughout this piece just so it wouldn't feel so entirely alone, to keep it from feeling too real, that these lines are actually just... me, at the end. 


Banyak film horor yang openingnya dibuka dengan petak umpet. Aku sangat setuju, karena memang petak umpet itu horor. Ditinggal sembunyi itu menakutkan. Apalagi menyembunyikan maksud diri. Menyembunyikan maksud yang ingin kita ungkapkan, keinginan yang ingin kita sampaikan, atau bahkan menyembunyikan rasa bersalah dan kalah. 

Ada satu faktor yang sering dijadikan kambing hitam. Waktu. Padahal, waktu tidak akan pernah menjadi masalah ketika sesuatu atau seseorang benar-benar diinginkan. Karena kenyataannya, manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh prioritas, bukan kalender. Yap, manusia akan berfungsi pada manusia yang tepat, atau yang menurutnya begitu. 

Membaca kembali apa yang telah kutulis, membuatku berpikir bahwa diriku adalah manusia yang sedang berjudi. Perjudian emosional. Dengan rangkaian panjang kejadian kebetulan atas hidup, peran menjadi pihak kalah malah kupilih.  Tergoda atas sebuah potensi yang menutupi realitas nyata bahwa kalah bisa dalam bentuk apa pun. 

Apapun bentuk kalahnya, harusnya secara sadar, tidak perlu dibungkus oleh teori rumit yang berusaha menyelamatkan harga diri. Cukup, ya, terima saja. Apakah evaluasi diri diperlukan? Mungkin. Tapi, akan lebih baik, untuk sekedar dan sesingkat, menerima.  

Sisaan atas kesia-siaan yang melintas dalam benak pikir bukan suatu hal yang harus diromantisasi dan direnungkan. Bentuk kalah yang terlihat kasat dalam wujud persembunyian, biarlah cukup diterima. Terima bahwa potensi perbaikan bukanlah opsi yang dimiliki kini. Terima bahwa perbandingan suatu atau beberapa bagian tidak perlu dipertanyakan. Terima bahwa keburaman akan selalu melekat dalam setiap lini waktu pertemuan. Terima bahwa warna kuning bukanlah warna kebahagiaan, melainkan bentuk perpisahan. Terima bahwa, kursi kosong itu, bukan tempat yang harus diisi. 


Ada hari di dalam kalender ketika manusia memiliki radar emosional yang tumpul. Alih-alih jujur menerima kekurangan dan memperbaiki diri untuk tidak merugikan orang lain, manusia justru memposisikan dirinya sebagai jiwa yang tersesat, sosok yang rumit, dan korban dari keadaan semesta. Manusia membungkus ketidaksiapan, ego, dan ketidakmampuannya dalam mengambil keputusan seolah itu perjalanan emosionalnya yang tragis.

You are what you believe you are

Rasa peduli yang dimiliki eksistensinya yang lebih buram daripada rasa ingin tahu. Mungkin ada momen ketika antarmanusia mengajari bagaimana caranya peduli terhadap satu sama lain. Namun, kenyataan pahitnya adalah tidak semua orang dibekali kecerdasan dan kepekaan emosional yang tinggi. Beberapa orang justru secara natural tidak bisa membaca perubahan mikro yang membuatnya melihat semuanya baik-baik saja sampai ada kata secara verbal yang menyatakan sebaliknya; bahkan ada penolakan terhadap hal ini juga, dungu.

Dalam rangkaian tali kehidupan, akan ada jebakan ekspektasi manusia, yang sayangnya realitas tidak selalu seindah apa yang kita ekspektasikan secara baik. Tentu, karena kapasitas empati dan cara memproses isyarat sosial tiap manusia berbeda-beda. Bahkan, ada beberapa manusia yang juga memilih kontradiktif sebagai kacamata kehidupannya. Manusia menjadi sangat kaku dalam memisahkan ranah kehidupannya. Dengan ketumpulan emosi yang dimiliki, manusia benar-benar tidak tahu untuk apa harus merespons apa dan kapan. Daripada mencoba, manusia memilih mekanisme pertahanan andalannya, menghindar. 

People need a reason for everything they do. If they don't have one, they invent it

Bineritas juga menjadi sosok penuh bayang dalam hal ini. Emosi dan interaksi sosial diproses secara sangat biner yang menganggap perasaan adalah spektrum yang sangat sempit. Ranah abu-abu  yang hadir dengan wujud nuansa tidak nyaman, canggung, merasa tidak dihargai, atau sekedar merasa kesal, dilempar dengan pertanyaan yang menjadi parameter antara apakah sisi lain ini harus berhenti atau meminta maaf. Yap, pemindahan beban emosional, yang seharusnya mengevaluasi diri sendiri, justru evaluasi diserahkan kepada manusia lain karena merasa tidak ada yang perlu diperbaiki dari dirinya. 

Minta maaf memang bukan kalimat yang mudah diucapkan, tapi minta maaf juga satu-satunya cara instan keluar dari masalah, tiket keluar dari rasa bersalah, karena otak manusia akan menerima perilaku kecil tanpa arti dengan memaafkannya dan mengembalikan situasi aman dan melupakan hal-hal besar yang sebenernya masih menjadi masalah utama; walau tidak semua manusia akan menerima maaf ini. 

Kalau belajar dari main tenis meja, memang ketika momen seperti ini menghantam keadaan dalam kehidupan manusia, akan lebih baik membiarkan adanya jarak dan ruang kosong. Daripada breadcrumbs membuat semuanya menjadi penawar instan yang menghapuskan dan meluluhkan, lebih baik menganggapnya tidak ada kan?

Blank spaces are places of transitions, not of stagnation. You must learn to inhabit the blank space with dignity

Lagipun, manusia yang terbiasa secara tidak sadar, ya karena orang dungu biasanya ga sadar, meromantisasi kebingungan, akan sering cuci tangan. Menyiapkan segala argumen, segala alasan untuk bisa melakukan dan mengatakan apa saja tanpa merasa bersalah karena toh pada akhirnya manusia lain yang bisa dijadikan rumput injakan dia. Termasuk ketika manusia meromantisasi ketidakmampuannya dalam berkomitmen. Manusia seperti ini pasti akan berbicara dengan analogi melankolis yang meromantisasi kebingungan mereka sendiri. Ide bahwa ikatan emosional adalah hal dramatis yang pasti akan meninggalkan bekas, arah yang dibuat kabur yang menahan pihak lain dengan potensi bukan dengan kenyataan, adalah semua yang akan menunjukkan kecerdasannya dalam menyusun narasi puitis yang kontras dengan memori kepercayaan terhadap tumpulnya radar emosi dia. 

Ya, sebenarnya kebingungan adalah fase yang sangat manusiawi sih saat manusia dihadapkan pada persimpangan hidup. Namun, sebagai orang yang berusaha mencerdaskan kebodohan yang dimiliki, akan lebih manusiawi lagi apabila kebingungan direspon dengan mencari jawaban, mengambil sikap, dan membuat pilihan. Bukan menjadikan zona abu-abu sebagai zona nyaman permanen, bahwa memilih untuk tetap bingung adalah sebuah pilihan itu sendiri.

There are those who feel that life is a tragedy, and those who feel it's a comedy. But the worst are those who merely look on

Kedok kosong untuk membebaskan diri dari tanggung jawab, membuatnya menciptakan tameng yang kebal terhadap tuntutan. Karena ketika menuntut kejelasan dari orang yang sedari tadi kita bicarakan ini, ujungnya hanya akan membuat kita terlihat jahat karena menekan orang yang sedang berjuang mencari jati diri, menekan orang yang tersakiti; atau membuat dirinya terlihat demikian. Percuma istilah manusia adalah makhluk sosial hadir kalau dalam suatu bentuk sosial tidak ada tantangan untuk saling berkembang yang diterima bayarannya atau takut akan kehancuran kenyamanan padahal itulah bagian dari kehidupan dan keadaan manusia ketika hidup bersama orang lain, belajar saling menghargai. 

Memang, seperti naik gunung, di manapun titiknya, pandangan pasti akan berbeda, seperti manusia, dengan titik mulai dan titik bertahan yang berbeda, pandangannya terhadap kehidupan dan caranya memroses hidup sebagai hal yang baru pertama kali dijalani juga akan berbeda, ya lagi pula siapa manusia yang udah pernah hidup sebelumnya? Reinkarnasi kali. 

When someone shows you who they are, believe them the first time. People know themselves much better than you do. That's why it's important to stop expecting them to be something other than who they are. Because when someone looks at things through rose-colored glasses, all the red flags just look like flags.


nb. mungkin semua ini adalah dirimu

nb. nb. siapa juga manusia yang tidak mau belajar memahami kekurangannya, kecuali dirinya manusia yang sepenuhnya mati rasa

nb. nb. nb. tapi pada akhirnya, keadaan dan kemauan kita sendiri lah yang mengubah diri kita

 


Aktivitas apa yang kalian suka lakuin? Berkebun? Membaca? Berolahraga? Kalau kita berolahraga nih, misal mau ikut half maraton deh, mungkin ga kita berani daftar kalau pas lari 5 kilometer aja kita engap-engapan rasanya kaya mau meninggal di tempat? Tapi kalau kita punya rencana buat ikut kegiatan itu, atau bahkan kita udah nentuin tanggalnya kapan, mungkin ga kalau kita memang ada bekal ke sana? Iya, kalau udah nentuin 'tanggal' atau tujuannya, kita jadi lebih bisa tahu apa yang kita akan bekali. 

Apa yang perlu kita bekali? Di mana yang harus diperbaiki, gimana cara kita belajar, dari mana kita bisa mencari ilmu, di area apa yang aku belum siap. Ya, pertanyaan-pertanyaan ini juga sebenarnya adalah bekal awal kita. Kalau ditanya, kapan kita siap, kapan sebenarnya seorang manusia bisa melabeli dirinya sebagai individu yang siap, jawabannya cuma satu. Gaakan ada manusia yang benar-benar siap 100% untuk apa pun itu. Dari hal seperti bangun pagi hingga hal besar seperti kematian. 

Apalagi ya, kalau soal relasi, koneksi, atau hubungan dengan manusia lain. Mungkin di umur 20 an, mulai banyak pertanyaan yang timbul, salah satunya, kapan ya bisa ketemu orang tepat, atau akankah aku ada kesempatan buat bertemu dia yang demikian? Banyak orang bilang, jadilah orang yang tepat, bukan mencari mereka yang tepat. Tentu, semua manusia bernyawa ataupun kucing penjaga perpustakaan akan setuju dengan hal ini, termasuk diriku. 

Tapi bagaimana kita bisa melabeli diri kita menjadi orang yang tepat itu? Bisa kah kita mengetahui diri kita hanya dengan bersama dengan kita tanpa adanya bantuan orang lain? Atau kalau dalam bahasanya, kan ga mungkin kita test suatu algoritma hanya dari known dataset yang sebelumnya dipakai untuk training, pasti hasilnya bias, dan kita butuh dataset di luar percobaan lainnya. Namun, indikator, parameter, matriks penilaian, bisa kita definisikan, sejauh apa algoritma ini dikatakan siap pakai. Atau kalau masalahnya manusia, di titik apa kita bisa merasa cukup tepat.

Di saat ilmu kita cukup, believe kita bagus, mindset kita benar, value kita punya. Saat semua ini hadir dan ada di dalam diri kita, dengan siapapun Tuhan mempertemukan kita, membuat koneksi kita dalam suatu titik bersama manusia lain, kita pasti bisa menyelaraskannya.

Mungkin kalau pembahasannya ke pernikahan, kadang orang bilang mereka siap nikah ketika apa, ketika ada uang, atau financialnya cukup. Ya, kalau menurutku, financial itu memang bare minimum sih ya, hidup di belahan bumi mana coba yang ga butuh uang. Inilah poinnya, ketika kita mulai mempertanyakan soal eksistensi kita, makna hidup kita, tujuan kita, siapa kita, apa yang kita punya, kita akan menjadi lebih tahu diri, di mana posisi kita dan bagaimana kapasitas kita. 

Apalagi soal masa depan, hal yang membuat semua manusia takut bahkan di saat dia tahu dia ga tahu sampai di periode apa dia menjumpai waktu, menjumpai hal yang dilabeli masa depan oleh dirinya yang sekarang. Bahkan kita ga tahu apakah besok adalah salah hal yang akan kita temui kan. Di sinilah, letak tahu diri kita. 

Membuat relasi baru dengan orang lain buatku sama besarnya dengan bermimpi. Dalam bermimpi kita harus berani membayar harga untuk mimpi itu. Itulah kenapa menurutku, untuk bermimpi aja banyak manusia yang ga berani, karena merasa kalau dirinya tidak akan sanggup dengan bayaran itu. Sama dengan membuat relasi baru, se naifnya kita terhadap label transaksional dalam sebuah hubungan antara dua atau banyak manusia, berelasi ada harganya. Harga ketika kita membuka kehadiran orang tersebut di dalam salah satu atau banyak hari di kehidupan kita. Harga ketika bayangan tentang orang itu perlahan sirna, hingga harga ketika relasi kita dengannya hanyalah sebuah bekas yang ditinggalkan. 

Benar kata drakor yang bahas papago, bahwa di dunia ini ada bahasa sebanyak manusianya. Kita harus menyamakan frekuensi, menyamakan bahasa, menyamakan level, Kita harus tau konsep dia tentang sesuatu itu bagaimana. Bahkan terkadang suatu perkataan saja bisa membuat kita berasumsi, makanya ga semua kata atau kalimat bisa kita maknai secara sama dan lebih baik kita tanyakan seribu pertanyaan itu daripada berasumsi, ketika kita berani  untuk berelasi dengan manusia lain, atau dalam konteks ekstrem, berani berjalan lebih jauh dengan manusia itu. 

Saat aku berelasi dengan dia, peranku untuk dia itu apa?

Pertanyaan dengan konsep tahu diri dan memantaskan diri inilah yang penting. Tidak semua relasi memang dimulai dari 0. Ada relasi yang secara terpaksa terbentuk dari sebuah komunitas atau lingkungan. Tapi di sinilah intinya: apa peran sebenarnya dari kehadirannya di kehidupan kita dan sebaliknya? 

Salah satu parameter kebahagiaanku adalah ketika aku bisa melihat kemampuan seseorang untuk bertumbuh. Ketika berelasi, ada beberapa yang akan melabeli dirinya dengan 'beginilah aku, take it or leave it' bahasa mudahnya. Kaya kucing, ada kucing yang, ya, gini deh aku, kalau ga suka ga usah pegang-pegang, tapi ada juga kucing yang kadang peduli dengan melihat kita. Kucing yang kalau ketemu, pasti ngasih gap 5 detik untuk kita dan dia tatap-tatapan tanpa ada sepatah kata yang keluar juga, karna kalau keluar pun juga gaakan paham sih ya.. malah kabur bisa bisa. 

Kadang aku membenci orang yang bilang terima aku apa adanya atau menerima orang apa adanya. Menerima apa adanya bearti ia enggan untuk bertumbuh menjadi baik. Padahal, we have so much in our hands. Ya, balik lagi kalau kaitannya soal relasinya pasangan. Kalau ada orang yang membuat kita bingung, tanyakan, jangan terima apa adanya. Terlebih kalau pasangan, kita harus bisa melihat kemampuan calon kita untuk bertumbuh. Tanyakan. Kalau dia tidak berani memberi jawaban karna tidak siap, tanyakan, tanyakan parameter siapnya seperti apa. 

Knows everything but values nothing. 

Bahkan untuk tau aja kita ga mau, gimana cara kita bisa memberi nilai untuk sesuatu yang kita ga tau. Kita harus tau se berharga apa kita memberi nilai suatu relasi, koneksi, hubungan, dan mempertanyakan siap kah kita untuk membayar dengan harga itu. Kita harus belajar memberikan nilainya sendiri.

Ya, sekali lagi, untuk dunia dan apapun yang berjalan di dalamnya, kita gaakan pernah siap untuk hal itu. Ketakutan terhadap masa depan pun, siapa sih yang merasa siap dengan masa depan? Lagi pula, hidup apa yang ada tanpa adanya badai? Suatu petualangan tidak akan pernah menghasilkan pembelajar tanpa hadirnya tantangan yang berhasil dilalui dan diselesaikan.


nb. segala bentuk tantangan di dunia, semoga kita mampu melaluinya dengan hati yang lapang


Untukku sendiri, melihat apa yang menjadi tulisan ini, udah cukup membuat geram. Ya, secara jujur aku kurang suka dengan judulku sendiri. Kilas balik ke masa aku sempat tinggal di Korea Selatan, semua hal soal transportasi umumnya tidak pernah ada hentinya membuatku takjub dan berkata 'when yh'. Entah dari sekecil skuter listriknya yang bisa kita temui di mana pun, dengan harganya yang masih oke, dan cocok banget kalau lagi buru-buru, sampai perkereta-annya yang dibuat untuk tidak ada level crossing. Urban planning mereka menurutku memang sangat amat matang. Untukku yang suka menjelajah sendiri ini, walaupun kemampuan bahasa Koreaku masih diragukan, aplikasi seperti Naver ini sangat membantu dan dengan kemampuan bisa membaca dan listening ke Korean, ya.. bekal kecil yang membuat tidak (selalu) tersesat, walau kadang masih suka kelewatan ahahaha. Pun, fasilitas umum terutama taman, tempat olahraga, tempat pejalan kaki, sangat ada banyak dan serata itu, di daerah yang sepadat Seoul, ke kota kecil dekat Korea Utara, Chuncheon, sampai tempat industri seperti Maseok, semua tempat ini sangat ramah pejalan kaki dan ramah perempuan.

Gimana ga, dari semua cari angin malamku (hehe), entah pukul 11 malam, 12, atau bahkan hampir jam 1 dini hari pun, ga ada satu pun hari aku kena kejahatan. Ril kah? Ril. Kalau di Seoul, yaaa, apalagi Hongdae, ya, maaf, mereka ga kenal malam sepertinya ya. Namun, untuk kotaku, Chuncheon, cukup udah sepi sih pukul 10 malam ke atas, kalau kita ke daerah pestanya memang ramai, tapi kalau menepi ke daerah taman dekat sungai (tempat favoritku) ini, yaaa .. ada satu dua orang yang kadang aku temui. Lagi, ga ada satu pun ketakutanku, sebagai perempuan, saat aku bersepeda jam 12 malam di pinggir sungai ini, apalagi hantu ya...

Apalagi soal kereta, herannya aku di situasi seramai apapun, yang namanya kursi prioritas pasti dipakai orang-orang prioritas, sungkannya itu bukan main kalau kita orang biasa duduk di situ. Bahkan karena saking penuhnya kereta, walau kursi prioritas itu kosong, Mas-mas dan Mba-mba yang kutemuin ini juga ikut berdiri. Hmmm, bukan mas mba juga sih ya. Ya dari situlah aku skillku hidup untuk berdiri 2 jam dan tidur sambil berdiri tanpa jatuh-jatuh kalau di kereta. 

Terus, dari banyak chip chop ini, kenapa judulnya ga pengalaman transum di Korea aja? Nah justru itu. Kalau kita balik ke tragedi kereta di Bekasi kemarin, orang-orang di internet ini emang suka banget dialihkan dari permasalahan utama ke permasalahan-permasalahan yang 'trending'. Emangnya kenapa sih ada gerbong khusus perempuan? Satu hal yang paling aneh yang kudengar adalah ada yang berargumen kalau perempuan diratukan, makanya dibuat gerbong khusus di ujung-ujung kereta. Dengan statement, peletakan di ujung ini niru cara China, biar mudah mobilitasnya. Like hell? Do you open the internet properly? Ya, pelecehan yang sering terjadi pada perempuan lah, hal yang bikin harus ada gerbong khusus perempuan sejak tahun 2010 ini.  Di logika aja, kalau aman, tentram, ramah perempuan, kenapa juga harus diciptain gerbong khusus, ya jadi satu kaya biasanya aja. 

Tragedi mengenaskan sampai semua beralih ke pertengkaran gender ini juga membuat geram. Memang ya, sebaiknya menulis itu sesuai dengan timeline karena, dengan ditahan untuk tidak dipublikasikan, emosi suatu tulisan juga akan terasa janggal. Ada salah satu orang di Twitter yang berkata kalau ini semua juga salah dari laki-laki yang tidak ada kapasitas dalam memprovide wanita sehingga mereka harus bekerja keras sampai akhirnya ya, kecelakaan di Transum. 

Patriarki itu nyata. Semua hal yang akhirnya sampai ke perdebatan gender ini justru membuat kita semakin rancu dalam berpikir. Setelah semua itu, orang ramai bertanya, jadi, siapa yang paling tertindas, laki-laki atau perempuan. Untuk kalian yang membaca, aku tanya, menurut kalian siapa yang dirugikan oleh sistem patriarki? Atau apa sih patriarki itu menurut kalian?

Patriarki itu mengurung kedua belah pihak, laki-laki dan perempuan, bukan mengucilkan penderitaan salah satunya. Iya, ketidaksetaraan gender itu sangat nyata. Dengan statement sebelumnya, of course, di situ laki-laki dirugikan karena dunia ini seolah mendesain laki-laki untuk memiliki kapasitas provide anything, kuat, ga nangis, bisa segalanya, ya, intinya bisa diandalkan lah. Yang tentunya, dengan bisa diandalkan ini, membuat fakta lapangan yang selama ini kita tahu juga bahwa pekerjaan itu mayoritas laki-laki yang punya. Pekerjaan dengan angka kematian terbanyak juga didominasi oleh laki-laki. Satu, memang karena perempuan susah untuk mendapatkan ranah itu atau ranah demikian. Dua, label bahwa perempuan tidak sekuat dan setangguh laki-laki juga ada. Perempuan harus dua kali lipat berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang setara dengan laki-laki, ini fakta yang gabisa dipungkiri. Tapi ada fakta lain bahwa angka kematian karena bunuh diri itu lebih tinggi pada laki-laki. Pun, kalau ada yang pernah ikut kabar Gita Savitri yang membahas kalau punya anak itu mempercepat penuaan perempuan, itu juga benar. Kenapa? Ya, karena sistemnya, beban pengasuhan anak, manusia yang lahir dari sperma dan ovarium yang bersatu ini, lebih berat pada perempuan. 

Jadi siapa? Siapa yang lebih tertindas di dunia ini? Ya, inilah yang harus kita ubah. Otak kita, pemikiran kita, pemahaman kita. Kita harusnya bertanya, sistem ekspektasi mana yang harus kita ubah? Fakta bahwa patriarki merugikan kedua belah pihak, lagi-lagi kusebutkan, itu nyata, bukan sepihak saja. Jujur, dengan ditulisnya blog ini, aku pun belum tahu mau kubawa ke mana kesimpulannya. Ruang diskusi sangat terbuka untuk kita, sebagai manusia, saling belajar, belajar memahami satu sama lain, belajar untuk tidak menjadikan diri kita sebagai pusat dunia yang harus selalu dimengerti, dan belajar bahwa kebaikan adalah sesuatu yang dimulai dari diri kita sendiri. 


 "Everything should be made as simple as possible, but not simpler" - Albert Einstein


Judul kali ini menggambarkan sekali apa yang akan kubahas. Ya... mungkin biasanya agak berbeda ya. Sebagai seorang mahasiswa kedinasan yang sudah cukup lama menjalani peran ini, walau belum lulus, bismillah lulus, ada banyak hal yang belum kudapat. Maksudnya?? Iya, banyak hal yang kurasa masih janggal dalam perjalanan prosesnya. Entah ini penyesuaian atau memang ketidaksesuaian. Dulu, selama aku SMA, dengan kemalasanku untuk memberi label pada satu kolom 'cita-cita', aku jarang sekali mengisinya. Bahkan, seringnya aku tanya ke mama, 'Ma, isi apa ya, males mikir', dan mamaku yang memang tahu anaknya begini menjawab, 'ASN aja'. Udah males mikir, masih banyak tanya, 'Emang kenapa?' Mamaku menjawab, 'ASN kan Aparatur Sipil Negara, banyak pekerjaannya, banyak jenisnya, entah nanti mau jadi apa juga.' Hahahaha, percakapan ini selalu kuingat sampai kapanpun karena jawaban Mama sangat bisa kuterima. Ya... mungkin ini juga doa tersirat yang jadi kenyataan sampai aku jadi mahasiswa kedinasan kali ya.

Berada di lingkungan kedinasan, kalau bisa aku ambil data secara serius, hampir semua yang kutanya terkait cita-cita, pasti jawabannya ASN. Aku cukup terhibur dengan hal kecil ini, karena diriku seperti menemukan diri lama, di mana yaudah aja, cita-cita apa? Jawab aja, ASN. Walau kadang ada jawaban-jawaban asbun yang lebih menghibur lagi. Memang sih, secara formal dan legalnya, mahasiswa kedinasan dari instansi apa pun ada untuk memenuhi kebutuhan birokrasi negara. Teori Public Service Motivation atau PSM dari James Perry dan Wise menyatakan bahwa seseorang yang sudah nyemplung ke dunia kedinasan ini pasti punya keinginan atau rasa tanggung jawab terhadap kewajiban 'mengabdi' pada negaranya. Dengan bahan bakar 'pengabdian'. Pun, adanya statement yang sering kali menyatakan bahwa anggaran besar digunakan untuk membangun komponen human capital atau mudahnya membiayai mahasiswa-mahasiswa kedinasan ini, pastilah terpicu dalam diri bahwa secara etisnya, memang harusnya, ada kewajiban timbal balik yang membuat kita 'kembali' atau mengembalikan ke negara. 

Memang sih, cita-cita menjadi ASN ini sangat aman dan simple, karena secara tidak langsung kita bilang kalau kita ingin mendapat NIP dan aman sampai pensiun (gajinya aman, duitnya lancar, hidupnya terjamin). Ya... kalau membahas soal nilai dan dampak nyata yang diberikan kepada negara, buatku ini kurang sesuai untuk menjadi suatu inovasi dari suatu substansi asli keinginannya itu sendiri. 

Emangnya, apa sih itu cita-cita?

Apa ya sebenarnya cita-cita itu? Buatku, pertanyaan cita-cita ini sungguh merupakan motivasi yang besar untuk kita lebih bersemangat dalam mencapai kedewasaan. Orang yang dengan pedenya bisa menjawab cita-cita mereka, buatku dulu, adalah orang yang keren karena tahu mau apa. Maklum, diriku yang dulu adalah seorang planner. Tetapi, semakin ke sini, semakin bertambah umur (read: tua), pertanyaan cita-cita itu mengesalkan. Membuatku mempertanyakan diri. Membuatku merasa kehilangan jati diri. Membuatku merasa aku berada di lingkungan atau sistem yang menyempitkan arti hidup manusia. Utamanya di peranku yang sekarang, yang terkadang secara kuat mendorongku berpikir untuk menjadi fungsi produksi negara. Apa ya bahasanya, dicekok? Mungkin terlalu kasar ya, tapi mudahnya begitu. 

Kalau pernah membaca ikigai, tentu, cita-cita itu bukanlah tentang 'pekerjaan apa yang ingin dimiliki' seperti yang biasanya dibilang kepada kita, dari kecil, hingga mungkin sampai sekarang. Di Ikigai, cita-cita itu titik temu empat elemen: apa yang dicintai, apa yang dikuasai, apa yang dibutuhkan dunia, dan dari mana kita bisa hidup. Profesinya bisa apa aja, tapi value-nya sama. Of course, dari mana kita bisa hidup adalah dari per-ASN-an ini, apa yang dibutuhkan dunia, juga apa yang instansi kita lakukan, apa yang dikuasai adalah apa yang kita pelajari selama anggaran ini mengalir terus di dalam darah kita lewat ilmu dan makanan, tapi, kalau tentang apa yang dicintai, mungkin ini yang beragam.

Ya.. di dahi kita gaada tulisan stempel 'ASN'nya sih ya. Lagi-lagi, kita sebagai manusia kan lahir dulu, baru bebas menentukan makna hidup kita. Manusia itu adalah proses, bukan produk jadi. Cita-cita adalah komitmen dinamis untuk kita mengasah diri, bukan merasa sempit akan jati diri. Berarti, manusia harus berguna dong? Ya... kalau diseriusin sih, manusia emang selalu butuh otonomi atau kendali atas hidupnya sendiri, utamanya soal mastery atau keinginan untuk menjadi ahli dalam sesuatu. Menurut Deci dan Ryan sih begitu ya. Entah perempuan atau laki-laki, pasti ingin ada sesuatu yang membuatnya merasa hidup dan berguna, bukan cuma lelaki.

Hmm.. balik lagi. Sistem kedinasan ini memberikanku 'peran', indeed. Tetapi dalam karakter apa aku ingin memainkan peran itu, itu masih aku yang menentukan. Ya.. aku akan kembali ke ikigai lama yang kulabelkan ke dalam bio di blog ini ya, lifelong learner, ahahha. Daripada aku ingin menjadi apa, mending menjadi siapa, kan? Bahwa aku melihat diriku sebagai 'sistem' yang selalu bisa di-upgrade dengan menjadikan belajar sebagai cita-cita yang membuatku ga 'kadaluwarsa', agar otak ini ga tumpul-tumpul amat walau udah mau mendekati ajal nantinya. Semoga di mana pun kita, penyesuaian itu pasti selalu ada, mungkin di dunia yang kompleks, mungkin di dunia dengan lingkungan birokrasi yang terkesan rutin dan kaku, ketakutan tersirat untuk menjadi seorang pembelajar tidak mati. Next lesson untukku, belajar ngembangin T-shaped skills kali, ahahaha. 

See yaa, hope you enjoy (and feel alive) as you read this one!

Newer Posts Older Posts Home

Categories

  • Thoughts 17
  • Lintas 14
  • Storiette 10
  • Landing 7
  • Movie 7
  • HoW? 4
  • Women 4
  • Qur'an 2
  • Food 1
  • Health 1

Popular Posts

  • Kolam Kecil Kolam Besar
  • she was so in love that she was willing to accept the bare minimum to make it work
  • Numbness

Archive

  • ►  2021 (18)
    • May 2021 (3)
    • Jun 2021 (2)
    • Jul 2021 (3)
    • Aug 2021 (2)
    • Sep 2021 (2)
    • Oct 2021 (2)
    • Nov 2021 (3)
    • Dec 2021 (1)
  • ►  2022 (15)
    • Jan 2022 (5)
    • Feb 2022 (5)
    • Mar 2022 (2)
    • May 2022 (1)
    • Jul 2022 (1)
    • Dec 2022 (1)
  • ►  2023 (1)
    • Jan 2023 (1)
  • ►  2024 (1)
    • Nov 2024 (1)
  • ►  2025 (1)
    • Jun 2025 (1)
  • ▼  2026 (20)
    • May 2026 (7)
    • Jun 2026 (3)
    • Jul 2026 (4)
    • Aug 2026 (6)
Powered by Blogger

Copyright © Stood and Stand. Designed by OddThemes