Ada hari di dalam kalender ketika manusia memiliki radar emosional yang tumpul. Alih-alih jujur menerima kekurangan dan memperbaiki diri untuk tidak merugikan orang lain, manusia justru memposisikan dirinya sebagai jiwa yang tersesat, sosok yang rumit, dan korban dari keadaan semesta. Manusia membungkus ketidaksiapan, ego, dan ketidakmampuannya dalam mengambil keputusan seolah itu perjalanan emosionalnya yang tragis.
You are what you believe you are
Rasa peduli yang dimiliki eksistensinya yang lebih buram daripada rasa ingin tahu. Mungkin ada momen ketika antarmanusia mengajari bagaimana caranya peduli terhadap satu sama lain. Namun, kenyataan pahitnya adalah tidak semua orang dibekali kecerdasan dan kepekaan emosional yang tinggi. Beberapa orang justru secara natural tidak bisa membaca perubahan mikro yang membuatnya melihat semuanya baik-baik saja sampai ada kata secara verbal yang menyatakan sebaliknya; bahkan ada penolakan terhadap hal ini juga, dungu.
Dalam rangkaian tali kehidupan, akan ada jebakan ekspektasi manusia, yang sayangnya realitas tidak selalu seindah apa yang kita ekspektasikan secara baik. Tentu, karena kapasitas empati dan cara memproses isyarat sosial tiap manusia berbeda-beda. Bahkan, ada beberapa manusia yang juga memilih kontradiktif sebagai kacamata kehidupannya. Manusia menjadi sangat kaku dalam memisahkan ranah kehidupannya. Dengan ketumpulan emosi yang dimiliki, manusia benar-benar tidak tahu untuk apa harus merespons apa dan kapan. Daripada mencoba, manusia memilih mekanisme pertahanan andalannya, menghindar.
People need a reason for everything they do. If they don't have one, they invent it
Bineritas juga menjadi sosok penuh bayang dalam hal ini. Emosi dan interaksi sosial diproses secara sangat biner yang menganggap perasaan adalah spektrum yang sangat sempit. Ranah abu-abu yang hadir dengan wujud nuansa tidak nyaman, canggung, merasa tidak dihargai, atau sekedar merasa kesal, dilempar dengan pertanyaan yang menjadi parameter antara apakah sisi lain ini harus berhenti atau meminta maaf. Yap, pemindahan beban emosional, yang seharusnya mengevaluasi diri sendiri, justru evaluasi diserahkan kepada manusia lain karena merasa tidak ada yang perlu diperbaiki dari dirinya.
Minta maaf memang bukan kalimat yang mudah diucapkan, tapi minta maaf juga satu-satunya cara instan keluar dari masalah, tiket keluar dari rasa bersalah, karena otak manusia akan menerima perilaku kecil tanpa arti dengan memaafkannya dan mengembalikan situasi aman dan melupakan hal-hal besar yang sebenernya masih menjadi masalah utama; walau tidak semua manusia akan menerima maaf ini.
Kalau belajar dari main tenis meja, memang ketika momen seperti ini menghantam keadaan dalam kehidupan manusia, akan lebih baik membiarkan adanya jarak dan ruang kosong. Daripada breadcrumbs membuat semuanya menjadi penawar instan yang menghapuskan dan meluluhkan, lebih baik menganggapnya tidak ada kan?
Blank spaces are places of transitions, not of stagnation. You must learn to inhabit the blank space with dignity
Lagipun, manusia yang terbiasa secara tidak sadar, ya karena orang dungu biasanya ga sadar, meromantisasi kebingungan, akan sering cuci tangan. Menyiapkan segala argumen, segala alasan untuk bisa melakukan dan mengatakan apa saja tanpa merasa bersalah karena toh pada akhirnya manusia lain yang bisa dijadikan rumput injakan dia. Termasuk ketika manusia meromantisasi ketidakmampuannya dalam berkomitmen. Manusia seperti ini pasti akan berbicara dengan analogi melankolis yang meromantisasi kebingungan mereka sendiri. Ide bahwa ikatan emosional adalah hal dramatis yang pasti akan meninggalkan bekas, arah yang dibuat kabur yang menahan pihak lain dengan potensi bukan dengan kenyataan, adalah semua yang akan menunjukkan kecerdasannya dalam menyusun narasi puitis yang kontras dengan memori kepercayaan terhadap tumpulnya radar emosi dia.
Ya, sebenarnya kebingungan adalah fase yang sangat manusiawi sih saat manusia dihadapkan pada persimpangan hidup. Namun, sebagai orang yang berusaha mencerdaskan kebodohan yang dimiliki, akan lebih manusiawi lagi apabila kebingungan direspon dengan mencari jawaban, mengambil sikap, dan membuat pilihan. Bukan menjadikan zona abu-abu sebagai zona nyaman permanen, bahwa memilih untuk tetap bingung adalah sebuah pilihan itu sendiri.
There are those who feel that life is a tragedy, and those who feel it's a comedy. But the worst are those who merely look on
Kedok kosong untuk membebaskan diri dari tanggung jawab, membuatnya menciptakan tameng yang kebal terhadap tuntutan. Karena ketika menuntut kejelasan dari orang yang sedari tadi kita bicarakan ini, ujungnya hanya akan membuat kita terlihat jahat karena menekan orang yang sedang berjuang mencari jati diri, menekan orang yang tersakiti; atau membuat dirinya terlihat demikian. Percuma istilah manusia adalah makhluk sosial hadir kalau dalam suatu bentuk sosial tidak ada tantangan untuk saling berkembang yang diterima bayarannya atau takut akan kehancuran kenyamanan padahal itulah bagian dari kehidupan dan keadaan manusia ketika hidup bersama orang lain, belajar saling menghargai.
Memang, seperti naik gunung, di manapun titiknya, pandangan pasti akan berbeda, seperti manusia, dengan titik mulai dan titik bertahan yang berbeda, pandangannya terhadap kehidupan dan caranya memroses hidup sebagai hal yang baru pertama kali dijalani juga akan berbeda, ya lagi pula siapa manusia yang udah pernah hidup sebelumnya? Reinkarnasi kali.
When someone shows you who they are, believe them the first time. People know themselves much better than you do. That's why it's important to stop expecting them to be something other than who they are. Because when someone looks at things through rose-colored glasses, all the red flags just look like flags.
nb. mungkin semua ini adalah dirimu
nb. nb. siapa juga manusia yang tidak mau belajar memahami kekurangannya, kecuali dirinya manusia yang sepenuhnya mati rasa
nb. nb. nb. tapi pada akhirnya, keadaan dan kemauan kita sendiri lah yang mengubah diri kita

.png)
.png)









.png)

