Ada suatu hal yang sering mengganjal hatiku. Pembahasan soal ikan. Bukan hanya karena setelah semua ikan di langit, ikan ini menjadi ikut melayang-layang di pikiranku, selain ada di sekeliling Beliau, tapi ikan juga jadi representasi manusia.
Aku lupa mengutipnya dari mana, tapi bayangin kita ada di ruangan 1x1, kita letakin seonggok kursi ke dalamnya, pasti langsung kerasa penuh mampus. Tapi kalau kursi yang sama, kita letakinnya di lapangan bidar alam, ya jelas ga bakal mempengaruhi apapun, cuma mungkin aneh aja tiba-tiba ada kursi di lapangan (oke not funny at all). Kemungkinan lainnya kalau ruangan ini suatu daerah tanpa sekat, like the region that we own is only that 1x1, pasti kita akan merasa, aduh ini mah bisa nih geseran dikit, but still the outside of that 1x1 is not ours.
Ikan yang berada di kolam besar akan memiliki lebih banyak ruang untuk berenang-renang, atau mungkin untuk terbang, ya tapi oke oke kita tidak akan membahas ikannya Beliau. Ikan normal saja. Kalau aku jadi ikan, danau toba mungkin jadi pilihanku, kalau laut rasanya aku kurang suka air asin, tapi boleh juga. Kalaupun di akuarium, ya, sempitnya akan sangat terasa sih, sama sempitnya di kolam yang ukurannya juga 3x3 misal, kenalan ikannya pasti ikan tuan aja.
Dalam hal mencari sosok berpotensi juga kurang lebih sama seperti perkolaman dan perikanan ini. Ketika kita dipertemukan dalam suatu kolam yang sama dengan banyak ikan lainnya, apa yang membentuk pandangan dan kriteria kita besar adanya berasal dari faktor ukuran dan variabel di dalam kolam ini. Kriteria tentang ikan favorit atau ikan paling menarik, ya ada di dalam kolam ini karena di kolam ini lah kita hidup dan lebih besarnya di dalam kolam ini lah kita menempatkan pikiran sadar kita.
Tentu, tentu, sebagai ikan yang bijaksana, kita bisa melihat lebih banyak ikan di laut ataupun kolam lain, ikan-ikan lainnya yang akan lebih bervariasi. Hanya, penempatan pikiran kita lah yang terkadang membungkam kita dengan fakta dasar bahwa kolam tempat kita berada sekarang hanyalah kondisi situasional yang akan dan sangat mungkin akan berubah ke depannya, di bentangan dunia yang lebih luas lagi.
Namun, ada juga jenis ikan yang memilih jatuh suka dengan potensi. Potensi di dalam kolam yang saat ini ia tinggali. Potensi yang ia harapkan, yang ia bayangkan akan menjadi ada di dalam perjalanan waktu nantinya. Meski potensi yang diharapkan ikan ini sebenarnya sudah diperlihatkan ketidakmungkinannya di depan dirinya secara langsung, tapi yang namanya jatuh, ada di luar kuasa. Lagipun ikan, kok jatuh.
Potensi dengan keberadaan mimpi, harapan, keinginan, tidak ada yang salah juga sih. Dengan sudut pandang bahwa kolam kecil kolam besar atau bahkan laut ini ada, mungkin sebagai ikan, ikan akan lebih tenang bahwa kehidupan perkolaman dan perikanannya masih amat sangat jauh, panjang, dan masih banyak kemungkinan kehidupan yang belum ditemuinya. Mungkin di dalam kemungkinan itu ada kemungkinan terbang, walau dirinya ikan.
Ikan yang sudah terlanjur jatuh juga mau bagaimana lagi? Di luar kuasa. Apakah bagi seekor ikan, jatuh itu menyakitkan? Kurang lebih, iya, kan dasarnya, jatuh. Ya, itupun kalau ikan bisa jatuh, kan ikan tidak berkaki, tapi apakah syarat jatuh itu berkaki? Tidak juga, hujan kan tidak berkaki, tapi jatuh juga, dari langit. Kolam dan ikan mengajarkan banyak hal tanpa perlu mengucap sepatah kata, kecuali mungkin sapaan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, mungkin juga selamat malam jika bertemu malam-malam.
Pun, untuk apa kolam mempedulikan seekor ikan yang sudah terlanjur jatuh, toh tanpa kaki pun ikan bisa terpelanting tenggelam ke langit-langit air, membiarkan sisa rasanya mengapung pasrah, seolah-olah jatuh tak selalu butuh tanah untuk mendarat, selain sekedar ruang untuk tiba-tiba lupa caranya berenang dan justru memilih hal asing, terbang.
.png)
.png)





.png)
.png)









.png)