Entropi, kata yang muncul kalau membahas keacakan. Pertanyaan apakah manusia itu terlahir sama atau apakah manusia itu setara mungkin pernah kita pertanyakan. Apakah hidup manusia seacak itu? Keacakan hidup manusia seringnya dilihat dari nasib yang dimiliki, entah apakah manusia itu tergolong sebagai manusia yang beruntung atau manusia yang sial. Terlebih ketika kita berfokus pada kata beruntung. Seperti yang kita tahu bahwa ada hal yang benar-benar di luar kendali kita, ada keberuntungan yang murni acak dan secara statistik memang ada. Bahwa tidak semua hal atau hasil yang didapat manusia adalah konsekuensi langsung dari usahanya, bisa jadi memang dia lahir di keluarga tertentu, bertemu dengan seseorang secara kebetulan, atau bahkan berada di tempat yang tepat di waktu yang tepat.
Kalau secara teori yang sering diungkap beberapa buku yang membahas soal kesuksesan, ada keberuntungan yang dibangun. Dalam matematika kita menyebutnya peluang. Secara matematis jika peluang berhasil adalah 1% maka mencoba sekali artinya peluang 1% sedangkan mencoba 100 kali bearti ada sekitar 63% keberuntungan (jika percobaannya independen). Inilah keberuntungan yang dibangun dengan konsisten. Pun, ada survivorship bias yang membuat keberuntungan cenderung dijadikan tokoh utama padahal kenyataannya ada banyak kasus lain di luar sana yang memiliki ending berbeda.
Sebanding dengan penelitian Richard Wiseman mengenai konsep keberuntungan yang diabadikan dalam karyanya berjudul The Luck Factor. Dengan partisipan yang dimilikinya, kesimpulan yang ditarik adalah 'beruntung' hadir karena pola perilaku tertentu, lebih terbuka, lebih banyak interaksi, lebih sadar akan peluang, lebih optimis, dan lebih mampu untuk mengambil pelajaran. Bukan pemikiran baru, penelitian ini sudah ada dari tahun 1966. Termasuk konsep locus of control, tentang bagaimana seseorang memandang hubungan antara tindakan atau usaha yang dilakukan dengan hasil hidupnya.
Dan masih banyak lagi secara psikologi dan sosial yang meneliti soal keberuntungan ini, entah tentang teori self-efficacy atau keyakinan bahwa harapan seseorang terhadap kemampuannya memengaruhi seberapa besar usaha dan daya tahannya atau Daniel Kahneman dan Amos Tversky yang menunjukkan dalam artikel mereka tentang judgment under uncertainty. Manusia cenderung salah dalam membaca kejadian acak, salah menilai ketidakpastian yang terjadi.
Hal yang diriku sadari sebelumnya aku percaya bahwa keberuntungan adalah perpaduan antara keacakan dari kesiapan bahwa secara nyata memang ada orang yang mampu melihat titik-titik tertentu dan membesarkan peluang dan kesempatannya. Namun, semakin banyaknya momen dalam hidup yang terlewati dengan banyak kondisi dan manusia yang membersamainya, pandanganku cukup bergeser. Kini aku meyakini bahwa sebenarnya keberuntungan itu tidak ada. Bahwa manusia memang tidak terlahir sama, manusia tidak memiliki hidup yang sama, manusia tidak diciptakan setara. Konsep utama dari apa yang disebut keberuntungan dalam hidup adalah qadar atau ketetapan Allah, izin dan hikmah Allah.
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ ١١No calamity befalls ˹anyone˺ except by Allah’s Will. And whoever has faith in Allah, He will ˹rightly˺ guide their hearts ˹through adversity˺. And Allah has ˹perfect˺ knowledge of all things. (QS. At-Taghabun 64:11)
Jika diingat lagi, doa yang tidak pernah lepas kupanjatkan adalah meminta yang terbaik. Terlihat malas memang karena aku tidak mendefinisikan terbaik dalam doa itu. Aku terpikir untuk membahas ini karena terlintas kepadaku, bagaimana ya kalau misalkan aku berdoa semoga aku mendapatkan keberuntungan di semua hal yang aku usahakan? Dan lintasan pikiran ini hadir karena ada ucapan, 'beruntung terus ya dirimu'. Semakin aku pikirkan semakin aku bertanya-tanya, memangnya yang dicari itu apa dalam usaha? hasil bagus kah? atau misal aku dapat yang kuinginkan, apakah itu berkah? apakah itu mendekatkan aku dengan Allah? atau apakah keberhasilanku baik untuk akhiratku? gimana kalau keberhasilanku membawa kesombongan?
Ya, pertanyaan yang muncul lagi juga aku justru mempertanyakan makna adil. Allah itu Maha Adil, jika memang konsep keberuntungan itu ada, apakah bearti ada yang namanya manusia favorit Allah? 'Manusia favorit alam semesta'. Dalam QS. Al-Mulk 67:2 memang dinyatakan kalau kehidupan dunia dalah ujian. Cukup offside tapi Al-Mulk adalah surat yang selalu dibaca selepas sholat magrib di kampusku, dan makin sering membaca maknanya semakin merasa kosong ilmu yang kumiliki. Dengan pernyataan itu, bearti Allah tidak menguji semua orang dengan soal yang sama, bearti memang benar bahwa hidup manusia tak selalu sama, dan manusia tidak diciptakan setara, kan? Bahwa keadilan tidak selalu bearti bahwa semua orang mendapatkan bagian yang sama.
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ ٢˹He is the One˺ Who created death and life in order to test which of you is best in deeds. And He is the Almighty, All-Forgiving. QS. Al-Mulk 67:2
Favoritisme adalah kewenangan Allah, jelas. Manusia pun memang diperintahkan untuk mengusahakannya, mengusahakan karunia Allah karena Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Bias manusia yang mengangap bahwa kemudahan adalah bukti dicinta dan kesulitan adalah bukti dibenci secara telak dibantah oleh Al-Qur'an. Semakin terpikirkan olehku, ukuran akhir dunia tentang bagaimana aku bisa menjalani amanah dan ujian yang diberikan Allah, tentang bagaimana aku merespon semua yang terjadi padaku.
Apakah sesuatu benar-benar acak atau hanya tampak acak karena pengetahuan manusia terbatas?
Ya, sebagai manusia kita memanglah makhluk yang terbatas, kita hanya bisa melihat potongan-potongan kecil hidup kita. Taufik, pertolongan Allah agar kita mampu melakukan yang benar. Barakah, kebaikan yang bertambah dan menetap. Taisir, kemudahan dari Allah. Fadhl, karunia Allah. Rizki, pemberian Allah. Qadar, ketetapan Allah. Tawakal, bersandar kepada Allah setelah berikhtiat. Semuanya adalah doa yang sebenarnya ada dalam definisi ketika kita meminta yang terbaik dalam setiap usaha yang dilakukan sebagai seorang makhluk yang terbatas.
Bearti apakah keberuntungan atau favoritisme ini tidak membatalkan keadilan Allah? Iya. Allah memang memberi manusia bagian hidup yang berbeda-beda. Ada yang sempit, ada yang luas, ada yang cerdas, ada yang penuh kesabaran, ada yang sehat, ada yang sakit, ada yang mudah lurus, pun ada yang jalannya berliku. Dalam Islam, tempat pembagian hadiah final bukanlah dunia ini karena kita sudah diperlihatkan bahwa dunia memanglah tempat kita diuji dan setiap orang diuji dengan cara dan bentuk yang berbeda
Ujian dengan kekurangan
Ujian dengan keberhasilan
Ujian dengan kelimpahan
Ujian dengan kegagalan
Ujian dengan apapun yang dititipkan Allah,
Adil, Allah menempatkan sesuatu hal sesuai dengan ilmu, hikmah, dan ketetapan yang sempurna. Mungkin dengan diberi banyak manusia akan ditanya lebih banyak, mungkin diberi sedikit justru diringankan hisabnya, atau mungkin kelambatan adalah cara Allah menjaga kita dari sesuatu, atau tampak gagal adalah cara Allah mengarahkan kita ke jalan yang lebih baik.
Tidak semua yang tampak baik benar-benar baik dan sebaliknya. Ada yang dinamakan nikmat kalau membuat seseorang bersyukur dan taar, ada yang dinamakan ujian jika Allah ingin melihat bagaimana seseorang ini menggunakan pemberian-Nya, pun ada yang disebut istidraj, jika justru membuat seseorang semakin jauh dari Allah. Keberhasilan yang kita inginkan dari apa yang sudah kita usahakan sebaiknya kita letakkan di tempat yang benar. Berusaha sebaik mungkin, tetapi jangan menganggap diri kita adalah pemilik hasilnya. Tawakal.
كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ٢١٦Fighting has been made obligatory upon you ˹believers˺, though you dislike it. Perhaps you dislike something which is good for you and like something which is bad for you. Allah knows and you do not know. QS. Al-Baqarah 2:216
Manusia adalah makhluk terbatas, Perjalanan hidup yang kita jalani kini adalah satu halaman dari keseluruhan cerita dan dunia bukanlah keseluruhan cerita. Dunia hanya bagian awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Keberuntungan adalah bahasa manusia untuk menjelaskan keterbatasan pengetahuan kita. Sedangkan iman mengajarkan bahwa dengan keterbatasan kita, tetap ada Allah yang Maha Adil dan Maha Mengatur. Allah Maha Mengetahui.
Pada akhirnya, semakin aku belajar memahami agamaku, Islam mengajarkan untuk melihat bahwa tidak ada kejadian yang berdiri sendiri di luar izin Allah. Tugas manusia adalah mengetuk pintu dan hak Allah menentukan pintu mana yang terbuka. Nyatanya hidup bukan tentang menjadi yang paling beruntung atau paling banyak menerima, tetapi tentang menjadi hamba yang paling tepat dalam merespon apapun yang Allah izinkan terjadi kepada kita.
Now, I only want to walk gently toward what pleases Allah. I will try with what I have and release what is not written for me. I am learning to accept life with a peaceful heart, to be grateful for what comes, to let go of what passes, and to trust what I cannot yet understand. I am still learning how to read this book of life, page by page, knowing that only Allah knows the whole story.
Perhaps “the universe’s favorite” is only a story humans invented to make sense of unequal beginnings, while faith quietly teaches us that every life is being written by the One who owes no explanation, yet loses no soul.
