Sisaan Kesia-siaan


Banyak film horor yang openingnya dibuka dengan petak umpet. Aku sangat setuju, karena memang petak umpet itu horor. Ditinggal sembunyi itu menakutkan. Apalagi menyembunyikan maksud diri. Menyembunyikan maksud yang ingin kita ungkapkan, keinginan yang ingin kita sampaikan, atau bahkan menyembunyikan rasa bersalah dan kalah. 

Ada satu faktor yang sering dijadikan kambing hitam. Waktu. Padahal, waktu tidak akan pernah menjadi masalah ketika sesuatu atau seseorang benar-benar diinginkan. Karena kenyataannya, manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh prioritas, bukan kalender. Yap, manusia akan berfungsi pada manusia yang tepat, atau yang menurutnya begitu. 

Membaca kembali apa yang telah kutulis, membuatku berpikir bahwa diriku adalah manusia yang sedang berjudi. Perjudian emosional. Dengan rangkaian panjang kejadian kebetulan atas hidup, peran menjadi pihak kalah malah kupilih.  Tergoda atas sebuah potensi yang menutupi realitas nyata bahwa kalah bisa dalam bentuk apa pun. 

Apapun bentuk kalahnya, harusnya secara sadar, tidak perlu dibungkus oleh teori rumit yang berusaha menyelamatkan harga diri. Cukup, ya, terima saja. Apakah evaluasi diri diperlukan? Mungkin. Tapi, akan lebih baik, untuk sekedar dan sesingkat, menerima.  

Sisaan atas kesia-siaan yang melintas dalam benak pikir bukan suatu hal yang harus diromantisasi dan direnungkan. Bentuk kalah yang terlihat kasat dalam wujud persembunyian, biarlah cukup diterima. Terima bahwa potensi perbaikan bukanlah opsi yang dimiliki kini. Terima bahwa perbandingan suatu atau beberapa bagian tidak perlu dipertanyakan. Terima bahwa keburaman akan selalu melekat dalam setiap lini waktu pertemuan. Terima bahwa warna kuning bukanlah warna kebahagiaan, melainkan bentuk perpisahan. Terima bahwa, kursi kosong itu, bukan tempat yang harus diisi. 

0 comments