Bersosialisasi, berinteraksi, hidup sebagai makhluk sosial, yes, kita ini manusia. Mungkin kadar pertemananku agak menurun semenjak hidup 24/7 bersama orang-orang yang sama ini dengan kondisi jarang pergi ke luar kampus (dulu). Walau, dari dulu emang secara pertemanan, jumlah temenku ini selalu bisa dihitung jari sih. Heran juga kenapa ada beberapa kenalan(baru)ku yang kurang percaya bahwa MBTI-ku adalah INTJ, utamanya di I-nya yang selalu lebih dari 90% kalau dites.
Dari kegabutan di awal bulan September yang mengisyaratkan kalau tahun 2026 ini udah 3/4 jalan, aku membaca soal Dunbar's Number. Hal pertama yang membuatku tertarik bukan karena kenapa Patrik dan rekan-rekannya ini berhasil debunk that theory, tapi, sebenarnya apa sih si Dunbar ini.
Teori yang dibawa oleh Rubin Dunbar, seorang antropolog dan psikolog evolusioner asal Inggris, pada tahun 1990 ini membahas tentang angka 150 yang menjadi batas kognitif otak manusia untuk mempertahankan hubungan sosial yang stabil dan bermakna. Bukan hanya yang oh aku tau siapa nama dia, dia asalnya dari mana, tapi lebih ke sifatnya seperti apa, bagaimana hubungan kita dengan dia, interaksi kita. Lebih jauh, ada teori lingkaran pertemanan atau Dunbar's Circle.
| Source: Emmanuel Lafont |
Lingkaran yang semakin membesar semakin tidak dekat, dari 5 orang teman yang sangat dekat dan selalu ada sampai 1500 orang, batas maksimal orang yang wajahnya bisa kita ingat. Nah, kenapa bisa di 150 angkanya? Dunbar ngaitin ini sama ukuran neocortex. Kalau dibaca sekilas, alasannya karena menurut dia mengurus hubungan sosial itu memakan energi otak, jadi otak manusia secara evolusioner membatasi kemampuan komputasi sosialnya di kisaran 150 itu cukup masuk akal sih ya, apalagi di saat itu.
Apalagi, jurnal tahun 1992 ini meyakinkan dunia bahwa struktur biologi otak kita, neocortex, adalah pagar pembatas kehidupan sosial kita. Kenapa primata otaknya berukuran lebih besar daripada manusia lain? Pendapatnya lewat social brain hypothesis ini ya karena otak primata berevolusi besar bukan untuk bertahan hidup mencari makan aja, tapi untuk memproses kerumitan interaksi sosial. Angka yang dihasilkan dari eksperimen setelah menemukan rumus grafik pada 38 primata dan diambil rasio neocortex manusia terus diproses matematis oleh Dunbar. Ini juga ada di 147,8 orang yang akhirnya dibulatkan ke 150.
Walaupun hal pertama yang kubaca adalah soal kecacatan statistik teori ini di tahun 2021. Ada margin error yang terlalu besar. Rentang margin error dengan interval kepercayaan 95% dari hitungan Durban ini antara 2–520 orang, seluas itu. Ditambah lagi bahwa otak manusia gabisa secara gitu aja disamakan dengan primata karena manusia juga mengalami evolusi budaya dan pewarisannya yang mengubah cara manusia berpikir dan bertindak dalam skala besar. Yang intinya, Patrik dan 2 rekan lainnya dari Universitas Stockholm ini bilang kalau secara sains batas bersosialisasi manusia itu sangat bervariasi bagi tiap individu.
Aku pun gatau sampai September 2026 ini udah ada berapa banyak hubungan sosial yang terbentuk secara benar-benar bermakna, apakah udah 150, kurang, atau lebih? Ahahaha, 나인 말라. Tapi dengan menjadikan membaca buku sebagai tameng ketika malas berinteraksi dengan manusia lain... mungkin kurang dari 150 AHAHAHA sulit buatku menyebut membaca buku sebagai hobi karena secara asli dan sejujur-jujurnya emang.. dia tameng paling ampuh untuk menghindar dari banyak interaksi baru.
Aku suka ketika ada orang yang bisa approaching me well, kaya, terharu gitu (agak alay ya mengetik ini). Tapi tapi, aku sangat lebih suka untuk menjadi tuan rumah daripada tamu dalam suatu interaksi atau obrolan karena aku bisa menyetir obrolan ini mau ke mana, aku bisa ngatur jaraknya, sejauh apa investasinya, sehangat apa kedekatannya, se transaksional apa. Daripada aku yang harus ada di wilayah orang lain dengan ritme yang mereka atur dulu. Ya ya ya, sebut aja I prefer host mentality than guest mentality. Tapi balik lagi sih, karena diri ini terkadang malas memulai duluan hehe, jadi paragraf ini tidak dimaksudkan untuk menolak orang baik yang sudah berusaha merangkul orang ke dalam obrolannya, merangkulku ke obrolannya. Udah cukup panjang juga pembahasan untuk memulai bulan baru ini dengan membayangkan miliaran manusia berseliweran menuntut interaksi yang terasa lebih rumit, so mari kita tutup dengan penggalan dari Pale Blue Dot-nya Carl Sagan,
"Look again at that dot. That's here. That's home. That's us. On it everyone you love, everyone you know, everyone you ever heard of, every human being who ever was, lived out their lives. The aggregate of our joy and suffering, thousands of confident religions, ideologies, and economic doctrines, every hunter and forager, every hero and coward, every creator and destroyer of civilization, every king and peasant, every young couple in love, every mother and father, hopeful child, inventor and explorer, every teacher of morals, every corrupt politician, every 'superstar,' every 'supreme leader,' every saint and sinner in the history of our species lived there—on a mote of dust suspended in a sunbeam."
Semua obrolan, entah basa-basi entah berat, semua interaksi, entah berisik entah menenangkan, pada skala alam semesta, semua hanyalah debu kosmik, dan kita berhak memilih siapa yang ingin kita undang ke dunia kita, pun siapa yang kita usir secara paksa ataupun kita tuntun untuk pergi darinya.
