Stood and Stand

by Citra Maharani

Stood and Stand
  • Home
  • Author
  • Portofolio


“To make the most of our human potential, we need to have as many varied experiences as we can.”

Imagination shapes our desires. We can have impressions of people based on our imaginations without knowing who they are. Stranger. Everyone new in our lives can be said as a stranger; even if we knew them previously, if we are away from them for a period of time, we become strangers to one another. It happens frequently as we dynamically introduce each other.

Yes, imagination shapes our desires, but in fact, we are both strangers to a miracle. Somewhat, somehow. In another way, we can break each other before we ever do such things. We're being funny in a foreign language as we have no idea or know each other. 

All of this shaped the way I thought about connections. I don't fully understand why some compliments exist in order to impress someone else, as I struggle with the existence of such compliments. The exposition given by the compliment is somewhat bothersome to me. When someone compliments you, it shows that your potential has already been exposed and seen by others. As a result, someone else knows of your experience or what you have been through as a whole, or at some point in your life. 

Trust won't be measured like a unit in physics laws. For someone who believes that love is never unconditional, admiration always comes with mystery. There is no such thing as easy when it comes to trust, because it exists or will exist in the way of your understanding of others. Almost is never enough. As Sapiens, we have experienced so much history that some argue that our DNA still remembers our past and is activated by such events when we are in survival mode. Yeah, although we know that this is all an illusion, at least I thought it was an illusion.

Then why? Why do some people prefer hurting themselves more than others, regardless of the fact that they want to have as many diverse experiences as possible? Rejection, loneliness, bitterness, and misery, all of them related? If you've already met such a person in your life, they would hide flaws as deep as the Pacific Ocean, manipulating their own feelings, in order to continue lying for their own system. They believed that 'knowing me more leads to loving me less'. Yes, indeed. Being known doesn't guarantee being loved. There is a part of us that believes something can be beautiful alongside suffering, as we have seen too much, or perhaps not enough. 

I don't have a conclusion for this question because I wrote it as a title. Some of you may have already read it, and they have their own conclusion or quote to answer this trap question. However, it is difficult for me to do so since I complicate things, and I was unable to uncover any wise ones. It's my comfort zone when someone only knows the idea of me, when I choose to make boundaries or, in extreme cases, keep someone at arm's length, when I decide not to express any truth for fear of being seen as too much for the mundane. 

It will stop by here since this question is bothering me in some way, as if it is just a piece of who I am. Love is a myth; it depends on who you are with, because it's quite sad when you've shared half of your life with someone only to learn that they're not the one.

sns

I hadn't imagined that I would be turning 22 in this kind of situation. I still find it hard to accept the fact that, in 2026, at the age of 22, my desperation to do my schoolwork and do well on exams keeps haunting me like ghosts and will continue to do so at least until next year, when I expect to graduate. In my time off, I came across a strong rain, which drove me to write, yes, this one. I'm not sure why, but I feel somewhat relieved that I will never stop learning because I spend a lot more time in "formal education" (read: kuliah kelamaan ahahah).

Even when I know exactly what to look for, I am always hard on myself, as I am honest with me. Living abroad last year was a truly provoking experience for me because I realized that although the world is so huge and I am so small, I have life and the opportunity to do anything as great as my God allows me. Lebarnya dunia terbentang, duniaku ternyata jauh lebih luas. Dreaming of something big that seems so strong and untamed makes me realize that no matter how bad things happen in this world, they seem meaningless in comparison to the thousands of opportunities that are waiting for me to turn them into reality, untuk menjadikannya ada menjadi salah satu dari realitas di kehidupan fanaku. Perhaps it's not just me, but when I think too much, I can't feel enough, and when I feel too much, I can't think clearly.

As humans with a high wall as a guard, some of us might feel hatred if others discover our vulnerability, as we continuously pretend to be strong and wise. But, darling, whoever you are that reads this one, believe me that maybe it's not today at this time, but someday, you will find someone that wants to know you more, someone that is always checking on how you're doing in life every now and then, someone that asks about your favorite food or where your favorite drink is sold, but most of all, you will find someone that will remember each and every one of your answers so well, even the most insignificant one.

Darling, you have to find yours and be grateful for them. Thank you for letting yourself be vulnerable in front of them, for hearing the stories you won't tell anyone else, for letting them see the side of you you won't show anyone else, and, above all else, for allowing them to understand your brokenness. I'm unsure how, but as I spend my time, think, and feel, maybe connection is what I need the most, and I can regain independence by connecting with my family, friends, or perhaps someone new.

In closing my prologue to my 2026 journey, I'd like to remind myself to enjoy the path, even if it has no meaning at times, and that everyone deserves to be seen. Also, for whoever that could be, I hope I can be mature and not choose to leave everything first, assuming that everything would leave me later, and to be someone who understands how to live as a human and for others.


ps. it's fun somehow since my prologue begins in early May

 


Hello, it's been a while since the last time I wrote about something in this blog. I know... because I was too tired of technology, I used a book, I mean a journal, instead. AAHAHHA, just kidding. I mean, I love the kind of messy handwriting I made in my book. Bisa kubilang, banyak hal yang berubah, entah itu dari kebiasaanku, atau dari hal-hal yang menyertaiku. Citra 5 tahun lalu pasti sangat terkejut kalau dia di tahun 2025 ini, mengisi blognya setelah sekian lama di Korea Selatan, iya di kota tempat artis yang ditontonnya sewaktu Covid-19 dulu kebanyakan tinggal. Pertama kali naik KRL Jogja-Solo, aku kira itu momen terbaik tempat aku merasakan perpindahan dengan cara yang berbeda. Biasanya naik bus, naik mobil, jalan kaki, akhirnya aku naik kereta. Sewaktu keliling Jakarta, pertama kalinya juga aku bingung membaca denah, sampai-sampai aku naik kereta yang tujuannya berkebalikan dengan tempat yang aku mau. Ya, namanya juga pertama kali. Pertama kali naik kereta di Korea .. wow tidak menyangka jalurnya sebanyak dan se bercabang itu. Kesasar? Udahlah aku sampai lupa sebanyak. Aku juga pernah kelewatan sampai akhirnya mutusin buat berhenti di stasiun Mangu yang harusnya di Sinnae, walau berjarak cuma satu stasiun sih sebenernya. Namun, akhirnya aku bisa dan berani naik kereta sendiri, mencari jalan sendiri, dan turun di tempat yang aku mau tanpa khawatir ketiduran di kereta karena aku tau kapan dia akan sampai dan bagaimana nadanya. AHAHA. Setiap naik kereta, aku suka lihat jendelanya, selalu keinget sama lagu Nadin Amizah, kereta ini melaju terlalu cepat, entah kenapa kadang buatku kereta juga terasa lambat, karena di dalam kereta, apalagi ketika sendirian, aku bisa memikirkan banyak hal yang sebelumnya ga kepikiran buat dipikirin. Terkadang, ada masa di mana aku memilih untuk diam dan merenung daripada memikirkan apa yang harus kulakukan ke depannya dan masa-masa itu selalu datang saat aku berada di kereta. 

conveyance of persons or things from one place to another; the carrying or movement of goods, passengers, etc, from place to place

Arti transit, yang kuambil dari Merriam Webster dan Cambridge Dictionary. Sebenarnya aku juga ga banyak menemukan diriku melihat film yang kebanyakan latarnya ada di stasiun atau di dalam kereta. Kalau ga salah, 5 cm per second, ya mungkin itu anime yang ada latar-latar perkeretaan yang aku lihat, sama video pendek di Youtube yang aku lupa judulnya apa. Atau mungkin, siapapun yang membaca ini, ada rekomendasi? Aku kadang berpikir, apa ya momen panjang dalam 21 tahun hidupku ini yang udah jadi titik transit buatku?

Transit ada karena ada jeda di tiap kejadian. Ada masa di mana kita ga sepenuhnya tau mau kemana, mau lanjut maju, atau mau balik mundur. Ada masa yang kadang membuat kita memilih buat cuma berhenti, iya berhenti aja untuk berpikir. Hal yang sering aku lakukan, aku suka berpikir sudah melewati apa aja, hal ini yang membuatku lupa waktu AHAHA karena saking fokusnya. Keputusan dan kesempatan, merelakan dan melepaskan, menyadari dan mengikhlaskan, adalah hal-hal yang selalu kita jalani, atau aku jalani. Terlepas dari apa yang udah aku lewati sampai doa orang tuaku dan takdir baik Allah membawaku sampai di titik ini, aku selalu menempatkan dan memberi ruang untuk masa dan waktu yang telah aku habiskan di UGM. Dulunya jadi yang paling muda, kini aku menjadi eonni line. Aku melepaskan 5 semester itu untuk mencoba berjuang dari awal kembali di jalur yang berbeda, dan sekarang aku di semester 4. Udah hampir 2 tahun ternyata.

Mudah? Engga. Susah? Depends. Doa-doa yang dulu aku ulang terus menerus, yang aku sampai pernah bertanya apakah emang aku ditakdirkan untuk seperti ini dan tidak seperti itu. Sampai di awal pindah kampus yang masih membuatku belum ikhlas menjalaninya dan selalu bertanya mengapa dan bagaimana jika, hingga akhirnya aku memilih untuk ga melakukan apa-apa dan diam. Memilih untuk lebih fleksibel dan tidak idealis dengan keinginanku. Dan berhasil?? Emang ya, kekuatan ikhlas itu besar pengaruhnya. Ikhlas dan jalani dengan sebaik-baiknya apa yang memang ada di depan kita, bukan kemungkinan-kemungkinan belum pasti di berbagai percabangan linimasa itu. 

Walau sampai sekarang dengan kepastian yang harusnya sudah ada, aku juga masih belum tau ke depannya mau gimana. Seorang planner yang dulu ga pernah lepas dari jadwal di Google Kalendernya, yang bisa ngerjain dan ngecek setiap hal yang dilakuin buat mastiin itu bener-bener bener, sampai jadi orang yang mencatatat semua tugasnya hanya di kepala dan memilih untuk memakai prinsip, asal ga telat aja. 

Momen panjang yang bisa kusebut transit, mungkin adalah aku di akhir tahun awal tahun 2024. Waktu yang aku habiskan untuk berpikir apakah aku benar-benar bisa menjadi seperti yang aku inginkan (buset udah kaya lagu aja) atau yaudah jalani aja seadanya kaya sekarang. Sampai, Allah kirimkan satu petunjuk, nilai ujianku yang sangat dekat dekat kata sempurna, dan dari situ .. cara pandangku .. melihat dunia seaakan .. lah malah jadi lagu Nadin huhuhu. Sampai akhirnya dari situ aku diminta tolong untuk membuat kunci jawaban untuk soal yang sama dan soal sejenis yang ternyata malah disuruh njelasin di depan kelas. Hal yang paling membuatku yakin itu waktu transit panjang adalah aku merasa ada di waktu dimana aku menyadari ada kebahagiaan tersembunyi yang harus aku bangun satu per satu, bukan tiba tiba jadi secara penuh. Ada tujuan yang aku belum tau apa yang bisa aku usahakan lebih untuk dia menjadi ada. 

Matematika membawaku ada dalam fase itu. Tempat aku berhenti berangan-angan, berhenti bermimpi, berhenti berharap. Tempat aku hanya diam, berpikir, dan memaknai setiap hal kecil. Berhenti berangan kalau aku akan menjadi orang super, berhenti bermimpi kalau aku bisa menjadi yang terbaik, dan berhenti berharap kalau aku akan mendapatkan golden ticket dadakan. Satu hal yang ga pernah berhenti adalah berdoa, tetapi, aku ga yakin ini hasil dari doaku, aku yakinnya itu doa mama papa dan orang-orang baik di sekitarku. Tapi berdoa itu kan juga bentuk pengharapan belas kasihan Allah ya? hehehe. Kalau dulu aku ga berhenti dulu berangan-angannya mungkin aku cuma selesai di angan-angan itu aja. Aku yang sekarang, setahun setelahnya, juga masih sering berpikir akan membawa diri ini kemana. 

Tapi ya sudahlah? Waktu akan tetap berjalan maju, tidak peduli kita hidup di dalamnya atau tidak kan? Itu mengapa dalam hidup, hidup kita inilah yang berharga bagi diri kita, berhenti boleh, tapi bukan memberhentikan hidup dengan paksa, berhenti boleh, tapi harus ingat bahwa ada banyak hal baik yang selalu menunggu untuk diperjuangkan menjadi ada. 



Lebarnya bentangan dunia dan ribuan kesempatan lain yang akan kamu miliki nanti, dapatkah aku menjadi bagian dari luasnya kehidupan yang sedang kamu jalani kini?



My dear grown-up, Ar

    Lagi dimana sekarang? Di ruang tertutup atau terbuka? Coba liat ke langit deh, warnanya apa? Kamu suka warna biru kan? Tapi dari yang aku rasakan selama ini, sepertinya kamu udah jarang memahami rasa sukamu ya, sampai gatau lagi seleranya seperti apa. Dulu kamu paling gasuka kalau diajak ke pantai bahkan sering nolak, tapi Jogja udah ngubah hal ini ya, kamu seneng banget tiap kali mampir ke pantai, apalagi kalau langitnya biru dan pasirnya putih seperti saat itu. Tapi kamu ga kalah senengnya waktu diajak ke alam kaya Kaliurang, ga bosen bosen kayaknya even tiap hari Sabtu sore selalu motoran cuma buat cari kabut pegunungan.
    Sekarang, apa hal yang paling kamu suka, ran? Susah ya pasti jawabnya AHAHHA. Aman aja, aku tau kok, it's totally fine, ran. Inget kan terakhir kali kamu ambil keputusan gede itu kapan? Iya taun lalu, udah lewat setahun malahan kan. Are u okay, now? Is everything goes well?  Inget ga kamu pernah nulis ini beberapa tahun yang lalu? How is it now, setuju ga sama buku yang kamu baca itu?


Cerita atau bercerita ke orang lain bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan bagi beberapa orang. Waktu kita pusing berat mikiran masalah kita, dengan adanya ‘pikiran baru’ buat nyoba cerita ke orang lain, masalah yang tadinya kita anggep berat malah jadi, ‘ah iya, ntar dia mikir masalah gini doang kok ribet mikirnya, gajadi deh’. Atau waktu kita merasa lagi unstable, buat cerita ke orang lain kita malah bingung nyeritainnya gimana biar mereka yang ndengerin itu paham sama apa yang kita rasain. Beberapa hal atau permasalahan juga kadang tabu bagi beberapa orang, kaya masa hal itu perlu banget dibahas? Atau merasa can handle everything jadi cerita ke orang bukanlah suatu hal yang ‘harus dilakukan’.

Yep, aku juga termasuk bagian dari hal-hal tadi. Merasa bisa ngatasin semuanya sendirian tanpa harus cerita ke orang karna toh mereka mana paham, pikirku. Bukan hanya masalah besar, tapi juga masalah sehari-hari kaya makanan, pertemanan. Awalnya, habis cerita sama orang lain (emm sebenernya di sini aku bilang ke orang lain karena refer nya bukan hanya ke temen deket irl tapi juga ketikan di sosmed) malah bikin tambah overthinking. Eh tadi harusnya gini, eh engga-engga harusnya gini, eh ntar pada salah nangkep gimana ya, dll. Kalo diinget lagi malah suka ketawa aja, like, pantes hidupnya ga tenang, dikit-dikit dipikir berlebihan.

Sekarang, buatku hal-hal dalam hidup itu udah punya porsinya masing-masing. Hal ini juga bearti bahwa gaada hal yang bener-bener harus kita abaikan. Ya, hanya soal prioritas aja. Of course, prioritas kan bakal terus berubah ya seiring berjalanannya waktu dan menyesuaikan situasi kondisi. Waktu pertama kali kuliah aku mikirnya temen kuliah itu ya teman buat berbagi ‘masalah akademik aja’. Untuk urusan di luar itu, ya bakal aneh gasih kalo aku cerita ke mereka. Atau ntar aku bakal dapet komentar, ‘anak kuliah kok hal-hal kaya begini doang harus dipikirin’. Namun, setelah aku mencoba memahami diriku lebih dalem dan ketemu sama temen-temen yang aku enjoy having them around, cerita malah jadi hal yang ga pernah kelewat.

Buat bahasan berat kalo kaya mikirin kehidupan, agama, orang tua, keluarga, entah kenapa semuanya ngalir dengan mudah di depan mereka. Tentu, ga semua cerita, rasa, dan momen itu bisa dibagikan karna sebagai manusia kita punya kontrol sendiri atas boundaries yang kita punya. Omong-omong soal ini, dulu juga hal yang bikin aku ragu buat cerita ke orang lain adalah aku merasa orang ketika cerita entah kenapa ada hal yang harus dia batasi dan hindari buat disampein. Sampai akhirnya aku sadar kalo ya itu hal normal, normalnya manusia.

Bahkan lucunya lagi, hal-hal kaya ‘duh kok si ini sikapnya aneh banget, ya?’ yaa .. masalah romansa remaja (hm apakah aku dan teman-temanku masih itungan remaja), ya yaudah kita saling cerita aja. Hal romansa yang menurutku dulu tabu banget buat dibicarain karna kan sekolah kuliah masa bahasnya romance AHAHAH.

Hal-hal dalam hidup punya porsinya masing-masing. Berapa banyak dan sesering apa banyaknya porsi itu berubah, kita sebagai manusia punya batasan dalam mengontrolnya. Mengevaluasi kehadiran orang-orang, mana yang tepat untuk kita cerita ini, cerita itu, juga bisa dilakukan. Semisal, oh kalo sama si A ceritanya  ini itu, sama si B ono inu, sama si C sebatas oni. Ini wajar, asalkan kita nyaman. Kita bisa mulai untuk coba buat ‘sistem alur cerita’ versi kita, senyaman kita. Yang penting kita ga merugikan orang lain dan jujur sama keadaan dan perasaan yang dialami diri sendiri. Dengan ini semua, secara ga langsung kita bisa lebih mencintai diri kita dan tentu, mencintai hidup yang telah diberikan Tuhan kepada kita.  


Lama ga nulis, muncul-muncul bahas pencapaian. Tahun ini, 2022, sangat amat (woo alay dikit) memberiku banyak insight baru. Di awal tahun, ada hal yang cukup ga pernah terbayang alias hal yang ga masuk dalam rencanaku. Yap, mencoba daftar kedinasan. Awalnya aku gabisa nerima hal ini dan selalu mencoba untuk menggiring pendapat dan pemikiran ortu bahwa ada jalan lain, ya tetep nerusin di jurusanku yang sekarang tanpa harus pindah. Then, ya kenapa ga dicoba aja? Orang tuaku memberi pendapat itu juga dengan alasan yang rasional dan bisa diterima (yee cit, nulis gini padahal waktu itu galau hehe). Jarak pengumuman pembukaan pendaftaran sama pendaftarannya waktu itu lumayan jauh dan ya aku udah kepikiran buat masuk kedinasan yang mana. Lalu, boom, gak menerima mahasiswi baru. Galau lagi. Dengan tinggi yang ga tinggi-tinggi banget dan mata yang juga ga normal, bingung lah tu milih mana.

Ternyata setelah banyak diprotes, kedinasan satu tadi (yang ga nerima perempuan) akhirnya merubah keputusannya, cuma ya .. syarat tinggi dan matanya makin diperketat and guess what aku ga memenuhi syaratnya woo. Waktu itu cukup pusing karena juga disambi dengan mikirin kuliah semester 2 yang masya Allah membuat mahasiswa-mahasiswanya tujuh keliling alias pusing. Ditambah dengan beberapa kegiatan non-akademik yang aku ikutin. Yah, aku mencoba menjalani semuanya dengan kalem agar tetap sane.

Agak lompat, aku bersyukur banget. Emang semua jadwal tes SKD (Seleksi Kompetensi Dasar) itu timelinenya bebarengan sama UAS atau Ujian Akhir Semester, tapi aku dapet yang hari Minggu and I’m so happy to know that. Beruntung waktu di semester 2 ada yang namanya minggu tenang. Beruntung ga beruntung aslinya karena di minggu tenang itu adalah waktu untuk aku ngejalanin proker (program kerja) yang udah dirancang bareng-bareng sama anak timku yang lain dan kebetulan aku ketuanya .. so yeah. Jadi, dari 7 hari di minggu tenang itu, sisaku untuk benar-benar tenang dan fokus belajar adalah mulai hari Kamis. Bukan mahasiswa namanya kalo gak sok keren, alias belajar materi satu semester dalam sekejap sebelum ujian. Di minggu tenang itu aku mulai belajar kedinasan dengan serius. SKD buatku cukup susah karena aku bukan orang pinter yang tanpa belajar langsung bisa paham dan dapet hasil memuaskan gitu aja. Bahkan udah belajar pun, hasil TO atau try out yang aku ikutin ga pernah lolos ambang batas. Sedih? banget, tapi ya yaudah gimana lagi, gagal ya gagal aja hehehe. Makanya aku mutusin buat lebih ke nitik beratin kedinasan daripada UAS walau sebisa mungkin fokus dua-duanya. Ngejar materi buat UAS, aku ngandelin catetan dan pendengaranku selama ngikutin kelas.

Waktu UTS (Ujian Tengah Semester) aku cukup sering buat belajar bareng temen. Namun, buat di UAS ini aku cenderung dan bahkan semuanya belajar sendiri di kos karena apa yang kupelajarin kurasa gabisa fokus kalo harus dipelajarin bareng-bareng. Ya sejujurnya sih aku gamau temen-temen yang lain tau kalo aku nyoba untuk kabur (re: daftar kedinasan). Apakah aku merasa mampu melewati semuanya? Yap mampu banget, mampu buat stressnya. Aku ga sehebat dan sebisa itu untuk unggul di dua bidang sekaligus. UAS yang kebanyakan materi eksak dan SKD yang penuh pilihan tricky.

Aku ga sempet nangis saat itu, mikirnya, halah nangis-nangisnya nanti aja, ini nih masalah di depan mata dikelarin dulu. UAS minggu pertama aku hadapin dengan persiapan yang dibilang cukup dan mata kuliahnya pun juga cukup bisa dikerjakan dengan tersenyum (tanda pasrah). Yang jadi problem banget adalah matkul minggu kedua utamanya Analisis Variabel Kompleks (AVK) yang amat kompleks. UAS matkul ini di hari Senin, langsung setelah tes SKD. Aku udah mutusin buat pasrah di AVK dan bener-bener 2 hari (Jum’at dan Sabtu) buat belajar SKD.

Dipikir-pikir lagi, kekuatan doa itu emang nyata adanya. Otak yang udah kelelahan overthinking soal hasil SKD dan orang tua sama keluarga di rumah yang juga ikut deg-degan, ternyata masih kuat buat belajar AVK ngebut pake sistem SKS (Sistem Kebut Semalam). Sewajarnya habis tes, ortu pasti nanyain kabar gimana tadi, terus reaksi ke skor yang ditampilin secara live di Youtube dan lain sebagainya, tetapi aku memutuskan buat menjauhi social media waktu itu. Introvert satu ini perlu ­recharge energi dulu sebelum perang lagi (ahahaha) yak aku tidur bentar. Bisa dibilang belajar ga belajar habis itu karena belajar itu kan baca materi, review, latihan soal, diskusi sama temen kalo bisa, and repeat. Nah, yang aku lakuin malem itu adalah baca catetan dan bolak-balik bukunya aja, tanpa nulis atau coret-coret. FYI, biasanya di beberapa matkul tertentu itu ada ­cheat sheet atau lampiran sebanyak 1 lembar yang bisa kita isi apapun dan boleh dibawa waktu ujian. Matkul AVK ini gaada eh gaboleh pake cheat sheet. So, yaudah gaada coret-coret yang terlahir.

Besoknya waktu ujian, kaget aja, ternyata aku bisa ngerjain soalnya. Seneng tentu. Basically kesenanganku di UAS atau ujian apapun itu seringkali bukan karena aku merasa jawabanku bener, tapi karna aku bisa jawab, ya at least kertasnya ga kosongan and it happens di AVK, terharu dikit tiba-tiba di otak semuanya nyambung aja.

UAS dan SKD terlewati, tentu hasil pasti keduanya sama-sama belum muncul. Gatau kenapa, entah kepedean, di otakku hanya ada pikiran bahwa semester 3 aku udah ga di UGM lagi, dan udah kuliah di kedinasan tadi. Jadi, ya gaada rencana atau keinginan apa-apa, ga terbayang, buat ngapain aja kalo di semester 3. Emang agak-agak.

Long story short, aku ga lolos perangkingan nasional. Oh iya ada alasan dibalik kepedeanku itu. Aku dapet nilai tertinggi di sesiku untuk prodi yang aku pilih.

[delay bentar, yang nulis agak mellow]

Like I said before, aku ga punya bayangan bakal lanjut semester 3 di UGM. Seperti angin di kala mendung hadir, ada acara mentoring karir yang buka dan tanpa berpikir Panjang aku daftar aja. Boom dari situ aku banyak kena pukulan apalagi se timnya maba semua, tapi mereka udah tau mau ngapain aja. Udah lah tu, aku mencoba tetap sane dengan coba nulis-nulis lagi.

Seorang aku yang awalnya gatau mau ngapain, mau kemana, mau apa, sekarang akhir jadi lebih semangat buat apa-apa. Tentu, sampai sekarang pun aku masih struggle dalam menentukan kedepannya mau gimana dan hal apa yang perlu dilakuin buat kesana, tetapi aku enjoy. Kuliah offline ketemu orang banyak, ikut kegiatan-kegiatan yang lingkungannya macem-macem, bahkan lebih tau dan kenal sama diri sendiri.

Aku gabakal jadi aku di akhir Desember 2022 ini kalo misalkan aku gajadi lanjut semester 3 di UGM. Mungkin juga aku bakal jadi aku yang lain di Desember 2022 kalo aku keterima di kedinasan tadi. Apa hal-hal yang aku ingin capai di 2022 ini tercapai semua?

Well, buatku sekarang, pencapaian itu ga hanya bisa diliat sebagai ‘telah mencapai sesuatu’. Udah ini udah itu, habis ini, menang itu, ikut ini, dan sebagainya. Setelah apa yang aku lewatin di tahun ini, buatku pencapaian itu adalah titik di mana kita sebagai individu akhirnya bisa menerima dengan nyaman. Menerima jalan yang akhirnya membawa kita di titik tertentu dengan ikhlas. Bahwa, kita melewati, bisa melewati suatu tahapan, suatu jalan kehidupan, itu juga pencapaian. Melihat aku yang sekarang ini masih bisa nulis curhatan 1000 kata, masih bisa scrolling Twitter, masih bisa melihat ortu walau mungkin belum memenuhi ekspektasi nya, masih bisa ngelus kucing kesayangan, masih bisa ngobrol sama temen-temen, dan masih bisa bertahan terus semangatnya sampai di penghujung tahun, buatku udah pencapaian besar, banget.

Yap, di tahun ini, kalo emang pencapaian dilihat sebagai ‘telah mencapai sesuatu’, oke, aku juga udah memiliki pencapaian, yaitu telah mencapai titik di mana aku bisa enjoy and even when I no longer knew why, I walked forward always trying to not lose my head. Aku juga menyadari hal yang penting banget di tahun ini. Orang tua dan keluarga.  Kadang, di titik terendah di saat kita gatau mau apa dan gaada motivasi buat ngapa-ngapain atau justru kehilangan semua motivasi itu, individu lupa bahwa mereka masih punya support system yang selalu ada di sekitar mereka. Dalam case aku adalah keluarga, utamanya orang tua. Oke, ekspektasi orang emang kadang bikin kita bingung, bahkan kalimat yang jelas baik kaya “Semoga dapet nilai A” “Semoga lolos” bingung juga mau ditanggepin gimana, mau Aamiin tapi kok ekspektasinya ketinggian, mau ga Aamiin kok nolak doa baik. Di balik semua itu, doa-doa dan kehadiran mereka aja udah jadi semangat buat tetep berani melangkah.

I’ve done well and we've all done well this year.

Semoga kita adalah jawaban dari doa-doa baik kedua orang tua kita.

Berdiri di sini, di daerah ini, kulihat Gamal berada di setiap batas tepi. Tak kuketahui pasti siapa yang menanamnya di sana, tetapi ia telah ada semenjak pertama kali kumenyadari keberadaanku di bumi ini. Mereka bilang adanya Gamal membuat segala yang kujalani menjadi aman terkendali. “Aman terkendali, apakah makhluk di luar sana sebegitu ganasnya?”, pertanyaanku pada mereka. Jawaban yang dilontarkan kurasa tak menjawab pertanyaanku, “Memang kamu seharusnya di sini, bukan di luar sana.” Apakah Tuhan memberiku identitas tentang ‘seharusnya di sini’? Aneh.

Keinginanku untuk mencari tahu membawaku mencari celah di antara para Gamal itu. “Tak ada yang beda”, kataku dalam hati. Pun, aku tak menemukan sesuatu yang membuatku merasa ‘seharusnya di sana’. Berselang 10 menit, kurasa aku harus menarik perkataanku tadi, perang ada dimana-mana. Sungguh, tapi  apakah perang seperti ini hanya terjadi pada kaumku? Jantungku terasa sedang berlari di tempat, perkataan dan perbuatan itu, “Terbungkus sekali, harusnya dirimu kubungkus dengan hal lain, Mbak.”, tak tahu aku harus bagaimana. Kucoba untuk mengalihkan pandangan, justru kedua mata ini melihat perang lain. Di sini tak ada Gamal yang memberi batas tepi, tetapi kenapa semua seolah tak ada yang memberi kebebasan pasti?

Berlari, terus berlari ke dalam kawasan Gamal tempatku berasal. Semua melebarkan sudut matanya, amarah keluar dari masing-masing mereka. “Kau sudah kuberi tahu, tak seharusnya kau di sana.” Kenapa tak ada rasa khawatir yang diberikan padaku, kenapa justru omelan itu? “Apakah tak ada kebebasan untukku melakukan hal yang kumau?”, tanyaku. Mereka menjawab bahwa aku bebas melakukan apa yang kumau asal tak keluar dari batas Gamal itu, bahwa inilah ruang amanku. Aneh, sungguh mengekang.

Bukankah manusia harusnya memperlakukan manusia lain seperti ‘selayaknya manusia’? Bukankah tanpa Gamal pun, harusnya seluruh bumi tempat kaki dipijakkan ini adalah ruang aman bagi manusia, bagi kaumku, bagi perempuan? Konsep aneh, mengapa ruang aman harus membatasi dan mengekang. Harusnya ‘Gamal’ itu berada pada pilihanku, bukan standar yang mereka tetapkan sebagai ‘seharusnya’. Harusnya kesadaran memperlakukan ‘selayaknya manusia’ kokoh menetap pada diri semua manusia. Namun, apakah seharusnya aku mengganti nama menjadi ‘Gamala’? Agar batasan ruang aman tempatku melakukan hal yang kumau adalah pilihanku sendiri?


Tulisan ini juga termuat dalam virtual exhibition Aksara Bersuara Girl Up Universitas Gadjah Mada: Menciptakan Ruang Aman bagi Korban Kekerasan Seksual melalui Aksara

Newer Posts Older Posts Home

Categories

  • Thoughts 16
  • Lintas 14
  • Landing 8
  • Movie 7
  • Storiette 7
  • HoW? 4
  • Women 4
  • Food 1
  • Health 1

Popular Posts

  • Dancing on the Fate
  • Manusia Favorit Semesta
  • Sisaan Kesia-siaan

Archive

  • ►  2021 (18)
    • May 2021 (3)
    • Jun 2021 (2)
    • Jul 2021 (3)
    • Aug 2021 (2)
    • Sep 2021 (2)
    • Oct 2021 (2)
    • Nov 2021 (3)
    • Dec 2021 (1)
  • ►  2022 (15)
    • Jan 2022 (5)
    • Feb 2022 (5)
    • Mar 2022 (2)
    • May 2022 (1)
    • Jul 2022 (1)
    • Dec 2022 (1)
  • ►  2023 (1)
    • Jan 2023 (1)
  • ►  2024 (1)
    • Nov 2024 (1)
  • ►  2025 (1)
    • Jun 2025 (1)
  • ▼  2026 (15)
    • May 2026 (7)
    • Jun 2026 (3)
    • Jul 2026 (4)
    • Aug 2026 (1)
Powered by Blogger

Copyright © Stood and Stand. Designed by OddThemes